Dari Tas Anak ke Bumbu Aceh, ShanJay Cook Naik Kelas Lewat Binaan BRI

Omzet ShanJay Cook kini berada di kisaran Rp 15 juta per bulan setelah usaha bumbu masakan instan khas Aceh itu masuk ke jaringan toko ritel dan layanan katering. Perjalanan ini berawal dari usaha rumahan yang sempat bertumpu pada sistem pre-order dan penjualan lewat lingkaran terdekat.

Perubahan besar itu terjadi setelah Jo Viviani Sanita, yang akrab disapa Vivi, bergabung sebagai mitra binaan Rumah BUMN BRI pada 2025. Dari pendampingan tersebut, usaha yang semula dijalankan dari rumah mulai bergerak ke skala produksi yang lebih besar dan lebih siap dipasarkan.

Berawal dari usaha yang merosot saat pandemi

Sebelum masuk ke bisnis kuliner, Vivi sempat berjualan tas anak. Usaha itu ikut terpukul ketika pandemi COVID-19 membuat sekolah libur dan aktivitas anak-anak berhenti, sehingga pasar utamanya melemah.

Dari situ, Vivi mencari bidang usaha yang pasarnya lebih luas. Pilihan itu juga dipengaruhi kecintaan suaminya terhadap masakan khas Aceh dari Kota Sigli, Provinsi Aceh.

Belajar bumbu Aceh dari dapur keluarga

Pada tahap awal, Vivi dan keluarga mengandalkan kiriman bumbu instan dari Aceh. Rasa penasaran mendorong mereka datang ke rumah saudara untuk belajar langsung meracik bumbu Aceh yang asli.

Meski tidak gemar memasak, Vivi terus mencoba sampai mampu menyusun resep sendiri. Dari proses itu lahir menu seperti Mie Goreng Aceh, Mie Gulai Aceh, dan Mie Kocok Aceh.

Nama ShanJay sendiri diambil dari gabungan nama dua anak Vivi, Shania dan Jayson, yang kemudian menjadi identitas utama usaha rumahan tersebut.

Berubah dari pre-order ke produk siap kirim

Pemasaran awal ShanJay Cook berjalan lewat grup WhatsApp, keluarga, saudara, dan grup orang tua sekolah. Pada 2021, Vivi mulai membuka sistem pre-order untuk menjangkau pembeli yang lebih luas di lingkungan terdekat.

Saat pandemi mulai mereda dan suaminya kembali sibuk bekerja, Vivi menghadapi tantangan baru dalam menjaga ritme usaha. Ia lalu mengubah produk agar lebih praktis dengan mengemas bumbu instan siap masak.

Pada fase awal, produk harus disimpan di kulkas dan freezer agar tidak cepat rusak. Untuk pengiriman ke luar kota, produk bahkan perlu dibekukan lebih dulu.

Belakangan, Vivi mengadopsi teknologi sterilisasi retort pada kemasan. Teknologi ini membuat produk bumbunya mampu bertahan hingga satu tahun tanpa bahan pengawet karena bakteri perusak dapat dimatikan.

Pendampingan BRI dorong branding dan promosi digital

Langkah akselerasi usaha datang saat Vivi terhubung dengan Rumah BUMN BRI. Ia mengikuti berbagai pelatihan intensif, terutama pada topik branding, yang membantunya membenahi tampilan dan arah promosi usaha.

Vivi juga memanfaatkan pelatihan untuk mengenal penggunaan artificial intelligence atau AI. Teknologi itu ia pakai untuk promosi digital dan pembuatan konten media sosial.

Pendampingan tersebut ikut mengubah pola penjualan ShanJay Cook. Dari sistem pre-order, usaha ini bergeser ke produksi skala besar yang siap kirim dan mulai masuk ke rak supermarket lokal lewat skema konsinyasi.

Masuk supermarket dan bidik pasar lebih luas

Salah satu lokasi yang dicoba adalah supermarket dekat rumah di kawasan Pasar Laris. Menurut Vivi, warga perumahan di sekitar area itu cenderung mencari bumbu instan yang praktis dan cocok dengan produknya.

Strategi promosi lewat story WhatsApp juga membantu mengangkat penjualan. Vivi menyebut cara itu cepat menjangkau pelanggan baru karena orang yang semula tidak tahu produknya bisa langsung tertarik setelah melihat promosi.

ShanJay menyediakan dua ukuran produk untuk konsumen. Kemasan kecil dijual Rp 30.000 dan ukuran besar Rp 40.000, sementara di Pasar Laris Taman Surya harganya berada di kisaran Rp 35.000 hingga Rp 45.000.

Modal awal usaha yang sekitar Rp 10 juta kini berkembang menjadi bisnis dengan omzet sekitar Rp 15 juta per bulan. Di tahap berikutnya, Vivi menargetkan ekspansi ke luar daerah dengan memperkuat branding agar produknya lebih siap bersaing di pasar yang lebih luas.

Rumah BUMN BRI menaungi ribuan UMKM

Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana, mengatakan lembaga itu menjadi wadah pemberdayaan gratis bagi pelaku usaha lokal. Program yang disiapkan tidak hanya pelatihan, tetapi juga pendampingan legalitas dan kebutuhan lain untuk membantu UMKM tumbuh.

Setiap UMKM yang bergabung akan melalui penilaian awal melalui platform Link UMKM. Hasil pemetaan itu dipakai untuk menentukan tiga aspek terkuat dan tiga aspek terlemah dari usaha yang didaftarkan.

Dari hasil tersebut, peserta diarahkan mengikuti pelatihan yang sesuai kebutuhan. Hingga 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman tercatat menaungi sekitar 11.000 UMKM, dengan 6.000 di antaranya aktif mengikuti program pemberdayaan dan pelatihan terstruktur.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer