Kinerja APBD Jawa Tengah tetap terjaga di tengah tekanan ekonomi global, ruang fiskal yang sempit, dan dinamika geopolitik internasional. Kondisi itu dinilai ikut menjaga laju pembangunan daerah dan membantu pertumbuhan ekonomi tetap bergerak.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut pengelolaan anggaran yang cermat menjadi alasan utama APBD masih solid. Ia menegaskan setiap rupiah belanja daerah harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Belanja diarahkan ke sektor yang paling berdampak
Luthfi menjelaskan, kapasitas APBD untuk membiayai pembangunan daerah hanya sekitar 15 persen. Karena itu, pemerintah daerah tidak bisa bergantung penuh pada APBD dan perlu mengoptimalkan sumber pendanaan lain, termasuk investasi.
Arah belanja difokuskan pada infrastruktur dasar, mulai dari jalan hingga fasilitas penunjang yang dapat membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru. Anggaran juga dipakai untuk memperkuat ketahanan pangan melalui infrastruktur pertanian dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar siap masuk dunia kerja.
Menurut Luthfi, disiplin dalam mengelola anggaran menjadi kunci agar program prioritas tetap berjalan meski ruang fiskal terbatas. Dengan pola seperti itu, pembangunan daerah disebut tidak mudah tersendat.
Dampaknya terasa pada pertumbuhan dan investasi
Pengelolaan anggaran yang efektif ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mencapai 5,89 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Di sisi lain, realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp110,02 triliun dan pada triwulan pertama 2026 sudah menembus sekitar Rp23 triliun.
Arus investasi itu berdampak langsung ke kesejahteraan masyarakat. Tingkat kemiskinan turun dari 9,58 persen menjadi 9,38 persen, sementara penyerapan tenaga kerja pada triwulan I 2026 mencapai sekitar 92 ribu orang.
Luthfi menilai dominasi investasi di sektor padat karya ikut memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai tujuan investasi. Minat itu datang dari investor nasional maupun mancanegara.
| Indikator | Capaian | Keterangan |
|---|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah | 5,89 persen | Lebih tinggi dari rata-rata nasional |
| Realisasi investasi 2025 | Rp110,02 triliun | Menjadi penopang aktivitas ekonomi daerah |
| Realisasi investasi triwulan I 2026 | Sekitar Rp23 triliun | Menunjukkan arus modal masih kuat |
| Tingkat kemiskinan | Turun dari 9,58 persen menjadi 9,38 persen | Sejalan dengan masuknya investasi |
| Penyerapan tenaga kerja triwulan I 2026 | Sekitar 92 ribu orang | Didorong investasi sektor padat karya |
Apresiasi fiskal dari Kementerian Keuangan
Purbaya Yudhi Sadewa mengapresiasi kinerja fiskal Jawa Tengah yang tetap positif pada Semester I 2026. Pendapatan daerah tercatat terealisasi 46,56 persen dari target dan tumbuh 13,33 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Realisasi belanja negara juga mencapai 52,06 persen dari target yang ditetapkan. Purbaya menilai capaian itu menunjukkan APBN masih memegang peran penting dalam mendukung pembangunan daerah dan menjaga kualitas pelayanan publik.
Ia juga mengapresiasi sinergi jajaran Kementerian Keuangan di daerah yang dinilai mampu mengawal pelaksanaan APBN secara optimal. Meski begitu, pemerintah daerah tetap didorong mempercepat dan meningkatkan kualitas belanja APBD agar manfaatnya makin terasa bagi masyarakat.
Kolaborasi jadi penopang pengawasan pembangunan
Luthfi menambahkan, capaian Jawa Tengah tidak lepas dari kerja sama dengan berbagai pihak. Kolaborasi itu melibatkan Bank Indonesia, perbankan, dunia usaha melalui program CSR, para pengusaha, hingga perguruan tinggi.
Ia juga mengajak masyarakat dan media massa ikut mengawal pembangunan melalui kritik yang membangun. Namun, ia mengingatkan agar ruang publik tidak dipenuhi hoaks, disinformasi, dan fitnah yang dapat memicu perpecahan.
“Pejabat harus siap menerima kritik yang membangun. Tetapi jangan sampai ruang publik dipenuhi hoaks, disinformasi, atau fitnah yang justru merusak persatuan,” tegas Luthfi.
Source: kabarjateng.id






