Asus memilih langkah yang cukup berani untuk ROG Xbox Ally X20. Perangkat handheld ini justru tidak akan dijual satuan, melainkan hanya hadir lewat paket bundling yang dipasangkan dengan kacamata pintar AR R1 dari kolaborasi Asus dan Xreal.
Skema penjualan itu langsung membuat perhatian tertuju ke harga totalnya. Apalagi kacamata AR tersebut sendiri dibanderol USD 849 jika dijual terpisah, sementara harga resmi paket bundling ROG Xbox Ally X20 belum diumumkan.
Perubahan besar ada di sisi layar
Daya tarik utama Ally X20 bukan cuma soal penjualan, tetapi juga peningkatan tampilan. Asus membekalinya dengan layar OLED 7,4 inci beresolusi 1080p dan refresh rate 120Hz.
Panel baru itu membawa kecerahan SDR 600 nits dan kecerahan puncak HDR hingga 1.400 nits. Asus juga menyematkan sertifikasi VESA DisplayHDR TrueBlack 1000 serta Dolby Vision untuk memperkuat kelas visualnya.
Salah satu pembaruan yang terasa penting adalah perluasan rentang Variable Refresh Rate. Jika sebelumnya batas bawahnya ada di 48Hz, kini rentangnya diturunkan sampai 30Hz agar pengalaman bermain lebih fleksibel saat frame rate game naik turun.
Kontrol yang dibenahi dari keluhan generasi sebelumnya
Asus juga tampak serius mengutak-atik sisi kontrol. Tombol “Library” yang kerap terpencet tanpa sengaja pada generasi sebelumnya kini dihapus dan diganti dengan tombol “Action”.
Tombol baru itu punya fungsi yang lebih jelas. Satu ketukan dipakai untuk mengambil tangkapan layar, sedangkan tekan lama digunakan untuk merekam layar.
Penyegaran lain hadir lewat joystick anti-drift GuliKit TMR yang diklaim kebal dari masalah drift. D-pad juga dibuat lebih fleksibel karena bisa dipindahkan dari mode 8-arah ke 4-arah hanya dengan memutarnya.
Bagian tombol ABXY dan bumper turut dirombak. Tombol aksi kini rata dengan sasis saat ditekan penuh, sementara posisi bumper L1 dan R1 diubah agar respons terasa lebih senyap tetapi tetap taktil.
Mesin utama tetap dipertahankan
Walau banyak bagian eksternal diperbarui, jeroan Ally X20 tidak mengalami perubahan besar. Perangkat ini tetap mengandalkan AMD Z2 Extreme, dipadukan dengan RAM 24GB 8000MT/s dan penyimpanan 1TB.
Keputusan itu menunjukkan fokus Asus bergeser ke pengalaman pakai, bukan sekadar meningkatkan tenaga mentah. Perubahan besar justru diarahkan ke layar, kontrol, dan kenyamanan saat perangkat digunakan sebagai handheld premium.
Asus juga memasang tombol logo Xbox dengan LED hijau agar tampil lebih menonjol. Selain itu, slot memorinya kini memakai microSD Express yang menawarkan kecepatan transfer data lebih tinggi.
Pendinginan baru membuat bodi ikut membesar
Pembaruan di dalam perangkat ikut memaksa penyesuaian desain bodi. Asus menyebut sistem pendingin baru ini dirancang untuk membantu menjaga suhu layar tetap dingin.
Konsekuensinya, ukuran perangkat menjadi lebih besar dari pendahulunya. Ally X20 kini 9 mm lebih lebar, 0,5 mm lebih tebal, dan 41 gram lebih berat.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan fitur datang bersama kompromi fisik. Di satu sisi, Asus menawarkan layar OLED yang lebih premium dan kontrol yang lebih matang, tetapi di sisi lain bodinya harus membesar untuk mengakomodasi rancangan baru itu.
Dengan kombinasi peningkatan spesifikasi dan skema bundling yang mahal, ROG Xbox Ally X20 menjadi perangkat yang menarik sekaligus memancing tanda tanya. Asus berhasil membuat handheld ini tampak lebih matang, tetapi cara menjualnya bisa menjadi faktor yang paling menentukan minat calon pembeli.
