Tata Motors memilih jalan berbeda untuk menjaga proyek mobil listrik premiumnya, Avinya, tetap bergerak. Perusahaan asal India itu kini menggandeng Chery agar pengembangan tidak semakin tertinggal di tengah pasar kendaraan listrik India yang makin ramai.
Langkah ini memperlihatkan bahwa Tata tidak hanya berburu teknologi, tetapi juga waktu. Dengan memanfaatkan platform milik Chery, Tata berharap bisa memangkas hambatan yang membuat rencana awal Avinya tersendat.
Dari EMA ke Freelander
Arah baru itu muncul setelah rencana semula tidak berjalan mulus. Tata sebelumnya ingin memakai platform Electrified Modular Architecture atau EMA milik Jaguar Land Rover untuk model Avinya yang awalnya ditargetkan meluncur pada 2025.
Namun, rencana tersebut berubah setelah Jaguar Land Rover membatalkan produksi kendaraan listrik berbasis EMA di India pada tahun lalu. Tata pun harus menyusun ulang pondasi pengembangan merek premium listriknya agar proyek itu tidak berhenti di tengah jalan.
Sebagai pengganti, Tata berencana melisensikan platform otomotif dari Chery. Platform yang dipakai adalah Freelander, yang dikembangkan melalui perusahaan patungan Chery dan Jaguar Land Rover di China.
Produksi tetap dikerjakan di India
Untuk tahap awal, unit kendaraan akan dikirim dari China dalam bentuk kit sebelum dirakit di India. Produksi akhirnya akan dilakukan di pabrik baru Tata yang berada di Tamil Nadu, India bagian selatan.
Skema ini memberi Tata jalur yang lebih cepat untuk menyiapkan produk baru. Akses ke teknologi yang sudah tersedia dinilai bisa menekan biaya investasi sekaligus memangkas waktu pengembangan.
Chery sendiri menegaskan posisinya dalam kerja sama ini sebagai pemasok untuk Tata Motors Passenger Vehicles. Perusahaan otomotif China itu juga menyebut setiap proyek dijalankan melalui perjanjian terpisah dengan ketentuan komersial yang standar.
Avinya tetap disiapkan sebagai merek global
Meski jalurnya berubah, Tata tetap mempertahankan ambisi besar untuk Avinya. Perusahaan menyebut Avinya sedang dikembangkan sebagai merek premium global, bukan sekadar lini khusus untuk pasar domestik.
Tata juga menyatakan kolaborasinya dengan Jaguar Land Rover dan para mitranya menjadi salah satu pilar penting dalam perjalanan global di segmen kendaraan listrik premium. Dalam kerangka itu, Avinya diarahkan untuk menghadirkan produk EV mewah dalam skala besar.
Model pertama Avinya yang memakai platform Chery dijadwalkan hadir pada 2027. Setelah itu, model EV kedua disebut berpeluang meluncur pada 2029, dan ada ruang untuk menambah dua model lagi di kemudian hari.
Menutup celah di pasar EV India
Perubahan strategi ini juga berkaitan dengan tekanan pasar. Saat ini, kendaraan listrik menyumbang 14 persen dari total penjualan Tata, sementara perusahaan menargetkan porsinya naik lebih dari dua kali lipat menjadi 30 persen pada 2030.
Tanpa produk baru, Tata berisiko kehilangan posisi sebagai pemimpin pasar kendaraan listrik di India. Risiko itu makin terasa ketika Mahindra & Mahindra serta JSW MG Motor mulai mendekati posisi Tata dan menunjukkan adanya celah dalam jajaran EV perusahaan.
Karena itu, kesepakatan dengan Chery dinilai sebagai solusi sementara untuk mengembalikan momentum. Tata juga sudah mulai meningkatkan penggunaan komponen lokal agar produksi tetap selaras dengan kebutuhan pasar India.
Pola yang makin sering muncul di India
Kasus Tata dan Chery mencerminkan arah baru di industri otomotif India. Banyak produsen lokal kini mengimpor teknologi kendaraan listrik dari China demi tetap kompetitif di tengah persaingan global.
Meski begitu, kerja sama semacam ini biasanya dijalankan dengan hati-hati. Banyak perusahaan India menghindari kemitraan kepemilikan saham yang lebih dalam dengan mitra China karena sensitivitas politik yang masih kuat.
Sejak 2020, pemerintah India menerapkan pembatasan ketat terhadap investasi dari negara tetangga, terutama China. Kebijakan itu membuat partisipasi besar perusahaan China di industri otomotif India tetap tertahan, meski teknologi mereka semakin dibutuhkan.
Dalam situasi itu, Tata memilih kompromi yang dianggap paling realistis. Teknologi inti datang dari China, sementara perakitan dan penguatan kandungan lokal tetap berlangsung di India untuk menjaga posisi Avinya dan mengejar kembali waktu yang hilang.
