Arkane Bela Loading Screen, Nostalgia Lama yang Kini Mulai Hilang

Author: Redaksi Android62

Di tengah arus game modern yang berusaha menghapus jeda, Harvey Smith justru membela layar loading sebagai bagian penting dari pengalaman bermain. Menurutnya, perpindahan antararea yang disertai tips, seni, dan catatan kecil dunia game masih punya nilai yang sulit digantikan.

Pernyataan itu muncul saat Raphaël Colantonio menyiarkan ulang Dishonored bersama beberapa mantan anggota tim Arkane. Momen tersebut berlangsung ketika mereka membahas level Lady Boyle’s Last Party, termasuk banyaknya loading di antara jalanan luar mansion, area luar mansion, dan foyer.

Layar loading yang dianggap kuno

Smith menilai bahwa jeda di antara satu area dan area berikutnya bisa memberi rasa tersendiri. Ia menyebut momen itu seperti penanda bahwa satu bagian telah selesai dan pemain sedang memasuki ruang baru yang masih bersih.

“Orang-orang menganggap menghapus loading screen itu sebuah peningkatan,” kata Smith. “Tapi jujur, saya pikir jeda antara satu area dan area berikutnya, saat terasa seperti, ‘Oke, itu sudah di belakang, saya berada di area baru yang masih bersih,’ lalu ada tips yang jadi bagian dari world-building, seni, dan catatan kecil dalam dunia game, saya sebenarnya punya kelemahan khusus untuk semua itu.”

Colantonio ikut menguatkan pandangan itu dengan mengatakan bahwa ada sesuatu di sana yang memang terasa benar. Obrolan tersebut memperlihatkan bahwa bagi sebagian kreator Arkane, layar loading bukan sekadar gangguan teknis, melainkan elemen ritme dan atmosfer.

Nostalgia yang lahir dari siaran ulang

Sesi siaran ulang itu juga membuka kembali banyak cerita lama dari masa Arkane. Colantonio menyebut bahwa studio tersebut sempat ditunjuk untuk mengerjakan Thief 4 dan Blade Runner sebelum akhirnya mendapatkan Dishonored.

Dalam sesi yang sama, Colantonio beberapa kali meminta maaf karena sudah lama tidak memainkan game itu, bahkan sejak sebelum rilis 14 tahun lalu. Karena sambil berbicara ia juga menggunakan controller, permainan yang berlangsung pun dipenuhi kekacauan dan beberapa kali ia keluar mendadak.

Ide lama yang berubah bentuk

Obrolan mereka tidak berhenti pada desain presentasi. Smith juga menyinggung ide awal yang pernah dipertimbangkan untuk Dishonored, yakni Daud memotong tangan Corvo yang memberinya Blink, lalu tangan itu harus diambil kembali.

Smith mengatakan ia menyukai gagasan tentang tangan bertanda Outsider itu, baik jika pemain harus memainkannya terlebih dahulu untuk mendapatkannya kembali ke Corvo maupun jika harus pergi mencarinya. Ia menjelaskan bahwa ide tersebut akhirnya dipakai lagi dalam bentuk lain ketika sebuah karakter di Dishonored 2 memperoleh kekuatan melalui tangan mumi bertanda Outsider.

Setelah menyelesaikan bagian Lady Boyle’s Last Party, Colantonio dan timnya masih menyisakan empat level lagi untuk dimainkan. Ada juga kemungkinan mereka melanjutkan ke ekspansi Knife of Dunwall dan Brigmore Witches, yang disebut sebagai bagian favorit dari seluruh seri Dishonored.

Bagi Arkane, momen ini memperlihatkan dua hal yang sama-sama penting: kenangan terhadap desain level lama dan pembelaan terhadap elemen presentasi yang kerap dianggap usang. Dari sudut pandang Smith, layar loading masih bisa menjadi bagian dari dunia game yang hidup, bukan semata penghalang di antara satu sesi dan sesi berikutnya.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru