Proyek data center yang dikaitkan dengan Microsoft di Amsterdam menjadi sasaran pelemparan puluhan balon berisi campuran bahan kimia oleh aktivis Extinction Rebellion. Aksi dilakukan dari luar pagar lokasi pembangunan dan kini diselidiki oleh polisi Amsterdam.
Balon tersebut disebut berisi asam asetat, hidrogen peroksida, garam, dan cat akrilik. Para aktivis menyatakan campuran itu ditujukan untuk mempercepat pengikisan beton fondasi serta korosi pada baja penyangga bangunan.
Pengembang proyek, Pure Data Centers, membenarkan adanya pelemparan balon ke arah area konstruksi. Perusahaan menyatakan belum mendapati kerusakan berarti dan pekerjaan pembangunan tetap berjalan sesuai rencana.
Pure Data Centers juga berencana mengambil langkah hukum terkait insiden itu. Microsoft belum memberikan tanggapan resmi mengenai aksi yang baru diumumkan kepada publik pada awal pekan ini.
Kebutuhan sumber daya menjadi pusat keberatan
Persoalan yang memicu penolakan tidak berhenti pada aksi vandalisme, melainkan kebutuhan listrik dan air untuk keseluruhan kompleks. Proyek tersebut diperkirakan memerlukan listrik setara hampir seluruh kebutuhan rumah tangga di Amsterdam.
Sistem pendingin kompleks itu juga disebut membutuhkan air hingga 420 juta liter per tahun. Angka tersebut memicu kritik karena rumah tangga dan pelaku usaha di Amsterdam dilaporkan masih menunggu pemasangan sambungan listrik.
| Aspek | Data yang disebutkan | Konteks |
|---|---|---|
| Kebutuhan listrik | Setara hampir seluruh rumah tangga Amsterdam | Untuk keseluruhan kompleks |
| Kebutuhan air | 420 juta liter per tahun | Untuk sistem pendingin |
| Bentuk proyek | Tiga menara terpisah | Tidak masuk definisi hyperscale |
Ketimpangan prioritas penggunaan energi menjadi sorotan utama penentang proyek tersebut. Mereka mempertanyakan pembangunan infrastruktur digital berkapasitas besar ketika akses listrik bagi kebutuhan lain masih terbatas.
Tiga menara dan aturan hyperscale
Amsterdam dan pemerintah Belanda sebelumnya telah membatasi pembangunan data center hyperscale sejak 2022. Kebijakan itu berkaitan dengan keterbatasan pasokan listrik dan air yang dibutuhkan fasilitas komputasi skala besar.
Kompleks yang dikaitkan dengan Microsoft ini disebut dirancang sebagai tiga menara terpisah. Skema tersebut membuat proyek tidak memenuhi definisi hyperscale, meski kebutuhan sumber daya totalnya tetap dinilai sangat besar.
Perdebatan pun bergeser pada celah definisi dalam kebijakan pembangunan. Penentang menilai pemisahan bangunan tidak mengubah dampak gabungan kompleks terhadap jaringan listrik dan persediaan air kota.
CNBC Indonesia melaporkan bahwa penolakan itu turut berkaitan dengan kekhawatiran atas ekspansi infrastruktur AI yang boros energi. Bagi para pengkritik, proyek tersebut mencerminkan persoalan prioritas atas penggunaan sumber daya publik.
Aksi protes dan kritik terhadap metode
Juru bicara Extinction Rebellion, Martijn Dekker, mengaitkan aksi tersebut dengan krisis iklim, bahaya AI, serta dukungan Microsoft terhadap operasi militer di Gaza yang disebutnya sebagai genosida. Ia menilai isu-isu itu berhubungan dengan kekuasaan korporasi besar dan segelintir orang kaya.
Kelompok itu sebelumnya juga melakukan aksi terhadap perusahaan asuransi bahan bakar fosil dan pasar asuransi Lloyd’s di London. Namun, kritikus menilai pelemparan bahan kimia berpotensi membahayakan pekerja dan tidak menyelesaikan sengketa kebijakan energi.
Kasus ini memperlihatkan bahwa ekspansi data center bukan sekadar urusan konstruksi dan teknologi. Ketika kebutuhan listrik, air, iklim, serta kebijakan korporasi bertemu dalam satu proyek, tekanan publik dapat berkembang menjadi konflik terbuka.
Source: www.cnbcindonesia.com






