BBNI Satu-Satunya Yang Dapat Net Buy Asing, Big Banks Lain Masih Tertekan

Tekanan paling besar pada saham big banks datang dari PT Bank Mandiri Tbk atau BMRI. Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia, Senin (27/4/2026), saham BMRI turun 2,22 persen ke level Rp 4.400 per saham dan mencatat jual bersih asing paling besar di kelompok bank berkapitalisasi besar, yakni Rp 678,51 miliar.

Pelemahan BMRI itu menjadi sorotan karena terjadi di tengah kondisi sektor perbankan papan atas yang sama-sama berada di bawah tekanan. Arus keluar dana asing masih dominan, sementara minat beli belum cukup kuat untuk menahan pergerakan harga ke zona merah.

BBCA dan BBRI ikut tertekan

Selain BMRI, PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA juga bergerak melemah. Sahamnya turun 1,24 persen ke posisi Rp 5.975, dengan net sell asing mencapai Rp 896,04 miliar.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BBRI mencatat penurunan yang lebih kecil dibanding dua bank besar lainnya. Saham BBRI terkoreksi 0,65 persen ke level Rp 3.050, tetapi tetap dibebani jual bersih asing senilai Rp 200,25 miliar.

Tiga saham tersebut sama-sama berakhir di zona merah, meski besar koreksinya berbeda. Pola ini menunjukkan pelaku pasar masih cenderung berhati-hati terhadap saham perbankan besar.

BBNI bergerak berbeda meski tetap turun

Di antara big banks, PT Bank Negara Indonesia Tbk atau BBNI mencatat pergerakan yang berbeda dari sisi aliran dana asing. Saham BBNI turun 1,33 persen ke Rp 3.720, tetapi asing justru membukukan pembelian bersih sebesar Rp 17,99 miliar.

Kondisi ini menunjukkan minat investor asing belum sepenuhnya hilang dari sektor perbankan besar. Meski begitu, pembelian bersih tersebut belum cukup kuat untuk membawa BBNI bertahan di area hijau saat perdagangan ditutup.

Sentimen pasar masih membayangi

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai tekanan pada saham big banks belum mereda. Ia menyebut volatilitas nilai tukar rupiah, pengumuman indeks MSCI, dan rilis laporan kinerja kuartal I-2026 sebagai tiga faktor yang masih membayangi pergerakan sektor ini.

Menurut Wafi, pasar cenderung mengambil sikap hati-hati dalam jangka pendek karena masih menunggu kepastian dari sejumlah sentimen tersebut. Ia juga menilai peluang rebound singkat tetap ada jika kinerja emiten besar menunjukkan kekuatan yang konsisten.

Wafi mengatakan, “BMRI sudah buktikan kinerja kuat, dan kalau BBCA serta BBRI rilis angka serupa, bisa jadi pemicu rebound singkat.” Ia menambahkan bahwa dari sisi valuasi, BBNI sudah berada di bawah nilai bukunya.

Masih berpotensi bergerak menyamping

Untuk pekan ini, Wafi memperkirakan saham big banks masih cenderung bergerak menyamping dengan ruang pemulihan yang terbatas. Kondisi itu membuat investor dinilai perlu lebih selektif dalam membaca momentum masuk ke sektor perbankan besar.

Dalam pandangannya, akumulasi bertahap masih menjadi strategi yang layak dipertimbangkan. BMRI dan BBNI disebut sebagai pilihan utama karena dinilai memiliki valuasi yang lebih menarik serta sudah memperlihatkan sinyal kinerja yang solid.

Pergerakan pada penutupan perdagangan Senin itu menegaskan bahwa saham bank besar masih sangat dipengaruhi sentimen eksternal dan ekspektasi terhadap laporan kinerja. Selama tekanan dari arus jual asing dan faktor pasar lain belum mereda, arah saham big banks kemungkinan tetap ditentukan oleh respons investor terhadap kabar fundamental berikutnya.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer