Banyak Sinyal Kucing Ternyata Keliru Dibaca, Ini Arti Dengkuran, Mengeong, dan Tatapannya

Kucing kerap tampak dekat dengan manusia, tetapi banyak kebiasaan mereka justru mudah keliru dibaca. Padahal, sinyal kecil seperti dengkuran, mengeong, tatapan mata, atau posisi tubuh sering membawa pesan yang berbeda dari dugaan pemiliknya.

Kesalahan membaca bahasa tubuh kucing bisa membuat respons yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan hewan peliharaan itu. Karena itu, memahami perilaku mereka membantu pemilik melihat kapan kucing benar-benar nyaman, kapan ingin sendiri, dan kapan sedang meminta sesuatu.

Dengkuran tidak selalu berarti tenang

Banyak orang menganggap dengkuran sebagai tanda kucing sedang bahagia. Kenyataannya, suara itu juga bisa muncul saat kucing sakit, gelisah, lapar, atau takut.

Itu sebabnya, dengkuran sebaiknya tidak dibaca sendiri. Telinga, ekor, kedipan mata, dan posisi tubuh perlu ikut diperhatikan agar keadaan kucing lebih mudah dipahami.

Mengeong lebih sering ditujukan kepada manusia

Pada kucing dewasa, mengeong justru kerap dipakai untuk berkomunikasi dengan manusia, bukan dengan kucing lain. Jika suara itu terdengar terus-menerus di rumah, kucing mungkin sedang meminta perhatian atau menginginkan sesuatu.

Respons pemilik ikut memengaruhi kebiasaan itu. Jika permintaannya sering langsung dipenuhi, perilaku mengeong bisa terus berulang.

Kucing dan manusia sering punya cara kedekatan yang mirip

Banyak perilaku kucing kepada manusia ternyata menyerupai cara mereka berinteraksi dengan induknya. Menggesekkan kepala, memijat, dan menjilat tubuh sering menjadi tanda meminta kasih sayang, elusan, atau makanan.

Dari sisi kucing, manusia juga kerap diperlakukan seperti sosok induk. Karena itu, kedekatan mereka sering muncul lewat bahasa tubuh yang terlihat sederhana, tetapi punya makna khusus.

Perut yang terbuka bukan ajakan untuk disentuh

Perut adalah bagian yang paling lemah bagi kucing. Saat tidur tengkurap atau memperlihatkan perut, itu sering menunjukkan upaya melindungi area tersebut, dan dalam kondisi tertentu justru menjadi tanda kepercayaan.

Namun, kepercayaan itu tidak berarti perut boleh disentuh sembarangan. Sentuhan atau gelitikan di area itu bisa membuat kucing marah dan merasa tidak nyaman.

Saat terlihat lapar, belum tentu benar-benar soal makanan

Kucing sering mendekati pemilik, mengeong, atau menunggu di dekat piring seolah-olah sedang lapar. Dalam banyak kasus, yang mereka cari justru perhatian, bukan tambahan makanan.

Memberi makan terus-menerus juga bukan pilihan aman. Kebiasaan itu bisa memicu obesitas, yang berkaitan dengan diabetes, penyakit jantung, radang sendi, hingga kanker.

Hadiah aneh dan kebiasaan berburu

Ada kucing yang membawa serangga, burung, atau tikus mati sebagai hadiah untuk pemiliknya. Perilaku ini dipahami muncul karena mereka melihat manusia seperti kucing besar yang lemah dan ingin diajari cara berburu.

Karena itu, hadiah semacam ini tidak selalu harus dibaca sebagai hal aneh tanpa makna. Bagi kucing, itu bisa menjadi bentuk perilaku alami yang masih terbawa dari insting berburu.

Kesehatan mulut dan kebiasaan yang sulit terlihat

Kucing juga membutuhkan perawatan gigi yang rutin, meski sering menolak. Jika dibiarkan, gangguan di mulut bisa berkembang lebih serius dan bahkan memerlukan operasi.

Perawatan gigi dapat dibantu dengan sikat gigi khusus kucing, jari yang dilumuri aroma tuna, mainan bertekstur agak keras, serta dorongan agar kucing cukup minum air. Langkah sederhana itu membantu sisa makanan tidak mudah menempel di gigi.

Rasa sakit sering disembunyikan

Kucing dikenal ahli menyembunyikan sakit. Sifat ini diwarisi dari nenek moyang mereka di alam liar, ketika tanda sakit membuat mereka lebih mudah menjadi sasaran predator.

Karena itu, pemeriksaan rutin ke dokter hewan tetap penting. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain nafsu makan berubah, mata dan hidung berlendir, sering menjilati bulu, lebih sering minum, berat badan berubah, gusi merah tua, dan napas tidak sedap.

Saat ingin bermain dan saat ingin sendiri

Secara umum, kucing adalah hewan soliter. Meski sudah didomestikasi dan hidup lebih dekat dengan manusia, mereka tetap punya momen ketika ingin menyendiri.

Sebaliknya, saat kucing mendekat dan mengeong, itu sering menjadi tanda bahwa mereka ingin bermain atau meminta perhatian. Pada momen lain, memberi ruang justru lebih tepat agar mereka merasa nyaman.

Tatapan mata juga punya arti

Tatapan lama tanpa berkedip tidak selalu berarti kucing sedang menantang. Pada kucing yang nyaman, tatapan pelan disertai kedipan lambat sering dipahami sebagai bentuk kepercayaan.

Dalam situasi lain, tatapan itu juga bisa menunjukkan rasa penasaran atau upaya membaca keadaan sekitar. Karena itu, bahasa mata kucing sebaiknya dibaca bersama keseluruhan gerak tubuhnya.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait