Penerapan biodiesel B50 resmi dimulai secara nasional pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini menjadi langkah baru pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan menekan ketergantungan pada impor solar.
Di sisi pengguna, perubahan itu membawa konsekuensi teknis yang perlu dicermati. Sejumlah pakar menilai B50 tetap kompatibel untuk sebagian besar mesin diesel, tetapi karakter bahan bakarnya membuat perawatan tidak bisa lagi diabaikan.
Tenaga mesin berpotensi turun
Pakar otomotif dari Universitas Gadjah Mada, Jayan Sentanuhady, menyebut B50 pada dasarnya bisa digunakan untuk mesin diesel. Namun, kandungan Fatty Acid Methyl Ester atau FAME yang lebih tinggi dibanding B40 berpotensi memengaruhi karakter tenaga mesin.
Menurut Jayan, kenaikan kadar FAME dapat membuat tenaga mesin cenderung turun sekitar 5 sampai 10 persen. Ia menilai emisi dari penggunaan B50 hampir tidak menjadi persoalan utama.
Filter bahan bakar perlu lebih sering diperhatikan
Peringatan yang paling penting menurut Jayan justru ada pada sistem bahan bakar. Pengguna disarankan lebih sering melakukan perawatan, terutama pada komponen filter bahan bakar.
Perubahan komposisi bahan bakar dapat memengaruhi kerja komponen penyaringan. Artinya, kendaraan mungkin masih berjalan normal, tetapi jadwal perawatan rutin tidak lagi bisa diperlakukan longgar.
Karakter biodiesel memang berbeda dari solar murni
Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Wahyudi, menjelaskan bahwa biodiesel modern memang dirancang agar dapat digunakan pada mesin diesel secara umum. Meski begitu, penggunaan B50 tetap memerlukan perhatian tambahan, terutama pada kendaraan yang sudah lama dipakai.
Wahyudi menyebut biodiesel memiliki viskositas dan densitas yang lebih tinggi, tetapi nilai kalor yang lebih rendah dibanding solar murni. Karakter ini dapat memengaruhi proses pembakaran di dalam mesin.
Pada kendaraan yang lebih tua, kondisi tersebut berpotensi menurunkan performa dan tenaga dibanding saat memakai solar murni. Pandangan itu sejalan dengan kekhawatiran soal penurunan power yang diungkap Jayan.
Daya tahan mesin umumnya tetap terjaga
Dari sisi durabilitas, Wahyudi menilai pengaruh B50 terhadap ketahanan mesin secara umum tidak terlalu signifikan. Penilaian itu memberi sinyal bahwa penggunaan B50 tidak otomatis memicu gangguan besar pada semua kendaraan diesel.
Meski demikian, ada pengecualian pada kendaraan berumur. Beberapa komponen berbahan karet di sistem bahan bakar berpotensi mengalami keausan lebih cepat.
Karena itu, pemilik kendaraan lama perlu lebih waspada saat memantau kondisi saluran dan komponen bahan bakar. Pemeriksaan berkala menjadi penting agar potensi masalah dapat diketahui lebih dini.
Wahyudi menegaskan pengguna pada dasarnya tidak perlu melakukan penyesuaian khusus. Hal yang lebih penting adalah memastikan kualitas biodiesel yang beredar tetap baik dan sesuai standar.
Menurut dia, jika kualitas biodiesel terjaga, dampak negatif terhadap kendaraan dapat diminimalkan. Dengan demikian, mutu bahan bakar menjadi kunci penting selain kesiapan mesin itu sendiri.
Transisi energi berjalan, perawatan tetap menentukan
Masuknya B50 secara nasional menunjukkan transisi energi di sektor diesel bergerak lebih jauh. Namun, perubahan ini juga menuntut disiplin baru dari pengguna kendaraan, terutama dalam merawat sistem bahan bakar.
Para ahli tidak menyebut perlunya modifikasi besar pada kendaraan diesel secara umum. Pesan utamanya adalah tetap menggunakan bahan bakar yang sesuai standar dan memperhatikan perawatan lebih rutin saat B50 digunakan secara luas.
