Banyuwangi Perkuat Kesiapsiagaan Kecelakaan Pesawat, Pembagian Peran SAR Dibuat Lebih Tegas

Bandara Internasional Banyuwangi kini memiliki dasar kerja yang lebih jelas untuk menghadapi kecelakaan pesawat udara. Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi serta PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Banyuwangi menandatangani nota kesepakatan untuk memperkuat operasi SAR di wilayah tersebut.

Penguatan ini diarahkan agar respons pencarian dan pertolongan dapat berjalan lebih cepat, tepat, aman, dan terkoordinasi ketika keadaan darurat terjadi. Langkah tersebut juga menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama dalam penanganan insiden penerbangan.

Peran tiap instansi dibuat lebih pasti

Kepala Kantor SAR Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menyebut kerja sama itu sebagai bagian dari komitmen Basarnas untuk membangun sistem respons kedaruratan penerbangan yang cepat, tepat, efektif, dan terkoordinasi. Ia menilai pedoman koordinasi operasional yang jelas akan membantu seluruh unsur bekerja dengan peran yang lebih pasti saat situasi darurat muncul.

Menurut Oka, koordinasi dan komunikasi antarlembaga di wilayah kerja Banyuwangi diharapkan semakin kuat. Pembagian tugas yang lebih tegas juga diharapkan membuat operasi pencarian dan pertolongan berjalan terintegrasi demi keselamatan masyarakat dan pengguna jasa penerbangan.

Tugas SAR dan bandara dibedakan

Dalam kesepakatan itu, Kantor SAR Banyuwangi bertugas melakukan pertukaran informasi pencarian dan pertolongan. Kantor ini juga menerima dan meneruskan alerting service terkait pesawat udara yang membutuhkan bantuan, memperbarui data serta informasi, dan menyampaikan berakhirnya operasi pencarian dan pertolongan.

Sementara itu, Bandara Internasional Banyuwangi berkewajiban memberikan dukungan data, informasi, dan sumber daya. Jika diperlukan, bandara juga dapat mendelegasikan pimpinan Pos Komando Lapangan kepada Basarnas ketika terjadi kecelakaan pesawat udara di perairan sekitar bandara.

Banyuwangi dinilai punya posisi strategis

Oka menegaskan Banyuwangi memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang transportasi udara di kawasan timur Pulau Jawa. Karena itu, kesiapsiagaan seluruh unsur penanganan darurat dinilai perlu terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.

Ia menyampaikan optimisme bahwa kerja sama yang lebih terstruktur akan memperkuat kesiapsiagaan dan efektivitas operasi pencarian dan pertolongan di Banyuwangi dan sekitarnya. Dengan begitu, respons saat keadaan darurat penerbangan terjadi diharapkan bisa lebih cepat dan lebih terarah.

Penandatanganan nota kesepakatan dilakukan bersama General Manajer Bandara Internasional Banyuwangi, Mohammad Holik Muardi, di Bandara Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa. Kesepakatan itu menjadi dasar baru bagi penguatan operasi SAR kecelakaan pesawat di wilayah tersebut.

Source: jatim.antaranews.com

Berita Terkait