Dorongan Dedi Mulyadi untuk menyusun kajian akademik atas Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake membuka kembali cara membaca warisan Sunda secara lebih serius. Dua peninggalan itu, menurutnya, tidak cukup hanya dilihat sebagai benda tua yang lekat dengan kesan mistis, melainkan perlu dijelaskan sebagai sumber pengetahuan sejarah yang utuh.
Bagi KDM, kajian yang disusun juga tidak boleh setengah-setengah. Asal-usul prasasti, bahan pembuatannya, sosok pembuat, sampai makna tulisan yang tercantum di dalamnya perlu dibahas secara komprehensif agar publik mendapat gambaran yang jelas.
Ia menyampaikan pandangan itu dalam Diskusi Kecagarbudayaan bertema “Prasasti Batu Tulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake” di Museum Pajajaran Bogor, Jalan Batu Tulis Blok Sekolah No.37, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. Dalam forum tersebut, perhatian terbesar KDM tertuju pada nilai sejarah Prasasti Batutulis sebagai penanda Pakuan Pajajaran.
Menurut KDM, prasasti itu tidak pantas dipahami sekadar sebagai peninggalan masa lalu. Di dalamnya, ia melihat tersimpan fakta besar tentang kejayaan Kerajaan Sunda di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.
Batutulis dan jejak Pakuan Pajajaran
Prasasti Batutulis punya posisi penting karena menandai Kota Bogor sebagai pusat Kerajaan Pakuan Pajajaran. Karena itu, keberadaannya dinilai bukan hanya penting bagi pelestarian benda budaya, tetapi juga untuk memahami struktur kekuasaan dan sejarah Sunda pada masanya.
Ahli Epigrafi Titi Surti Nastiti menjelaskan bahwa prasasti tersebut dibuat atas perintah Raja Surawisesa untuk mengenang jasa pendahulunya, Prabu Siliwangi. Ia menilai Prabu Siliwangi berjasa memperbaiki penataan di Kota Pakuan Pajajaran sebagai ibu kota Kerajaan Sunda.
Pandangan itu memperkuat alasan mengapa Batutulis perlu dibaca lewat kajian akademik yang rapi. Dengan begitu, masyarakat tidak berhenti pada kesan simbolik, tetapi bisa melihat konteks sejarah yang melekat di balik prasasti tersebut.
Binokasih dan legitimasi raja Sunda
Selain Batutulis, perhatian juga diarahkan pada Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake. Artefak ini disimpan turun-temurun di Keraton Sumedang Larang dan dikenal sebagai salah satu penanda kemegahan Kerajaan Sunda pada masa lampau.
Berdasarkan naskah kuno Carita Parahyangan, mahkota itu dibuat di Kerajaan Galuh sebagai simbol kekuasaan dan legitimasi bagi para raja Sunda. Setelah Kerajaan Sunda runtuh, Mahkota Binokasih diserahkan oleh empat utusan Pajajaran kepada penguasa Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun.
Harry Octavianus Sofian dari BRIN yang hadir dalam diskusi itu menilai mahkota tersebut erat dengan kosmologi Tritangtu dalam budaya Sunda. Konsep itu memuat tiga unsur kehidupan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam.
Ia juga menjelaskan pembagian makna desain Mahkota Binokasih ke dalam tiga peran Kerajaan Sunda, yakni Rama, Ratu atau Prabu, dan Resi. Bagian atas melambangkan Rama sebagai pemimpin spiritual yang menjaga nilai adat, agama, dan kebijaksanaan.
Bagian tengah mewakili Ratu atau Prabu, yang dimaknai sebagai kesempurnaan pemimpin dalam mengambil keputusan dan menyusun aturan. Sementara itu, bagian bawah melambangkan Resi, yakni kelompok intelektual, penasihat, atau orang bijak yang memberi ilmu dan pertimbangan.
Dari pelestarian ke arah kebijakan
KDM menilai penyusunan naskah akademik tidak boleh berhenti pada pelestarian fisik semata. Menurut dia, dokumen itu juga berpotensi menjadi dasar untuk menyusun tata ruang, tata bangunan, tata kelola pendidikan, dan tata kelola kesehatan di Jawa Barat.
Ia melihat ada hubungan antara sejarah masa lalu dan arah masa depan jika pengetahuan tentang Batutulis dan Binokasih dirumuskan secara serius. Karena itu, penjelasan ilmiah dianggap penting agar masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh tentang warisan Sunda.
Mahkota Binokasih sendiri dikenal sangat bernilai sehingga disimpan rapat oleh Keraton Sumedang Larang. Namun saat rangkaian Milangkala Tatar Sunda, mahkota itu pernah dibawa ke sejumlah kabupaten dan kota sebagai bagian dari napak tilas Pajajaran.
Rangkaian tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk mengenali sejarah Kerajaan Sunda lebih dekat. Di tengah upaya pelestarian itu, dorongan kajian akademik atas Batutulis dan Binokasih kini menjadi pintu untuk membaca ulang makna Pajajaran dengan lebih terang dan berbasis ilmu pengetahuan.
Source: www.viva.co.id






