Arus Asing Kembali Mengalir, IHSG Bertahan Di 7.675 dan Mengarah Ke 7.700

IHSG masih mampu bertahan di level 7.675 setelah menguat tipis 0,17 persen pada perdagangan Sabtu pagi. Pergerakan yang cenderung sempit ini menunjukkan pasar sedang menunggu arah yang lebih tegas, sementara minat investor asing mulai kembali memberi pengaruh pada sentimen bursa.

Dorongan terbesar datang dari saham-saham berkapitalisasi besar yang banyak diperhatikan pelaku pasar. Emiten perbankan dan energi menjadi penopang utama, seiring meningkatnya volume transaksi harian yang ikut menguatkan pergerakan indeks.

Saham besar kembali memimpin

Saat kondisi pasar mulai lebih stabil, investor tampak lebih nyaman masuk ke saham-saham unggulan yang likuid. Pola ini membuat saham blue chip kembali menjadi tumpuan, terutama ketika arus modal asing perlahan masuk ke pasar saham Indonesia.

Masuknya dana asing memberi sinyal bahwa saham domestik masih dipandang menarik di tengah fluktuasi harga komoditas global. Dalam situasi seperti ini, emiten besar tetap menjadi pilihan utama karena dianggap lebih tahan menghadapi perubahan sentimen jangka pendek.

Dukungan dari faktor domestik

Di dalam negeri, pasar juga menerima dukungan dari stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, peningkatan cadangan devisa yang dilaporkan otoritas moneter turut memperkuat kepercayaan pelaku pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional.

Kombinasi faktor tersebut membuat investor institusi cenderung mempertahankan posisi di saham blue chip. Dengan dasar itu, penguatan IHSG tidak hanya bergantung pada optimisme global, tetapi juga pada pandangan bahwa fundamental domestik masih kuat.

Seorang pengamat pasar modal yang dikutip dalam laporan harian bursa menilai penguatan IHSG ke area 7.600-an menunjukkan kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional tetap solid, meski ketidakpastian global belum benar-benar hilang. Namun, pelaku pasar tetap diminta mencermati level support dan resistance agar transaksi tetap terukur.

Kinerja indeks masih menunjukkan pemulihan

Jika dilihat dalam rentang yang lebih luas, IHSG mencatat return 3,91 persen dalam sepekan terakhir. Dalam satu bulan terakhir, indeks bahkan sudah naik 7,91 persen, meski secara year to date masih terkoreksi 12,02 persen.

Data tersebut memperlihatkan pemulihan pasar berlangsung cukup cepat, tetapi tekanan sejak awal tahun belum sepenuhnya terhapus. Kondisi ini membuat investor masih perlu menimbang kemungkinan lanjutan penguatan atau potensi aksi ambil untung.

Dalam perspektif yang lebih panjang, kinerja IHSG juga masih menyimpan ruang pertumbuhan. Return satu tahun berada di level 19,15 persen, lalu 25,10 persen dalam lima tahun, dengan kinerja sepanjang waktu mencapai 1.090 persen.

Sentimen global dan ruang gerak berikutnya

Optimisme di bursa internasional ikut memberi ruang bagi IHSG untuk bergerak lebih solid. Meski begitu, risiko geopolitik tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi arah pasar dengan cepat.

Isu geopolitik kerap menekan sektor tambang dan minyak, tetapi pasar masih menilai dampaknya bisa diimbangi oleh pergerakan harga komoditas ekspor unggulan Indonesia. Karena itu, sejumlah analis memandang penguatan indeks saat ini masih memiliki pijakan fundamental yang relatif sehat.

Untuk perdagangan berikutnya, IHSG masih berpeluang menguji area psikologis 7.700. Di sisi lain, kenaikan yang sudah cukup tinggi dalam sebulan terakhir membuat potensi profit taking tetap perlu diwaspadai, sementara saham sektor teknologi dan infrastruktur disebut berpeluang menarik perhatian pada sesi selanjutnya.

Investor ritel maupun institusi juga terus memantau saham perbankan besar sebagai penunjuk arah pasar jangka pendek. Perhatian itu berjalan seiring pasar saham Indonesia yang terus memperluas basis emiten dan telah mencatat lebih dari 864 perusahaan di Bursa Efek Indonesia hingga April 2026.

Berita Terkait