VIDA menilai kelemahan autentikasi kini menjadi salah satu titik rawan terbesar dalam keamanan digital di era AI. Perusahaan itu menyebut sekitar 95 persen insiden pelanggaran keamanan data dan keamanan siber di dunia berakar dari sistem autentikasi yang lemah.
Karena itu, penguatan autentikasi dipandang sebagai fondasi utama untuk menjaga kepercayaan dalam ekosistem digital modern. Fokusnya bukan hanya mencegah data bocor, melainkan memastikan data yang sudah tersimpan tidak bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak berwenang.
AI memperluas ancaman terhadap identitas digital
Ancaman yang muncul juga semakin kompleks karena AI dapat dipakai untuk menjalankan berbagai modus penipuan digital. VIDA mengingatkan bahwa data pribadi yang sudah bocor ke internet tidak lagi bisa dijadikan satu-satunya bukti identitas pemilik akun.
Risiko itu dapat menyasar wajah, suara, perangkat, jaringan, hingga pola perilaku pengguna. Kondisi tersebut membuat sistem identitas digital harus dirancang lebih kuat dan lebih adaptif terhadap perkembangan ancaman.
Autentikasi perlu memastikan siapa yang berhak masuk
Setelah data diamankan, persoalan berikutnya adalah mengendalikan siapa yang berhak mengaksesnya. Pada tahap ini, autentikasi berfungsi memastikan identitas pengguna, menentukan hak akses, dan mencatat aktivitas penggunaan data secara jelas.
Secara umum, autentikasi dapat dilakukan melalui tiga pendekatan, yakni something you know seperti password atau PIN, who you are seperti biometrik wajah atau sidik jari, serta what you have seperti perangkat atau token keamanan.
Keamanan tidak harus mengorbankan kenyamanan
Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, menegaskan bahwa keberhasilan adopsi AI sangat bergantung pada kepercayaan masyarakat terhadap keamanan teknologi. Ia menilai keamanan dan kenyamanan tidak perlu dipertentangkan dalam layanan digital.
“Transformasi digital tidak harus mengorbankan keamanan demi kenyamanan, maupun sebaliknya. Dengan desain dan arsitektur sistem yang tepat, keduanya justru dapat berjalan beriringan,” ujar Niki dalam diskusi panel bertajuk AI for Digital Public Services.
Ia juga mencontohkan bagaimana pelaku ransomware memakai kriptografi untuk mengenkripsi dan mengunci data korban. Menurutnya, pendekatan yang sama bisa digunakan untuk melindungi data agar tidak dapat dimanfaatkan oleh pihak lain.
Indonesia dinilai punya modal penting
Di tengah meningkatnya ancaman siber, VIDA mengapresiasi langkah pemerintah Indonesia dalam membangun fondasi identitas digital nasional yang lebih kuat. Niki menilai Indonesia sudah memiliki standar verifikasi identitas yang mengacu pada praktik terbaik global dan terus diperkuat lewat regulasi yang adaptif.
Dalam pandangannya, teknologi, standar keamanan, dan regulasi sebenarnya sudah tersedia. Tantangan utamanya kini adalah mempercepat implementasi di berbagai sektor layanan digital agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas.
Isu ini mengemuka dalam Garuda AI Impact Summit 2026, ketika Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria, menyoroti bahwa tantangan AI tidak berhenti pada aspek teknis. Ia menekankan bahwa transformasi AI juga menyentuh literasi digital, tingkat kepercayaan publik, dan kesiapan masyarakat untuk memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
Nezar juga menggambarkan bahwa kesenjangan digital ke depan tidak lagi sekadar soal siapa yang terhubung ke internet. Jurang baru akan muncul antara mereka yang mampu memanfaatkan AI secara produktif dan mereka yang tertinggal dalam transformasi digital.
Dengan cepatnya perkembangan AI, perlindungan data dinilai membutuhkan autentikasi yang kuat, identitas digital yang tepercaya, dan pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab. VIDA menyebut AI berpotensi menjadi pengubah besar bagi keamanan digital jika implementasinya berjalan cepat dan konsisten.
