Indonesia dan Timor Leste membuka peluang kerja sama yang lebih dekat lewat pencak silat. Menteri Pemuda dan Olahraga RI Erick Thohir menegaskan pemerintah siap mendukung perkembangan cabang bela diri asal Indonesia itu di Timor Leste, karena olahraga tersebut уже memiliki tempat di sana.
Pernyataan itu menguat setelah pertemuan bilateral Erick dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Timor Leste, Nelyo Isaac Sarmento, di sela SEA Ministerial Meeting on Youth and Sports 2026 di Bali. Dari pembicaraan itu, pencak silat tidak hanya dipandang sebagai olahraga prestasi, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi yang punya nilai budaya dan ekonomi.
Pencak silat jadi pintu kerja sama
Erick menilai pencak silat merupakan bagian dari jati diri bangsa Indonesia yang dapat dikembangkan bersama negara tetangga. Karena itu, dukungan untuk Timor Leste tidak hanya dimaknai sebagai bantuan pembinaan, tetapi juga sebagai langkah memperkuat hubungan antarpemerintah.
Melalui akun media sosial resminya, Erick menyampaikan bahwa pencak silat sudah populer di Timor Leste dan layak mendapat dukungan lebih terarah. Sikap tersebut menunjukkan bahwa olahraga tradisional ini ditempatkan sebagai bidang yang bisa memberi manfaat lebih luas daripada sekadar kompetisi.
Dampak budaya sekaligus ekonomi
Pembahasan antara kedua menteri itu juga menyoroti peluang industri olahraga. Erick menilai kolaborasi di bidang ini dapat membuka manfaat ekonomi, sehingga pengembangan pencak silat tidak berhenti pada level latihan dan pertandingan.
Dengan posisi seperti itu, pencak silat dipandang sebagai jembatan yang menghubungkan unsur budaya, diplomasi, dan aktivitas ekonomi. Pendekatan tersebut sejalan dengan dorongan agar olahraga di kawasan tumbuh lebih produktif dan relevan bagi pembangunan regional.
Gagasan ajang baru untuk Asia Tenggara
Selain membahas pencak silat, Erick membawa ide yang lebih luas untuk negara-negara ASEAN. Ia mengajak para menteri pemuda dan olahraga se-ASEAN membentuk ajang olahraga internasional di luar kalender SEA Games agar kerja sama regional berjalan lebih kuat dan berkelanjutan.
Menurut Erick, Asia Tenggara memiliki modal besar karena jumlah penduduknya mencapai 650 juta jiwa dan ekonominya terus bertumbuh. Ia menilai modal demografis dan ekonomi itu bisa diolah menjadi agenda olahraga bersama yang mampu menarik partisipasi publik sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Maraton kawasan ikut dibicarakan
Dalam gagasannya, Erick juga menyinggung kemungkinan hadirnya maraton kawasan yang melibatkan sejumlah negara ASEAN. Ia menyebut peluang itu bisa melibatkan Singapura, Timor Leste, Indonesia, Filipina, Malaysia, dan negara lainnya agar tercipta sinergi program olahraga.
Erick mencontohkan ajang besar seperti maraton di London, Boston, New York, dan Tokyo sebagai bukti bahwa olahraga bisa memberi dampak ekonomi nyata. Event semacam itu mampu menarik peserta dari banyak negara dan ikut menggerakkan pariwisata serta aktivitas ekonomi di daerah penyelenggara.
Dengan arah pembahasan seperti ini, kerja sama olahraga di ASEAN mulai diarahkan ke bentuk yang lebih konkret. Dari pengembangan pencak silat di Timor Leste hingga gagasan ajang regional, olahraga ditempatkan sebagai ruang pertemuan yang menyatukan budaya, diplomasi, dan ekonomi kawasan.
Source: www.viva.co.id