Di tengah ketegangan yang masih belum benar-benar reda, Amerika Serikat mengalihkan fokus dari serangan ke pengamanan jalur laut. Langkah terbaru Washington kini tertuju pada Selat Hormuz, titik strategis yang kembali menjadi pusat perhatian setelah konflik dengan Iran memasuki fase yang lebih defensif.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan bahwa operasi ofensif militer yang diberi nama Epic Fury telah dihentikan. Pengumuman itu ia sampaikan di Gedung Putih setelah laporan resmi kepada Kongres mengenai status gencatan senjata yang masih rapuh.
Perubahan arah ini menandai pergeseran penting dalam sikap Washington. Jika sebelumnya tekanan diarahkan ke target-target di Iran, kini fokus utamanya adalah memastikan kapal-kapal tetap bisa melintas dengan aman di jalur laut paling sensitif di kawasan itu.
Selat Hormuz jadi pusat perhatian baru
Presiden Donald Trump masih melontarkan ancaman balasan besar apabila Iran menyerang kapal-kapal Amerika Serikat. Sebagai tindak lanjut, ia meluncurkan Project Freedom pada hari Minggu lalu untuk membantu kapal-kapal niaga keluar dari Selat Hormuz.
Rubio menyebut operasi terbaru AS kini bersifat defensif. Ia juga menegaskan pasukan AS tidak akan menembak kecuali lebih dulu diserang, sebuah penegasan yang menunjukkan perubahan dari serangan langsung ke perlindungan pelayaran.
Langkah itu tidak lepas dari posisi Selat Hormuz sebagai jalur strategis yang sempat dikuasai Iran sebagai balasan atas serangan yang mereka terima. Karena itu, setiap pergerakan di kawasan ini masih dipantau ketat oleh Washington.
Ketegangan naik setelah serangan awal
Konflik singkat ini berawal ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menewaskan sejumlah pemimpin tinggi dan merusak situs militer serta ekonomi penting di Iran.
Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone di berbagai wilayah regional. Situasi itu membuat eskalasi meluas dan mendorong upaya penghentian bentrokan agar tidak berkembang lebih jauh.
Trump kemudian mendeklarasikan gencatan senjata pada 8 April. Status itu terus diperpanjang meski negosiasi dengan Teheran belum menemukan jalan keluar yang jelas.
Tekanan politik dan jalur diplomasi
Rubio mengatakan tujuan utama AS dalam perang singkat itu telah tercapai. Ia juga menyebut Iran menghadapi ancaman kehancuran serius terhadap ekonomi mereka jika konflik terus berlanjut.
Meski demikian, Trump disebut masih lebih memilih jalur kesepakatan dengan Iran. Pendekatan itu berjalan bersamaan dengan langkah militer defensif untuk menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Rubio turut menyinggung War Powers Act tahun 1973, yakni undang-undang yang mewajibkan presiden melapor ke Kongres dalam 48 jam setelah pengerahan pasukan. Ia mengatakan pemerintah AS tidak mengakui undang-undang itu sebagai konstitusional, tetapi tetap mematuhi unsur-unsurnya demi menjaga hubungan dengan Kongres.
Dengan operasi ofensif dihentikan dan pengawalan laut diperketat, perhatian Washington kini bergeser ke apakah gencatan senjata bisa tetap bertahan. Di saat yang sama, arah diplomasi dengan Iran masih berada dalam ruang tegang yang belum memberi kepastian.
Source: mediaindonesia.com






