Bea Cukai Dorong Kontainer Cepat Keluar, BYD dan Wuling Disebut Masih Tertahan

Penumpukan ribuan kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok disebut terjadi bukan karena urusan administrasi kepabeanan, melainkan karena barang yang sudah selesai diproses belum segera dikeluarkan oleh importir. Direktorat Jenderal Bea Cukai menyebut kondisi itu membuat arus keluar barang tersendat dan berpotensi mengganggu dwelling time di pelabuhan.

Direktur Jenderal Bea Cukai Djaka Budhi Utama mengatakan masalah utama ada pada proses pengambilan barang setelah Surat Persetujuan Pengeluaran Barang atau SPPB terbit. Menurut dia, kewajiban administrasi para importir sudah selesai, tetapi kontainer masih tertahan di area pelabuhan.

BYD dan Wuling ikut disebut

Dalam penjelasannya, Djaka mencontohkan BYD dan Wuling sebagai perusahaan yang barangnya belum segera diambil. Ia menyebut kedua pabrikan otomotif itu masih memanfaatkan fasilitas penyimpanan di pelabuhan selama tiga hari setelah SPPB keluar.

Djaka juga menyampaikan bahwa dalam sejumlah kasus, barang bahkan belum diangkut lebih dari dua minggu. Pada saat itu, jumlah kontainer yang masih berada di pelabuhan disebut hampir mencapai 10 ribu unit.

Fasilitas pelabuhan dinilai ikut menahan arus barang

Menurut Djaka, sebagian importir memilih memanfaatkan fasilitas yang tersedia di pelabuhan karena dianggap lebih menguntungkan dari sisi biaya. Kondisi itu membuat kontainer tetap berada di area pelabuhan lebih lama sebelum dipindahkan ke lokasi tujuan berikutnya.

Bea Cukai kemudian disebut mengambil langkah pemaksaan agar perusahaan segera mengeluarkan barangnya. Langkah ini diarahkan untuk mencegah penumpukan semakin besar dan menjaga kelancaran operasi pelabuhan.

Fokus pengeluaran barang, bukan proses kepabeanan

Djaka menegaskan Bea Cukai sudah menjalankan tugas di lini terdepan pelabuhan sesuai standar pelayanan keluar-masuk barang. Karena itu, ia menilai persoalan yang tersisa bukan pada proses kepabeanan, melainkan pada keterlambatan pengeluaran barang oleh pelaku usaha.

Ia juga menjelaskan bahwa barang diharapkan segera dipindahkan ke lini 2 atau ke tempat di luar pelabuhan. Opsi itu dinilai dapat membantu mengurangi penumpukan kontainer dan memperlancar pergerakan barang di Tanjung Priok.

Source: www.cnnindonesia.com

Berita Terkait