B-52H Stratofortress kembali menjadi sorotan setelah mengalami kecelakaan saat lepas landas dari Pangkalan Udara Edwards, California, dalam misi latihan rutin. Insiden itu menewaskan 8 awak di dalam pesawat dan memunculkan kembali pertanyaan lama tentang mengapa bomber berusia sangat tua ini masih tetap dioperasikan.
Jawabannya terletak pada perannya yang masih dianggap penting dalam kekuatan udara strategis Amerika Serikat. B-52 bukan hanya pesawat pengebom biasa, melainkan salah satu pembawa senjata nuklir dalam struktur nuclear triad AS, bersama Minuteman-III dan rudal Trident-II yang diluncurkan dari kapal selam kelas Ohio.
Peran strategis yang belum tergantikan
Dalam tugas nuklirnya, B-52 dapat meluncurkan rudal jelajah AGM-86B dari udara. Rudal ini membawa hulu ledak W-80 dengan kekuatan ledak antara 5 hingga 150 kiloton TNT, dan setiap B-52H saat ini mampu membawa sekitar 20 rudal AGM-86B.
Ukuran pesawat ini juga memperlihatkan mengapa ia masih menjadi platform penting. Panjang B-52 mencapai 48,5 meter, rentang sayapnya 56,4 meter, dan daya angkut senjata maupun bomnya disebut mencapai sekitar 31 ton.
Armada tua yang masih aktif sampai sekarang
B-52 mulai beroperasi pada 1955 dan hadir dalam beberapa varian dari A hingga H. Dari seluruh keluarga tersebut, varian H menjadi satu-satunya yang masih aktif dan operasional hingga kini.
Produksi terakhir B-52 varian H terjadi pada 1962, sehingga armada termuda yang masih terbang sekarang telah berusia 64 tahun. Usia inilah yang membuat pesawat tersebut kerap dijuluki sebagai “jago tua”.
Meski sangat tua, B-52 tetap dipertahankan dalam berbagai misi militer. Pesawat ini termasuk sedikit armada AU AS yang terus terlibat dalam konflik lintas dekade, mulai dari era Perang Vietnam pada 1965 hingga periode sekarang.
Jejak panjang dari Perang Dingin
Sejarah B-52 juga melekat erat dengan ketegangan nuklir pada masa Perang Dingin. Air and Space Force Magazine melaporkan bahwa pada 1961-1968, militer AS menjalankan operasi Chrome Dome dengan sejumlah B-52 berada dalam status siaga tinggi dan terbang bergantian selama 24 jam penuh, tujuh hari seminggu.
Dalam operasi itu, pesawat membawa senjata termonuklir di wilayah Atlantik, Mediterania, Kanada, dan Alaska. Langkah ini disiapkan agar AS tetap memiliki kemampuan serangan balasan nuklir jika Uni Soviet menyerang wilayah Amerika secara mendadak.
Operasi tersebut akhirnya dihentikan pada 1968 setelah terjadi insiden kecelakaan B-52 yang membawa senjata nuklir. Peristiwa itu menjadi salah satu titik penting dalam sejarah keselamatan bomber strategis AS.
Sistem keselamatan unik untuk kokpit dua tingkat
B-52 juga dikenal memiliki sistem kursi lontar yang tidak biasa karena konfigurasi kokpit dua tingkatnya. Dalam kondisi normal, bomber ini diawaki lima orang, terdiri atas pilot, kopilot, navigator, navigator radar, dan Electronic Warfare Officer.
Untuk misi tertentu, jumlah awak bisa bertambah sekitar tiga orang, terutama pada misi penelitian khusus. Saat darurat, pilot, kopilot, dan Electronic Warfare Officer melontar ke atas dari kokpit atas, sedangkan navigator dan navigator radar di dek bawah melontar ke bawah melalui bagian bawah pesawat.
Pada ketinggian rendah, awak di dek bawah tidak dapat melontarkan diri dengan aman dari posisi itu. Mereka harus memanjat ke bagian pesawat yang lebih tinggi dan keluar melalui pintu palka, sehingga prosedur keselamatan B-52 tetap sangat bergantung pada kondisi terbang saat insiden terjadi.
Source: www.idntimes.com






