Austria memulai laga uji coba melawan Tunisia dengan modal yang jauh lebih meyakinkan. Tim asuhan Ralf Rangnick datang sebagai tim yang sudah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 setelah memuncaki Grup H kualifikasi.
Di atas kertas, pertandingan di Ernst-Happel-Stadion, Wina, Selasa (2/6) dini hari WIB, memang berstatus persahabatan. Namun bagi kedua tim, duel ini tetap punya nilai penting karena sama-sama menjadi bagian dari persiapan menuju Piala Dunia 2026.
Austria menjaga ritme positif
Austria memasuki laga ini dengan rasa percaya diri tinggi setelah menutup kualifikasi dengan stabil. Mereka mengantongi enam kemenangan dari delapan pertandingan dan kembali ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1998.
Rangnick diperkirakan tetap meminta timnya tampil agresif. Pressing tinggi dan tempo cepat menjadi ciri utama Austria, terutama saat bermain di kandang dan berusaha mengambil kendali sejak awal.
Di lini tengah, Austria masih memiliki banyak opsi untuk menjaga intensitas permainan. Florian Grillitsch memang diragukan tampil karena cedera ringan, tetapi Xaver Schlager dan Nicolas Seiwald tetap memberi keseimbangan dalam distribusi bola serta transisi permainan.
Tunisia membangun ulang fondasi
Tunisia tidak datang sekadar mengejar hasil, melainkan juga ingin mematangkan organisasi permainan di bawah Sabri Lamouchi. Pergantian pelatih dari Sami Trabelsi setelah Piala Afrika membuat laga ini menjadi momen penting untuk merapikan komposisi tim.
Skuad Tunisia disebut berada dalam kondisi sepenuhnya bugar. Situasi itu memberi ruang bagi Lamouchi untuk mempertahankan susunan utama, termasuk setelah hasil imbang 0-0 melawan Kanada.
Bagi Tunisia, uji coba ini juga terkait langsung dengan langkah mereka di Grup F Piala Dunia 2026. Mereka akan menghadapi Swedia, Jepang, dan Belanda, sehingga ketahanan bertahan dan efisiensi serangan perlu dibangun sejak sekarang.
Pola permainan yang diperkirakan muncul
Austria diprediksi lebih banyak memegang bola karena tampil di hadapan pendukung sendiri. Dengan gaya Rangnick yang menekan tinggi, Tunisia berpotensi dipaksa turun lebih dalam dan menjaga disiplin sepanjang pertandingan.
Sebaliknya, Tunisia kemungkinan memilih pendekatan yang lebih hati-hati. Mereka diperkirakan menunggu momen tepat untuk melancarkan serangan balik cepat lewat Tounekti dan Gharbi.
Rekor pertemuan juga memberi Austria keunggulan psikologis. Dalam tiga pertemuan terakhir, Austria belum terkalahkan atas Tunisia dengan catatan satu kemenangan dan dua hasil imbang.
Nama-nama kunci di kedua kubu
Marko Arnautovic tetap menjadi tumpuan utama Austria di lini depan. Penyerang veteran itu mencetak delapan gol selama kualifikasi dan masih diandalkan untuk mengubah peluang menjadi gol.
Di sisi Tunisia, Dahmen diperkirakan kembali mengawal gawang. Lini belakang mereka akan ditopang Valery, Arous, Ben Hamida, dan Abdi, sedangkan sektor tengah diisi Ayari, Khedira, Skhiri, dan Tounekti.
Pertarungan ini memberi ruang bagi dua pelatih untuk menguji detail taktik sebelum menghadapi tantangan yang jauh lebih besar di Piala Dunia 2026. Austria memang lebih diunggulkan untuk menang tipis, tetapi Tunisia tetap punya peluang menciptakan ancaman jika mampu menjaga jarak antarlini dan memanfaatkan transisi dengan efektif di Wina.
Source: mediaindonesia.com






