Ashari Ditangkap Atas Dugaan Pencabulan, Tari Ungkap Dalih “Pengobatan Batin” di Pesantren Pati

Author: Redaksi Android62

Ashari kini sudah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pencabulan terhadap puluhan santri. Status hukum itu membuat pengakuan Tari kembali menjadi sorotan karena memberi gambaran tentang bagaimana dugaan kekerasan seksual di lingkungan pesantren itu bisa berlangsung.

Keterangan Tari menyorot cara pelaku membangun kedekatan sebelum melangkah lebih jauh. Ia menggambarkan bahwa tindakan tidak muncul sekaligus, melainkan lewat proses bertahap yang pada awalnya tampak seperti hubungan biasa antara guru dan santri.

Dalam pengakuannya di podcast bersama Denny Sumargo di YouTube, Tari mengatakan dirinya sempat diminta memijat, lalu dicium, sebelum perlakuan itu berkembang menjadi hal yang menurutnya tidak wajar. Ia juga menyebut kebiasaan cium tangan di lingkungan santri sempat membuatnya tidak langsung menangkap adanya unsur pelecehan.

“Awal mula kan bertahap, nggak separah itu,” ujar Tari saat menceritakan bagaimana tindakan itu bermula. Dari situ, ia menuturkan bahwa situasi berubah ketika dirinya mulai diminta mengikuti rangkaian ziarah dan salawatan.

Pada tahap berikutnya, Tari mengaku beberapa kali diajak berduaan dan diminta tidur bersama pelaku dengan alasan tertentu. Ia menyebut permintaan itu tidak datang sebagai perintah langsung yang mudah dipahami, melainkan dibungkus dengan narasi yang membuatnya bingung.

Dalih pengobatan batin

Tari menuturkan bahwa pelaku kerap memakai alasan pengobatan batin untuk membenarkan tindakannya. Ia mengaku diberi sugesti bahwa dirinya memiliki banyak penyakit batin seperti iri dan dengki, lalu diminta menjalani “pengobatan” yang disebut sebagai bagian dari proses penyembuhan.

“Di sana kan ada guru tarikah. Bilangnya disuruh guru tarikah. Bagian dari nyembuhin sakit,” kata Tari. Ia juga menirukan ucapan yang menyebut dirinya memiliki banyak penyakit dan harus mengikuti cara tertentu agar sembuh.

Di titik itu, Tari mengaku sempat ragu dan tidak memahami maksud sebenarnya. Ia mengatakan beberapa kali menolak, tetapi tekanan di lingkungan pesantren membuat posisinya tidak mudah.

Tekanan di lingkungan pesantren

Tari menggambarkan pesantren tempat kejadian itu berlangsung sebagai lingkungan yang keras. Menurut dia, santriwati bisa mendapat perlakuan kasar jika dianggap tidak patuh, dan situasi itu ikut membuat rasa takut untuk menolak semakin besar.

“Di sana itu keras,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa jika ada yang dianggap tidak benar, respons yang muncul bisa berupa pukulan atau tindakan kasar dari oknum kiai.

Keterangan itu memperlihatkan adanya relasi kuasa yang timpang di lingkungan pesantren. Dalam kondisi seperti itu, batas antara pembinaan, tekanan, dan dugaan penyalahgunaan wewenang menjadi sulit dibedakan bagi korban.

Tari juga menyebut kebiasaan penghormatan seperti cium tangan ikut membuat awal perlakuan terasa tidak langsung terbaca sebagai pelecehan. Dari sana, ia menilai pola yang dialaminya dibangun secara perlahan sampai melampaui batas.

Keterangan Tari dan pendamping hukum

Meski mengalami sejumlah tindakan yang ia anggap sebagai pelecehan, Tari menegaskan bahwa dirinya tidak pernah sampai melakukan hubungan intim dengan kiai Ashari. Namun, ia mengaku sempat diminta melakukan tindakan yang sangat tidak pantas, termasuk menyentuh area intim dalam salah satu kejadian yang ia ceritakan.

Pengacara Ali Yusron yang mendampingi Tari juga menyoroti pola bujuk rayu dan manipulasi yang disebut dipakai pelaku. Ia menyampaikan bahwa tindakan itu dikaitkan dengan kepatuhan korban terhadap pelaku dan lingkungan ajaran yang dibangun di sekitarnya.

Pengakuan Tari membuat kasus ini mendapat perhatian lebih luas karena menunjukkan bagaimana dugaan kekerasan bisa berawal dari kedekatan yang tampak wajar. Dari sana, pola relasi guru dan santri disebut berubah menjadi tekanan yang sulit ditolak di lingkungan tertutup seperti pesantren.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru