Arsari Tambang sudah lebih dulu menancapkan langkah hilirisasi di Batam lewat PT Solder Tin Andalan Indonesia atau Stania. Dari fasilitas itu, perusahaan kini fokus mengembangkan solder paste untuk memasok kebutuhan industri semikonduktor global.
Langkah berikutnya diarahkan ke Bangka, dengan rencana membangun pusat riset dan pengembangan logam tanah jarang. Fasilitas ini disiapkan untuk mengolah produk sampingan timah menjadi material bernilai tinggi yang dibutuhkan industri teknologi.
Di Bangka, perhatian perusahaan tertuju pada unsur seperti neodymium dan dysprosium yang terkandung dalam timah. Direktur Utama PT Arsari Tambang Aryo Djojohadikusumo menilai potensi pemanfaatannya masih sangat besar untuk kebutuhan teknologi tinggi di masa depan.
Aryo menyebut investasi riset menjadi sangat penting karena Indonesia belum memiliki pusat riset timah yang benar-benar dimanfaatkan secara optimal selama lebih dari satu abad operasi industri tersebut. Bagi Arsari Tambang, riset bukan pekerjaan tambahan, melainkan bagian inti untuk mengubah sumber daya alam menjadi produk industri yang lebih bernilai.
Dalam forum MetConnex 2026, Aryo juga menegaskan bahwa unsur tanah jarang seperti neodymium dan dysprosium merupakan produk sampingan dari timah. Ia melihat peluang penggunaannya masih terbuka lebar, terutama karena kebutuhan teknologi tinggi terus berkembang.
Perusahaan tidak hanya menyiapkan konsep pengembangan, tetapi juga fasilitas fisik yang akan menjadi basis teknologi mineral di wilayah itu. Arah ini membuat Bangka diposisikan sebagai lokasi penting dalam perebutan nilai tambah timah, bukan sekadar tempat produksi bahan mentah.
Arsari Tambang juga membuka peluang kerja sama dengan PT Timah (Persero) Tbk atau TINS. Aryo berharap pusat riset tersebut bisa dikelola bersama, sehingga ekosistem riset pertambangan menjadi lebih kuat.
Kolaborasi itu dinilai dapat mendukung investasi pada teknologi baru, termasuk untuk kebutuhan solder dan semikonduktor. Dua industri itu dianggap akan terus membesar, sehingga pengembangan turunan timah menjadi semakin strategis.
Di luar rencana Bangka dan Batam, perusahaan juga memantau peluang ekspansi internasional di Afrika. Arsari Tambang sedang melihat tiga negara untuk mencari konsesi timah baru dan menargetkan pengumuman akuisisi dalam satu atau dua tahun ke depan.
Aryo belum menyebut negara yang sedang dikaji, tetapi menegaskan perusahaan memang mencari aset tambang baru untuk memperluas portofolio bisnis. Pada saat yang sama, perusahaan menyiapkan diversifikasi ke sektor pelapisan timah dan kimia timah dalam satu hingga dua tahun mendatang.
Aryo bahkan membuka kemungkinan kemitraan dengan perusahaan lain, termasuk PT Smelting milik PT Freeport Indonesia, untuk pengembangan proyek bahan kimia timah. Arah bisnis ini menunjukkan bahwa Arsari Tambang bergerak lebih jauh dari penambangan timah menuju riset, hilirisasi, dan produk turunan yang makin dekat dengan kebutuhan industri semikonduktor dan material teknis.







