Yield Stablecoin Memecah Bank dan Bursa Kripto, JPMorgan Disorot di Tengah Clarity Act

Author: Redaksi Android62

Perdebatan soal klausul yield stablecoin di RUU Digital Asset Market Clarity Act of 2025 kini berubah menjadi perebutan pengaruh antara bank besar dan bursa kripto. Klausul itu akan memungkinkan bursa kripto menawarkan stablecoin yield kepada pengguna, dan titik inilah yang memicu penolakan paling keras dari JPMorgan serta kelompok perbankan.

American Bankers Association dan Bank Policy Institute lebih dulu menyatakan keberatan mereka secara terbuka. Keduanya menilai stablecoin yang memberi imbal hasil dapat berfungsi sebagai pengganti deposito dan menarik tabungan rumah tangga keluar dari sistem perbankan.

Risiko yang dipersoalkan bank

Kalangan perbankan juga mengaitkan penolakan itu dengan kemampuan kredit. Jika dana berpindah dari deposito ke stablecoin, mereka menilai kapasitas intermediasi kredit bisa tertekan, sebuah isu yang kerap dianggap sistemik oleh regulator dan bank komunitas.

Namun, sebuah laporan White House Council of Economic Advisers yang terbit pada April 2026 memberi gambaran berbeda. Laporan itu menyimpulkan bahwa penghapusan stablecoin yield sepenuhnya hanya akan menaikkan pinjaman bank sebesar $2.1 miliar, atau 0.02% dari total pasokan kredit.

Analisis yang sama memperkirakan biaya kesejahteraan bersih bagi konsumen mencapai $800 juta. Laporan itu juga menyebut bank besar akan menyerap 76% dari tambahan pinjaman bila yield stablecoin dilarang, sedangkan bank komunitas memperoleh 24% sisanya.

Dimon, Garlinghouse, dan perebutan narasi

Jamie Dimon berulang kali menolak klausul yield stablecoin di ruang publik. Dalam wawancara dengan Maria Bartiromo di Fox Business, ia kembali mengkritik dorongan itu dan menilai Clarity Act justru mengurangi perlindungan kepatuhan serta mempermudah aktivitas ilegal.

Sebelumnya, pada penampilan lain di bulan Mei, Dimon menyebut Brian Armstrong sebagai satu-satunya pihak yang mendorong masuknya yield stablecoin. Ia juga menuduh Coinbase menghabiskan “ratusan juta dolar di Washington” untuk upaya tersebut.

Brad Garlinghouse kemudian membalas dengan tuduhan yang lebih tajam. Ia menuding Dimon sengaja salah menggambarkan Clarity Act untuk melindungi bisnis pembayaran JPMorgan Chase.

Besar taruhannya bagi JPMorgan

Garlinghouse menyoroti bahwa bisnis pembayaran JPMorgan Chase menghasilkan sekitar $20 miliar pendapatan tahunan, dengan laba yang diperkirakan melampaui $5 miliar. Menurutnya, angka itu menunjukkan bahwa perdebatan soal stablecoin yield bukan sekadar urusan kepatuhan, melainkan juga perebutan pasar pembayaran dolar digital.

JPMorgan sendiri tidak memecah pendapatan pembayaran sebagai lini publik terpisah, sehingga angka tersebut tidak bisa diverifikasi secara presisi dari laporan perusahaan. Meski begitu, perkiraan itu dinilai sejalan dengan aktivitas pembayaran wholesale dan consumer yang diungkap perusahaan.

Sejumlah analis yang mengikuti sektor ini juga menganggap pendekatan itu masuk akal untuk menggambarkan besarnya franchise yang dipertaruhkan. Di sisi lain, pasar prediksi ikut menangkap ketidakpastian politik dari perpecahan ini.

Pengguna Polymarket saat ini memberi peluang 49% bahwa Clarity Act akan ditandatangani menjadi undang-undang tahun ini, turun sekitar 18 poin persentase dari pekan sebelumnya. Angka itu memperlihatkan bahwa pertarungan atas yield stablecoin belum hanya terjadi di Washington, tetapi juga sudah memengaruhi ekspektasi pasar.

Pada akhirnya, sengketa ini memperlihatkan siapa yang akan menguasai aliran uang digital dolar berikutnya. Pilihannya mengerucut pada dua kekuatan besar: bank tradisional yang ingin mempertahankan deposito, atau bursa kripto yang ingin memberi imbal hasil kepada pengguna.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru