April Menggeliat Tajam, Ekspor Jawa Tengah Tembus 1,37 Miliar Dolar AS

Kinerja ekspor Jawa Tengah memulai 2026 dengan langkah yang kuat. Dalam empat bulan pertama, nilainya sudah menembus 4,56 miliar dolar AS, dan motor utamanya masih datang dari industri pengolahan.

Lonjakan itu terlihat bukan hanya pada akumulasi Januari-April, tetapi juga pada capaian April yang bergerak jauh lebih tinggi dibandingkan April tahun lalu. Pola ini menunjukkan bahwa perdagangan luar negeri Jawa Tengah masih mengandalkan sektor olahan untuk menjaga laju ekspor.

Industri pengolahan tetap jadi penopang utama

Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah Ali Said menyampaikan total ekspor kumulatif Januari-April 2026 mencapai 4.567,32 dolar AS. Dari jumlah itu, sektor industri pengolahan naik 16,39 persen dan tetap menjadi penyumbang terbesar bagi ekspor daerah.

Komposisi ini memperlihatkan bahwa struktur ekspor Jawa Tengah masih sangat bertumpu pada produk olahan industri. Di saat yang sama, pasar tujuan ekspor juga masih terkonsentrasi pada negara-negara dengan permintaan besar.

Menurut Ali, pasar utama ekspor Jawa Tengah pada periode tersebut adalah Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Belanda, dan Korea Selatan. Kelima pasar itu menjadi tujuan penting yang ikut menopang kinerja ekspor daerah.

April memberi dorongan tambahan

Pada level bulanan, April 2026 menjadi bulan yang sangat kuat bagi ekspor Jawa Tengah. Nilainya mencapai 1.375,70 juta dolar AS, naik 65,73 persen dibandingkan April 2025.

Ekspor nonmigas pada bulan yang sama juga ikut menanjak. BPS mencatat nilainya sebesar 1.273,79 juta dolar AS, atau tumbuh 58,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penguatan di April penting karena memberi dorongan besar bagi akumulasi empat bulan pertama. Artinya, aktivitas perdagangan luar negeri Jawa Tengah masih bergerak agresif sejak awal tahun.

Harga bergerak, inflasi masih terkendali

Di sisi lain, kondisi harga di Jawa Tengah tetap menunjukkan pergerakan yang terjaga. Pada Mei 2026, inflasi bulanan tercatat 0,23 persen setelah pada April 2026 terjadi deflasi 0,03 persen.

Ali menyebut inflasi year-on-year Jawa Tengah berada di level 2,85 persen. Sementara inflasi year-to-date atau inflasi tahun kalender tercatat 1,19 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi Mei 2026 dengan andil 0,07 persen. Kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura akibat faktor cuaca menjadi pemicunya.

Lima komoditas dengan andil inflasi terbesar adalah cabai merah 0,06 persen, bawang merah 0,05 persen, cabai rawit 0,05 persen, telepon seluler 0,04 persen, dan minyak goreng 0,03 persen.

Petani ikut merasakan penguatan

Sektor pertanian juga mencatat pergerakan positif. Nilai tukar petani Jawa Tengah pada Mei 2026 naik menjadi 117,39, atau meningkat 2,16 persen dibandingkan April 2026 yang berada di level 114,90.

Kenaikan itu didorong oleh Indeks Harga yang Diterima Petani yang naik 2,58 persen menjadi 152,85. Sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani naik lebih kecil, yakni 0,41 persen menjadi 130,21.

Komoditas yang paling besar memberi andil pada kenaikan harga yang diterima petani antara lain gabah, bawang merah, jagung, cabai rawit, dan sapi potong. Adapun pada kelompok harga yang dibayar petani, komoditas yang berpengaruh antara lain bawang merah, bakalan sapi, cabai merah, sawi hijau, dan cabai rawit.

Ali menyebut Jawa Tengah menjadi salah satu provinsi di Pulau Jawa yang mengalami kenaikan NTP bersama Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi ini menambah sinyal bahwa aktivitas ekonomi daerah masih bergerak dari sisi perdagangan, pertanian, dan konsumsi.

Pariwisata dan mobilitas domestik ikut aktif

Sektor pariwisata juga menunjukkan geliat. Hingga April 2026, kunjungan wisatawan mancanegara ke Jawa Tengah mencapai 2.671 orang.

Sebanyak 2.616 wisatawan masuk melalui Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang dan 55 wisatawan melalui Bandara Adi Soemarmo Solo. Jumlah wisman pada April 2026 naik 25,46 persen dibandingkan Maret 2026, dan melonjak 399,25 persen dibandingkan April 2025.

Kunjungan itu didominasi wisatawan dari Tiongkok, Malaysia, Singapura, India, dan Thailand. Di sisi lain, perjalanan wisatawan nusantara ke Jawa Tengah pada Januari-April 2026 mencapai 56,49 juta perjalanan.

Angka tersebut tumbuh 2,90 persen dibandingkan periode yang sama 2025. Data ini menunjukkan aktivitas domestik di Jawa Tengah masih terjaga kuat, seiring ekspor yang terus menanjak dan sektor-sektor lain yang tetap bergerak.

Source: indoraya.news

Berita Terkait