PT Bayan Resources Tbk (BYAN) memulai kuartal I-2026 dengan tekanan pada dua lini sekaligus, yaitu pendapatan yang lebih rendah dan laba bersih yang ikut terkikis. Dalam tiga bulan pertama tahun ini, laba bersih emiten milik Low Tuck Kwong itu turun 12,4 persen menjadi US$ 190,7 juta atau sekitar Rp 3,3 triliun.
Pelemahan utama datang dari penjualan bersih yang tidak mampu mempertahankan laju periode sebelumnya. BYAN membukukan pendapatan bersih US$ 821,6 juta, lebih rendah dibandingkan US$ 890,1 juta pada kuartal I tahun lalu.
Jika dihitung secara tahunan, pendapatan itu turun 7,6 persen. Koreksi tersebut menjadi faktor terbesar yang menyeret hasil akhir perseroan pada awal tahun.
Beban turun, tapi belum cukup
Di sisi operasional, perusahaan memang berhasil menekan beban pokok pendapatan menjadi US$ 554,5 juta dari US$ 574,9 juta pada periode yang sama sebelumnya. Langkah ini menunjukkan adanya upaya pengendalian biaya di tengah kondisi usaha yang menantang.
Namun, penghematan itu belum cukup besar untuk menahan pelemahan kinerja. Laba bruto BYAN tetap turun 15,2 persen menjadi US$ 267,06 juta dari sebelumnya US$ 315,2 juta.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan dari sisi pendapatan masih lebih kuat dibandingkan perbaikan efisiensi. Saat penjualan melemah lebih dalam, ruang untuk menjaga margin juga ikut menyempit.
Posisi keuangan masih kuat
Walau laba terkoreksi, neraca BYAN masih berada dalam kondisi yang relatif solid. Hingga akhir Maret 2026, total aset perusahaan tercatat US$ 3,5 miliar.
Pada periode yang sama, liabilitas BYAN berada di level US$ 617,2 juta. Sementara itu, ekuitas perseroan tercatat US$ 2,8 miliar.
Komposisi tersebut menunjukkan bantalan keuangan yang masih besar untuk menopang aktivitas usaha. Karena itu, penurunan laba belum langsung mengubah kekuatan struktur keuangan perusahaan secara keseluruhan.
Laporan keuangan yang dirilis Kamis (30/4/2026) menegaskan bahwa awal tahun ini belum menjadi periode yang ringan bagi BYAN. Pasar kini akan melihat apakah pengendalian biaya dapat kembali membantu menahan tekanan laba, terutama jika pendapatan belum pulih dalam waktu dekat.
