Pemanggilan Mathew Baker ke skuad senior Timnas Indonesia langsung menempatkan bek muda Melbourne City itu di sorotan dua negara sekaligus. Di satu sisi, Indonesia membuka pintu untuk debutnya di level tertinggi, sementara Australia belum sepenuhnya melepasnya dari pantauan.
Nama Baker masih dianggap relevan di Australia karena statusnya belum terikat penuh pada satu negara di level senior. Kondisi itu membuat pemain berusia 17 tahun tersebut berada dalam posisi yang jarang terjadi, apalagi ketika ia sudah masuk agenda FIFA Matchday Juni 2026 bersama Garuda.
Masih dipantau Australia
Perhatian dari Australia tidak datang tanpa alasan. Media olahraga Australia, Football360au, ikut menyoroti pemanggilan Baker ke tim senior Indonesia melalui unggahan di Instagram.
Dalam unggahan itu, Baker disebut sebagai pemain Australia berbakat berusia 17 tahun yang belum debut di A-League. Football360au juga tetap memberi selamat atas panggilan perdananya ke tim nasional senior Indonesia.
Klub dan perkembangan Baker juga menjadi bagian dari alasan mengapa namanya terus menonjol. Football360au menilai ia sudah menjadi pilar di akademi senior Melbourne City yang bermain di NPL VIC, kompetisi kasta kedua di Australia.
Catatan penampilannya ikut memperkuat sorotan tersebut. Hingga pekan ke-15, Baker telah tampil dalam sembilan pertandingan dan delapan di antaranya ia mulai sebagai starter.
Status kewarganegaraan membuat posisinya unik
Baker lahir di Melbourne pada 13 Mei 2009. Ia merupakan putra ayah berkebangsaan Australia dan ibu asal Jakarta yang berdarah Batak.
Kombinasi latar keluarga itu membuat Baker memiliki status kewarganegaraan ganda terbatas sesuai aturan hukum Indonesia. Anak dari perkawinan campuran dapat memegang kewarganegaraan ganda hingga usia 18 tahun atau sebelum menikah.
Dengan status itu, Baker tidak perlu melalui proses naturalisasi untuk membela Indonesia. Ia juga masih bisa membela Australia sampai ia tampil resmi untuk Timnas Indonesia senior dalam pertandingan yang diakui FIFA.
Tenaga Ahli Kemenpora Bidang Diaspora, Hamdan Hamedan, sebelumnya menegaskan bahwa Baker adalah pemain diaspora murni, bukan pemain naturalisasi. Penegasan ini membedakan Baker dari sejumlah pemain keturunan lain yang harus melewati proses administrasi tambahan.
Peluang debut bersama Garuda
Pemanggilan ke skuad senior membuka jalan bagi Baker untuk menorehkan debut di level tertinggi. Jika mendapat kesempatan tampil melawan Oman atau Mozambik, ia akan langsung mencatat langkah penting dalam karier internasionalnya bersama Indonesia.
Kehadirannya juga memberi sinyal bahwa staf pelatih melihat Baker sebagai bagian dari rencana jangka panjang. Ia menambah opsi di lini pertahanan dan memperlihatkan bahwa regenerasi terus berjalan lewat pemain muda yang dinilai siap naik level.
Baker bukan sosok baru bagi publik sepak bola Indonesia. Ia pernah menjadi salah satu andalan Timnas Indonesia U-16 saat tampil di Piala AFF U-16 2024.
Riwayat itu pernah membuat namanya ramai dibahas pada Juli 2024. Saat itu, Baker dipanggil ke Timnas Australia U-17 padahal sebelumnya baru membela Timnas Indonesia U-16.
Kondisi tersebut sempat memunculkan kekhawatiran di kalangan suporter Garuda bahwa Australia bisa menarik talenta yang juga punya kaitan kuat dengan Indonesia. Kini, pemanggilan ke Timnas Indonesia senior memberi arah baru dalam perjalanan internasional Baker, dan publik menunggu apakah ia akan benar-benar tampil di level tertinggi bersama Merah Putih.
Source: www.suara.com