Kevin Diks Jadi Pendamping Khusus Mathew Baker, Panggilan Perdana yang Tak Boleh Diremehkan Jelang Oman

Author: Redaksi Android62

Kevin Diks tidak ragu menyorot nama Mathew Baker jelang laga Timnas Indonesia melawan Oman di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Bek Garuda itu melihat pemain berusia 17 tahun tersebut punya masa depan besar dan sudah menunjukkan kualitas yang layak dibawa ke level internasional.

Pujian itu menjadi salah satu cerita menarik di tengah persiapan Indonesia untuk dua laga persahabatan FIFA pada Juni. Baker termasuk dalam daftar 23 pemain pilihan pelatih John Herdman untuk menghadapi Oman pada Jumat, 5 Juni, lalu Mozambik pada Selasa, 9 Juni.

Di ruang persiapan tim, perhatian terhadap Baker bukan sekadar soal statusnya sebagai pemain muda. Kehadirannya di skuad senior menunjukkan adanya kepercayaan terhadap potensi yang ia bawa sejak awal bergabung.

Diks melihat tanda-tanda kuat sejak awal

Dalam jumpa pers prapertandingan di SUGBK, Kamis, 4 Juni, Diks menyampaikan penilaiannya terhadap pemain Melbourne City itu. Ia menyebut pandangannya sejalan dengan keyakinan tim pelatih yang lebih dulu melihat kualitas Baker.

“Sejak hari-hari pertama saya sudah melihat apa yang dilihat pelatih. Potensinya besar dan usianya masih sangat muda,” ujar Kevin Diks.

Pernyataan itu memberi gambaran bahwa Baker bukan hanya dipanggil untuk melengkapi daftar pemain. Di mata Diks, ia memang punya bekal untuk berkembang lebih jauh jika terus diberi ruang.

Pengalaman pribadi membuat Diks paham situasi Baker

Diks juga mengaitkan kondisi Baker dengan perjalanan awal kariernya sendiri. Saat menembus sepak bola profesional bersama Vitesse di Eredivisie, usianya juga masih sekitar 17 tahun.

Karena itu, Diks memahami tekanan yang kerap muncul ketika pemain muda mendapat kesempatan besar. Ia bahkan menilai tantangan Baker lebih berat karena kesempatan ini datang di tim nasional senior, bukan sekadar di level klub.

“Ketika saya menembus sepak bola profesional, usia saya juga sekitar 17 tahun, jadi saya bisa memahami situasinya. Namun bermain untuk tim nasional lebih besar daripada sepak bola klub. Saya mencoba membantunya semampu saya,” kata Diks.

Peran pendampingan dari pemain senior

John Herdman kemudian memberi peran khusus kepada Diks untuk mendampingi Baker selama berada di skuad. Langkah itu terasa masuk akal karena keduanya sama-sama bermain di lini belakang.

Pengalaman Diks di Eropa, termasuk saat memperkuat Borussia Moenchengladbach di Bundesliga, membuatnya dianggap cocok membantu proses adaptasi Baker. Dukungan seperti ini penting agar pemain muda lebih cepat memahami ritme latihan dan tuntutan pertandingan internasional.

Bagi timnas, pendampingan semacam itu juga memberi nilai tambah di luar urusan taktik. Satu pemain senior yang lebih berpengalaman bisa membantu mengurangi jarak antara pemain muda dan atmosfer tim utama.

Tetap hati-hati agar Baker tidak terbebani

Meski memberi dukungan penuh, Diks tidak ingin Baker memikul tekanan berlebihan. Ia mengaku sudah beberapa kali berbicara dengan juniornya itu, tetapi tetap menjaga cara penyampaiannya.

“Saya sudah beberapa kali berbicara dengannya, tetapi saya juga tidak ingin memberinya terlalu banyak tekanan,” ujar Diks.

Sikap itu penting karena Baker baru menjalani panggilan perdananya ke tim senior. Di saat yang sama, ia langsung berada dalam lingkungan pertandingan penting seperti duel melawan Oman, sehingga proses belajarnya berlangsung di level tertinggi.

Momen penting menjelang laga kontra Oman

Kisah Baker dan Diks menambah warna dalam persiapan Indonesia menghadapi Oman. Selain menjadi bagian dari agenda laga persahabatan FIFA, pertandingan itu juga memberi ruang bagi pemain muda untuk merasakan atmosfer timnas senior secara langsung.

Bagi Baker, kesempatan ini bisa menjadi langkah awal untuk memahami standar permainan di level internasional. Bagi Indonesia, kehadirannya bersama bimbingan Diks memperlihatkan bahwa skuad Garuda juga memberi tempat bagi proses pembentukan generasi baru.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru