Argentina Dibayangi Kutukan Juara Bertahan, Messi Masuk Panggung Terakhir

Author: Redaksi Android62

Argentina datang ke Piala Dunia 2026 dengan beban yang tidak ringan. Status juara bertahan justru menempatkan tim asuhan Lionel Scaloni di jalur yang sejak lama kerap menjatuhkan para penguasa turnamen.

Dalam sejarah Piala Dunia, hanya Italia pada 1938 dan Brasil pada 1962 yang mampu mempertahankan trofi Jules Rimet. Dua keberhasilan itu pun terjadi di kawasan sendiri, sehingga tantangan juara bertahan di panggung global tetap jauh lebih berat.

Sejak saat itu, pola kegagalan terus berulang. Spanyol tersingkir di fase grup pada 2014 setelah juara pada 2010, Italia tak pernah menang di fase grup pada 2010 usai mengangkat trofi 2006, Jerman pulang sebagai juru kunci di Rusia 2018, dan Prancis gagal mengulang gelar setelah kalah dari Argentina di final Qatar.

Argentina Masuk Era Baru Tanpa Melepas Warisan Lama

Beban sejarah itu bertemu dengan situasi internal yang tidak sepenuhnya ideal. Scaloni sempat dikabarkan ingin mundur pada November 2023 karena target yang dinilai terlalu tinggi, sebelum akhirnya bertahan setelah dibujuk sejumlah pihak.

Di lapangan, masalah disiplin dan kedewasaan skuad juga pernah menjadi perhatian. Scaloni harus menghadapi sikap sejumlah pemain senior dalam pemusatan latihan jelang laga melawan Uruguay di kualifikasi Piala Dunia 2026, yang berujung pada kekalahan 0-2 di kandang.

Meski begitu, Argentina tetap menutup kualifikasi zona Amerika Selatan sebagai juara grup. Mereka mengoleksi 38 poin dari 18 laga, hasil 12 kemenangan dan 2 imbang, meski dominasi itu turut dipengaruhi menurunnya kualitas Brasil, Chile, dan Uruguay.

Uji Coba Minim, Federasi Juga Tidak Tenang

Persiapan menuju Amerika Utara juga tidak berjalan mulus di luar laga resmi. Argentina nyaris tak mendapat lawan sepadan dalam uji coba selama setahun terakhir, padahal pertandingan melawan tim besar sangat dibutuhkan untuk mematangkan skuad.

Agenda yang paling dinanti pun batal terlaksana. Laga melawan Spanyol di Finalissima 2026 tidak jadi digelar karena perang di Timur Tengah, sehingga Argentina kehilangan satu kesempatan uji tanding bernilai tinggi.

Di level federasi, situasi ikut terganggu oleh skandal. AFA tengah diterpa dugaan korupsi dan pencucian uang yang melibatkan Claudio Tapia, dan kondisi tersebut menambah beban kerja Scaloni.

Masalah kebugaran juga belum benar-benar reda. Christian Romero, Gonzalo Montiel, dan Nahuel Molina masih dalam pemulihan cedera, sementara Emiliano Martinez mengalami cedera jari tangan.

Martinez tetap menjadi figur penting di bawah mistar. Kiper Aston Villa itu mengalami patah jari saat membela klubnya pada final Liga Europa 2026, namun tetap tampil dan membantu Villa menang 3-0 atas Freiburg dengan dua penyelamatan.

Argentina sangat membutuhkan Martinez di Amerika. Dari tujuh final yang ia jalani bersama klub dan tim nasional, ia selalu keluar sebagai juara, termasuk di Copa America 2021 dan 2024.

Kabar baiknya, Martinez disebut tidak perlu operasi dan hanya membutuhkan istirahat 20 hari. Situasi itu membuka peluang baginya tampil saat Argentina memulai Grup J melawan Aljazair pada 16 Juni mendatang.

Messi Tetap Sentral, Tetapi Panggungnya Berbeda

Scaloni masih mempertahankan sebagian besar pemain yang menjuarai Qatar, termasuk Lionel Messi yang kini berusia 38 tahun. Messi tengah mengejar sejarah sebagai pemain pertama yang tampil di enam edisi Piala Dunia, sekaligus pemegang rekor 26 pertandingan Piala Dunia.

Perannya tetap sentral, tetapi konteksnya berubah. Jika pada 2022 ia menjadi inspirasi utama lewat gol, visi, dan kedewasaan bermain, kini Messi berada di fase akhir karier yang menuntut pengelolaan menit bermain dan motivasi secara lebih hati-hati.

Di ruang ganti, pengaruhnya masih belum tergantikan. Namun, di lapangan, sebagian tugasnya mulai dibagi kepada pemain muda seperti Nico Paz, playmaker Como yang mampu bergerak di banyak area sepertiga akhir dan mencatat 12 gol serta 6 asis di Liga Italia musim 2025-2026.

Masalahnya, Paz juga sedang cedera. Situasi itu membuat opsi Argentina di lini tengah dan lini depan terlihat tidak sekuat saat menjuarai Qatar, terlebih Enzo Fernandez dan Alexis Mac Allister belum konsisten bersama klub masing-masing.

Rodrigo De Paul juga mulai menua, begitu pula Nicolás Otamendi yang kini berusia 38 tahun. Karena itu, target yang paling realistis bagi Argentina di Piala Dunia 2026 disebut perempat final, di tengah transisi generasi yang mulai tak terhindarkan.

Dengan warisan juara, skuad yang menua, pemain kunci yang cedera, dan sejarah yang tidak ramah kepada sang juara bertahan, Argentina memasuki turnamen dengan tantangan yang lebih besar daripada sekadar mempertahankan gelar. Di saat yang sama, Piala Dunia 2026 juga bisa menjadi panggung penentu bagi Messi untuk menutup babak terakhirnya dengan cara yang paling bersejarah.

Source: www.kompas.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru