Malam bertema Australia menjadi penutup rangkaian Taste and Create with Australia di Jakarta, dengan sajian makanan dan wine premium yang diperkenalkan kepada pelaku serta pemangku kepentingan industri HORECA. Momen itu memperlihatkan bagaimana bahan pangan dari Australia tidak hanya dipamerkan, tetapi juga langsung dihadirkan dalam format yang lebih dekat dengan kebutuhan restoran, hotel, dan layanan katering.
Di balik acara tersebut, tujuan utamanya cukup jelas: membuka ruang bagi chef Indonesia untuk melihat, mencicipi, dan mengolah bahan pangan premium dari Australia secara langsung. Dari situ, peluang lahirnya menu baru di Jakarta semakin terbuka, terutama karena bahan yang diperkenalkan mencakup daging sapi, buah dan sayuran, bahan kebutuhan dapur, produk susu, wine, hingga minuman beralkohol.
Ruang pertemuan bagi industri kuliner
Taste and Create with Australia tidak berdiri sebagai pameran produk biasa. Acara ini menjadi tempat bertemunya chef, pelaku usaha, distributor, dan pemasok dalam satu ruang yang memungkinkan percakapan bisnis berlangsung lebih cepat dan lebih konkret.
Peserta dapat melihat berbagai bahan pangan, mengikuti sesi tasting, dan mencoba sajian yang disiapkan untuk menunjukkan karakter produk. Format seperti ini penting bagi dunia kuliner karena pemilihan bahan sering menjadi penentu kualitas akhir hidangan.
Bagi industri HORECA, kesempatan untuk menguji produk sebelum masuk ke dapur memberi nilai lebih. Chef dapat menilai rasa, tekstur, dan potensi pengolahan bahan secara langsung sebelum memutuskan penggunaannya dalam menu.
Teknik dapur ikut diperlihatkan
Selain memperkenalkan produk, acara ini juga menyorot sisi teknis yang relevan untuk dapur profesional melalui workshop The Chef Table. Salah satu bagian yang menonjol adalah teknik pemotongan daging sapi yang membantu chef memahami bagian daging dan cara pengolahan yang lebih presisi.
Pendekatan seperti ini sejalan dengan kebutuhan dapur hotel, restoran, dan katering yang menuntut hasil konsisten. Dengan memahami bahan dari tahap awal, chef memiliki banyak ruang untuk menciptakan hidangan yang tetap efisien diproduksi dan menarik disajikan.
Teknik dasar yang dipadukan dengan pengenalan bahan premium membuat acara ini punya fungsi ganda. Di satu sisi, peserta memperoleh wawasan produk, sementara di sisi lain mereka juga melihat cara terbaik untuk memaksimalkan bahan tersebut di dapur.
Australia menyoroti potensi bahan premium
Lauren Adams, Trade Commissioner Austrade, menekankan bahwa inisiatif ini menampilkan kualitas dan ketersediaan musiman produk pangan Australia untuk industri HORECA di Indonesia. Ia berharap ajang tersebut dapat membuka peluang bisnis baru sekaligus meningkatkan minat terhadap produk Australia.
Pernyataan Lauren Adams juga menegaskan bahwa bahan premium dari Australia diharapkan mampu menginspirasi chef untuk berinovasi. Dari sudut pandang industri, hal ini berarti produk pangan tidak berhenti sebagai komoditas dagang, melainkan ikut mendorong kreativitas dalam penyusunan menu.
Bagi restoran dan hotel di Jakarta, pilihan bahan yang lebih beragam dapat memperluas kemungkinan pengembangan sajian. Di tengah persaingan yang ketat, variasi bahan premium sering menjadi salah satu penopang kualitas dan pembeda di mata konsumen.
Hubungan dagang yang sudah berjalan lama
Michael Coote menegaskan bahwa Indonesia telah lama menjadi mitra dagang penting bagi industri sayuran segar Australia. Fakta ini menunjukkan bahwa kerja sama kedua negara dibangun dari hubungan yang sudah berlangsung, bukan sekadar dari satu agenda promosi sesaat.
Andrew Cox juga menyoroti manfaat kegiatan ini sebagai sarana memperlihatkan kualitas daging sapi Australia secara langsung kepada para chef. Ia menilai ajang tersebut memperkuat kolaborasi dengan mitra industri dan mendorong pemanfaatan daging merah Australia yang lebih luas di Indonesia.
Kehadiran berbagai produk unggulan dalam satu rangkaian acara membuat proses penjajakan bisnis menjadi lebih efektif. Pelaku industri dapat membandingkan kualitas produk, membangun kontak baru, dan menyesuaikan kebutuhan dapur mereka dengan pasokan yang tersedia.
Fokus pada daging, sayur, susu, dan minuman
Program ini melibatkan Australian Trade and Investment Commission bersama pemerintah negara bagian Australia, Meat & Livestock Australia, dan AUSVEG. Kerja sama tersebut memperlihatkan bahwa promosi pangan premium dijalankan melalui dukungan banyak pihak yang punya kepentingan pada perluasan pasar.
Fokus produk yang dibawa ke Jakarta juga cukup luas, mulai dari daging sapi, buah dan sayuran, bahan kebutuhan dapur, produk susu, wine, hingga minuman beralkohol. Ragam ini memberi gambaran bahwa kebutuhan industri HORECA tidak hanya berkutat pada satu jenis bahan, tetapi pada keseluruhan komposisi menu yang harus saling mendukung.
Dengan pendekatan yang menggabungkan tasting, demo produk, dan pertemuan bisnis, Australia menempatkan bahan pangan premium sebagai bagian dari proses kreatif chef Indonesia. Dari Jakarta, ruang kerja sama itu terus terbuka untuk melahirkan menu baru dan memperkuat hubungan antara pemasok Australia dengan industri HORECA.
Source: www.medcom.id