Badan Pangan Nasional atau Bapanas menegaskan stok kedelai nasional masih aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir April. Saat ini, cadangan kedelai disebut berada di level 322.000 ton, sementara kebutuhan bulanan di dalam negeri berkisar 220.000 hingga 230.000 ton.
Dengan posisi stok yang masih lebih tinggi dari konsumsi rutin, ketersediaan kedelai dinilai belum menghadapi tekanan serius. Pasokan yang beredar juga berasal dari gabungan produksi petani lokal dan impor, sehingga suplai tetap dijaga agar kebutuhan pasar tidak terganggu.
Sekretaris Utama Bapanas, Sarwo Edhy, menekankan bahwa kedelai memiliki peran besar dalam pangan harian masyarakat. Sekitar 90 persen permintaan kedelai di Indonesia terserap untuk produksi tahu dan tempe, dua olahan yang selama ini menjadi sumber pangan murah bagi banyak keluarga.
Kondisi itu membuat stabilitas pasokan kedelai menjadi perhatian penting pemerintah. Saat distribusi terganggu atau harga bergerak terlalu tinggi, perajin kecil dan menengah paling cepat merasakan dampaknya melalui kenaikan biaya produksi.
Sarwo menyebut stok yang tersedia saat ini masih cukup untuk menjaga pasokan sampai akhir April. Ia mengatakan, “Kaitan dengan ketersediaan stok bahwa saat ini sampai dengan akhir April, stok kedelai kita masih 322.000 ton.”
Pengawasan harga impor diperketat
Selain memastikan stok aman, Bapanas juga memusatkan perhatian pada harga kedelai impor. Lembaga itu menetapkan Harga Acuan Penjualan atau HAP kedelai sebesar Rp 11.500 per kilogram di tingkat importir, sedangkan batas maksimal di tingkat konsumen akhir dipatok Rp 12.000 per kilogram.
Aturan tersebut dipakai untuk menjaga harga tetap berada dalam batas yang telah ditentukan. Jika harga di pasar bergerak melampaui ketentuan, Bapanas menyatakan pengawasan akan dilakukan hingga ke hulu agar pelanggaran bisa ditelusuri.
Sarwo memberi peringatan kepada pelaku usaha bahwa pelanggaran pada level importir tidak akan dibiarkan. Importir yang menjual di atas Rp 11.500 per kilogram dapat dikenai sanksi, termasuk penghentian izin impor untuk periode berikutnya dan pencabutan izin.
Harga pasar masih di bawah batas atas
Pemantauan Bapanas menunjukkan harga kedelai impor di tingkat perajin masih berada di bawah batas maksimal. Dalam sepekan terakhir, harga rata-rata tercatat di kisaran Rp 11.266 hingga Rp 11.320 per kilogram.
Angka itu masih lebih rendah sekitar 5,6 persen hingga 6,1 persen dibandingkan HAP Rp 12.000 per kilogram di tingkat konsumen akhir. Posisi ini memberi ruang bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar tanpa menambah tekanan pada produsen tahu dan tempe.
Bagi usaha kecil, selisih harga bahan baku sangat menentukan keberlanjutan produksi. Di banyak daerah, perajin tahu dan tempe masih bergantung pada harga kedelai yang relatif stabil agar pasokan ke konsumen tetap lancar.
Produksi dalam negeri tetap didorong
Di tengah kondisi stok yang aman, pemerintah juga tetap mengarah pada penguatan produksi kedelai dalam negeri. Langkah ini dijalankan melalui kerja sama Bapanas dan Kementerian Pertanian dalam program pengembangan kedelai.
Sarwo menyebut program tersebut sebagai bagian dari strategi jangka menengah untuk memperbesar volume produksi domestik. Ia berharap produksi lokal bisa meningkat secara bertahap dalam satu tahun ke depan sehingga kebutuhan pasar lebih banyak diserap dari dalam negeri.
“Bapak Menteri Pertanian dalam tahun ini ada program pengembangan kedelai. Mudah-mudahan nanti secara bertahap kedelai dalam negeri, produksinya meningkat, otomatis akan menurunkan impor,” kata Sarwo.
Dengan stok yang masih cukup besar, pengawasan harga impor yang terus dijalankan, dan dorongan untuk memperkuat produksi lokal, pemerintah menempatkan stabilitas kedelai sebagai prioritas. Langkah tersebut penting karena kedelai tetap menjadi bahan baku utama bagi industri tahu dan tempe yang menyentuh kebutuhan harian masyarakat luas.
