Atlas versi terbaru dari Boston Dynamics tampil dengan kemampuan yang jauh lebih bebas bergerak, termasuk memutar kepala, lengan, dan torso 360 derajat serta mengubah arah tanpa harus benar-benar berbalik seperti manusia. Perubahan itu membuat robot humanoid ini terlihat semakin jauh dari citra robot kaku yang selama ini melekat padanya.
CEO Boston Dynamics, Robert Playter, menyebut rentang gerak yang disebutnya “superhuman” itu sejalan dengan visi perusahaan untuk membangun robot tanpa membatasi diri pada kemampuan manusia. Dalam demonstrasi terbaru, Atlas juga mampu melakukan cartwheel, menari, berlari dengan gerakan mirip manusia, dan bangkit dari lantai hanya dengan bantuan kakinya.
Desain fisik dibuat lebih ringkas
Pembaruan besar pada Atlas tidak hanya terlihat dari gerakannya, tetapi juga dari struktur mekanisnya. Kepala riset robotika Boston Dynamics, Scott Kuindersma, menjelaskan bahwa Atlas kini tidak lagi memiliki kabel yang melintas di sendi lengan, torso, dan kepala.
Perubahan itu memungkinkan rotasi berlangsung terus-menerus dan membuat perawatan lebih mudah. Menurut Kuindersma, kabel pada bagian yang berputar sering menjadi sumber masalah keandalan pada robot, sehingga penghapusannya penting untuk penggunaan jangka panjang.
AI, pelatihan tugas, dan cengkeraman yang lebih adaptif
Selain tubuhnya, Atlas juga mendapat peningkatan pada sistem kecerdasan buatannya. AI robot ini ditenagai chip Nvidia dan dapat dilatih untuk mengerjakan tugas tertentu melalui teleoperation, saat manusia mengendalikan robot memakai perangkat virtual reality.
Dalam sesi pelatihan yang disaksikan Bill Whitaker, seorang ilmuwan machine learning Boston Dynamics mengajari Atlas menyusun gelas dan mengikat simpul. Proses itu menunjukkan bahwa kemampuan robot dibangun secara bertahap sampai Atlas dapat melakukannya sendiri.
Tangan Atlas kini memakai tiga jari di setiap sisi yang dapat bergeser ke mode berbeda. Satu jari dapat berperan seperti ibu jari, sementara konfigurasi lain memungkinkan robot membuat cengkeraman dua jari untuk benda kecil atau membuka tangan lebar untuk benda yang lebih besar.
Boston Dynamics juga memasang sensor sentuh di ujung jari Atlas untuk memberi data ke neural network robot. Sensor itu membantu Atlas mempelajari tekanan yang tepat saat memanipulasi objek, meski perusahaan masih menilai manipulasi robot belum selesai disempurnakan.
Masih ada tantangan pada teleoperation
Kuindersma mengatakan masih banyak ruang untuk meningkatkan sistem teleoperation agar robot bisa bekerja dengan lebih cekatan. Ia menilai kontrol yang presisi atas bentuk, gerakan, dan gaya cengkeraman tetap menjadi tantangan penting bagi robot humanoid.
Di sisi lain, antusiasme terhadap humanoid sedang tinggi, sementara lembaga keuangan bahkan memproyeksikan masa depan yang dipenuhi jutaan hingga miliaran robot. Playter mengakui adanya siklus hype, tetapi ia menegaskan bahwa robot harus dibuat andal dan terjangkau sebelum bisa dipakai luas.
Saat 60 Minutes mengunjungi kantor Boston Dynamics pada 2021, Atlas versi awal sudah bisa berlari, melompat, dan menjaga keseimbangan ketika didorong. Namun, robot itu masih terlihat besar dan bergerak dengan pola yang lebih kaku serta mekanis dibanding versi terbarunya.
Sejak kisah itu tayang, Boston Dynamics juga memperkenalkan Atlas yang lebih tinggi dan lebih kuat daripada humanoid yang dilihat 60 Minutes. Atlas baru itu dijadwalkan mulai berlatih di pabrik Hyundai di Georgia pada musim panas.
