PBB menilai penahanan aktivis Global Sumud Flotilla oleh Israel di perairan internasional tidak bisa dipandang ringan. Insiden itu disebut melanggar hukum internasional dan berisiko memperparah keadaan kemanusiaan di Jalur Gaza yang sudah rapuh.
Sorotan utama PBB tertuju pada keselamatan ratusan relawan lintas negara yang ikut dalam armada kemanusiaan tersebut. Seluruh orang di atas kapal diminta mendapatkan perlindungan penuh setelah operasi penahanan yang dilakukan Israel.
Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengatakan keselamatan semua orang di kapal menjadi perhatian utama. Ia menegaskan bahwa para relawan harus dipastikan aman setelah penahanan paksa itu.
Dujarric juga mengingatkan bahwa hukum internasional di laut lepas wajib dihormati semua pihak. Menurut dia, pencegatan bersenjata terhadap kapal sipil di wilayah tersebut menyangkut kebebasan navigasi dan perlindungan misi kemanusiaan.
Kecaman terhadap tindakan Israel pun muncul karena operasi itu dinilai tidak sejalan dengan prinsip hukum internasional. PBB menilai insiden tersebut tidak hanya menyangkut nasib para aktivis, tetapi juga bisa menambah penderitaan warga sipil di Gaza.
Saat ditanya mengenai sikap resmi Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Dujarric mengatakan peninjauan masih berlangsung. Namun ia memberi sinyal bahwa operasi Israel di perairan internasional tampak belum sepenuhnya mematuhi aturan yang berlaku.
Dujarric menyampaikan, “Hal tersebut tampaknya tidak dilakukan dengan mengindahkan hukum internasional secara penuh.” Pernyataan itu memperkuat kritik PBB terhadap penangkapan armada kemanusiaan tersebut.
Di saat yang sama, PBB kembali mendesak Israel menghentikan pembatasan terhadap penyaluran bantuan ke Gaza. Jalur darat disebut sebagai cara paling efektif untuk mempercepat masuknya bantuan kemanusiaan bagi warga sipil.
PBB menilai pengiriman bantuan akan jauh lebih lancar bila hambatan dan batasan yang masih menghalangi distribusi dihapus. Kondisi di Gaza disebut sudah sangat mendesak sehingga tidak bisa menunggu lebih lama.
Selain soal armada bantuan, PBB juga menyoroti pemburukan situasi dasar di Gaza. Kelangkaan suku cadang generator listrik, stasiun pompa air bersih, dan kebutuhan pokok lain terus menekan warga.
Blokade yang berlangsung lama turut memicu penumpukan sampah, keterbatasan air bersih, dan minimnya material untuk membangun kembali fasilitas sipil yang rusak. Semua itu membuat pemulihan di Gaza semakin berat dilakukan.
Insiden penyerbuan Global Sumud Flotilla terjadi di tengah kebuntuan diplomasi dan meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel. PBB tetap mendorong agar jalur bantuan kemanusiaan dibuka lebih luas demi meredakan krisis yang dialami warga Gaza.
Source: www.suara.com






