Tekanan jual asing kembali menjadi penentu utama pergerakan pasar saham, terutama di saham-saham berkapitalisasi besar. Pada perdagangan Jumat, aksi lepas saham perbankan membuat IHSG jatuh 3,38 persen dan ditutup di level 7.129,49.
Pelemahan indeks ini terjadi di tengah jual bersih asing yang masih berada di atas Rp 2 triliun di seluruh pasar. Data bursa dan RTI Business menunjukkan jual bersih asing di pasar reguler mencapai Rp 3,02 triliun, sementara di pasar negosiasi dan tunai masih ada beli bersih Rp 1,02 triliun.
Bank besar jadi sasaran utama
Sektor perbankan kembali menjadi pusat tekanan karena bobotnya besar dalam penggerak indeks. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat jual bersih asing terbesar, yakni Rp 2,1 triliun, seiring sahamnya melemah 5,84 persen ke Rp 6.050 per lembar.
Tekanan juga terasa pada dua bank besar milik negara. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan jual bersih asing Rp 655,1 miliar, sedangkan sahamnya terkoreksi 2,81 persen ke Rp 4.500 per lembar.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk ikut berada dalam tekanan yang sama. Saham BBRI turun 2,85 persen ke Rp 3.070 per lembar setelah asing mencatat jual bersih Rp 447,3 miliar.
Beban indeks datang dari saham unggulan
Saat saham-saham perbankan bergerak melemah serentak, ruang penguatan IHSG ikut menyempit. Kondisi ini membuat indeks tidak hanya tertekan oleh satu emiten, tetapi oleh kelompok saham yang selama ini menjadi acuan pasar.
Aksi jual asing juga merambah ke saham unggulan lain di luar bank. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk tercatat mengalami net foreign sell Rp 92 miliar, dengan harga saham turun 2,43 persen ke Rp 2.810.
Pergerakan seperti ini menambah beban pada indeks, sebab saham berkapitalisasi besar memiliki pengaruh yang kuat terhadap arah IHSG. Ketika lebih dari satu saham utama terkoreksi, sentimen pasar cenderung ikut melemah.
Tekanan merembet ke saham kelompok usaha besar
Selain bank dan emiten telekomunikasi, tekanan juga terlihat pada sejumlah saham yang terafiliasi dengan kelompok usaha besar. PT Petrosea Tbk, yang terkait dengan Prajogo Pangestu, mencatat jual bersih asing Rp 36,44 miliar dan sahamnya anjlok 9,31 persen ke Rp 5.600 per lembar.
Di kelompok Bakrie, aksi jual asing juga muncul pada PT Intermedia Capital Tbk yang membukukan net foreign sell Rp 8,60 miliar. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk turut mencatat jual bersih asing Rp 3,86 miliar di tengah sentimen pasar yang masih lemah.
Rangkaian data itu menunjukkan tekanan pasar tidak hanya terkonsentrasi di satu sektor. Aksi lepas saham asing menyebar ke beberapa emiten yang punya perhatian besar di pasar.
Arah pasar masih ditentukan saham-saham utama
Perdagangan Jumat memperlihatkan bahwa pelemahan IHSG tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh tekanan pada saham-saham penggerak indeks. Selama aksi jual asing tetap dominan dan saham-saham utama belum pulih, pasar masih akan sensitif terhadap pergerakan emiten berkapitalisasi besar.
