Mait Idoep Menyingkap Tragedi Keluarga yang Mengubah Arah Panggung Dardanella

Author: Redaksi Android62

Mait Idoep menghadirkan tragedi keluarga yang lahir dari keputusan seorang pemuda mengabaikan larangan dokter. Lakon Kwee Tek Hoay ini menandai keberanian Dardanella membawa persoalan kesehatan, keluarga, dan akibat sosial ke panggung.

Tokoh Tjung Yang Bwe diceritakan tetap menikah sebelum pulih dari sifilis. Keputusan itu berujung pada dampak tragis yang turut menimpa istri serta anak-anaknya.

Konflik tersebut menjauh dari pola kisah fantasi yang lama mendominasi hiburan panggung. Melalui cerita yang dekat dengan persoalan masyarakat, Dardanella memperlihatkan pergeseran penting menuju drama yang lebih realistis.

Tragedi yang Bertumpu pada Akibat

Pengamat seni pertunjukan Seno Joko Suyono menilai hukum sebab-akibat atau karma menjadi inti tragedi dalam naskah itu. Pelanggaran terhadap nasihat dokter tidak hanya dibayar oleh Tjung Yang Bwe, melainkan juga memengaruhi keluarganya.

“Prinsip-prinsip itu sering muncul dalam naskah Kwee Tek Hoay. Di Mait Idoep, hukum sebab-akibat menjadi inti tragedinya,” ujar Seno.

Menurut Seno, karya Kwee Tek Hoay berangkat dari kehidupan masyarakat Hindia Belanda. Pendekatan ini membantu Dardanella menjauh dari tradisi Komedi Stamboel yang banyak mengandalkan cerita fantasi.

Kwee Tek Hoay juga disebut sebagai salah satu tokoh awal yang mempelajari struktur drama realis Henrik Ibsen. Pengaruh itu kemudian turut mewarnai lakon-lakon yang dibawa Dardanella ke panggung.

Pementasan Seabad Dardanella

Studi pertunjukan Mait Idoep dibawakan pemenang Festival Teater Jakarta di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Selasa, 23 Juni 2026. Pementasan itu menjadi bagian dari perayaan 100 tahun Dardanella.

Pertunjukan dibuka melalui rekaman lagu orkes stamboel dan suara Miss Riboet Doewa. Ketika lampu meredup, kelir latar menampilkan judul naskah dalam aksara lama sebelum cerita memasuki ruang praktik dokter.

Adegan awal memperlihatkan Tjung Lan Gie membawa putranya yang terbaring lemas untuk diperiksa. Pilihan pembukaan ini langsung menempatkan penyakit dan keluarga sebagai pusat konflik dramatik.

Sutradara Irfan Hakim mengatakan pemilihan Mait Idoep bertujuan memperlihatkan fase peralihan Dardanella dari stamboel menuju teater modern. Ia memilih naskah yang tidak terlalu dikenal dibanding Dokter Samsi, tetapi tetap merekam praktik artistik kelompok tersebut.

“Yang terkenal dari Dardanella itu Dokter Samsi. Kami justru mencari naskah yang tidak terlalu dikenal, tetapi menggambarkan praktik kerja Dardanella saat beralih dari stamboel menuju teater modern,” ujar Irfan.

Ruang bagi Beragam Tradisi Akting

Irfan tidak menyeragamkan cara para aktor memainkan tokoh dalam pementasan ini. Para pemain diberi ruang membawa tradisi akting dari kelompok teater masing-masing.

Ia menyebut pendekatan itu sebagai spektrum antara “berlagak dan menjadi”. Aktor perlu menentukan posisi permainan yang sesuai dengan karakter, bahasa, dan situasi dramatik naskah.

Ifqie Dzikrullah atau Acim, pemeran Tjung Yang Bwe, menghadapi tantangan melalui dialog Melayu Pasar. Ia mengatakan para pemain masih mencari ritme pada dua sampai tiga kali pembacaan awal karena struktur bahasanya berbeda dari bahasa Indonesia masa kini.

Dardanella sendiri berdiri pada 1926 dan dikenal sebagai pelopor teater modern di Hindia Belanda. Kelompok sandiwara ini pernah berkeliling hingga Singapura, Malaya, dan sejumlah negara lain di Asia.

Bagi Seno, posisi Dardanella penting dalam perkembangan teater nasional karena jejak realisme tersebut. “Kalau menurut saya, akar realisme Indonesia itu justru dari Dardanella. Sayangnya, itu jarang disebut dalam sejarah teater Indonesia,” katanya.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru