Beban Perang Iran Tembus Rp507 Triliun, Anggaran Pertahanan AS Makin Terjepit

Pengeluaran Amerika Serikat untuk operasi militer melawan Iran kini sudah mendekati US$29 miliar atau sekitar Rp507 triliun. Beban sebesar itu membuat anggaran pertahanan AS semakin terasa sesak, apalagi biaya perang tidak berhenti pada tahap serangan awal saja.

Wakil Menteri Perang sekaligus Kepala Keuangan AS, Jules W. Hurst III, menyampaikan angka tersebut dalam sidang Komite Anggaran Pertahanan DPR AS. Ia menjelaskan bahwa estimasi biaya terus bergerak naik setelah staf dan pengawas anggaran memperbarui perhitungan, terutama ketika komponen perbaikan dan penggantian peralatan dimasukkan lebih lengkap.

Biaya perang melebar di luar operasi tempur

Hurst menyebut estimasi sebelumnya berada di kisaran US$25 miliar. Namun, angka itu naik ketika biaya pemulihan alat dan penggantian perlengkapan dihitung secara lebih utuh.

Selain itu, anggaran juga tertekan oleh ongkos operasional sehari-hari untuk memastikan pasukan tetap berada di lapangan. Artinya, biaya perang tidak hanya muncul saat serangan berlangsung, tetapi juga dari dukungan berkelanjutan agar pasukan tetap siap bertugas.

Kondisi tersebut membuat operasi militer di kawasan itu kian mahal bagi Washington. Saat konflik berlarut, kebutuhan logistik, perlindungan pasukan, dan pemulihan alat tempur ikut menambah beban sistem anggaran pertahanan.

Ketegangan dengan Iran memicu eskalasi kawasan

Ketegangan antara AS dan Iran memuncak sejak 28 Februari ketika Washington bersama Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah target di Iran. Serangan itu menimbulkan kerusakan besar dan memakan korban sipil.

Iran kemudian membalas dengan serangan lanjutan, yang membuat situasi kawasan semakin tidak stabil. Eskalasi ini juga memperbesar risiko konflik di jalur energi penting dunia.

Salah satu titik paling sensitif adalah Selat Hormuz. Jalur distribusi minyak dan gas alam cair itu nyaris terhenti akibat meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.

Dampak ke pasar energi ikut meluas

Gangguan di Selat Hormuz langsung memberi tekanan pada pasar energi internasional. Harga energi melonjak tajam dan menambah beban pada perekonomian global yang sudah rentan terhadap gejolak geopolitik.

Efeknya tidak berhenti pada biaya militer di dalam negeri AS. Ketidakpastian pasokan energi dan sentimen investor ikut terdorong naik seiring memburuknya situasi keamanan di kawasan.

Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump memperluas operasi militer dengan alasan menjaga keamanan kawasan dan menekan kemampuan Iran. Washington juga menyampaikan bahwa operasi itu ditujukan untuk melemahkan kapasitas militer dan ekonomi Teheran.

Sorotan fiskal di Washington makin tajam

Di dalam negeri, pembengkakan biaya perang menambah tekanan fiskal bagi pemerintah AS. Kongres pun menuntut transparansi penggunaan anggaran pertahanan agar publik mendapat gambaran jelas soal lonjakan biaya yang terjadi.

Pernyataan Hurst membuat beban keuangan operasi militer AS di Iran kembali menjadi perhatian utama. Selama konflik masih berlangsung, angka pengeluaran diperkirakan tetap menjadi titik panas dalam perdebatan anggaran pertahanan di Washington.

Source: www.viva.co.id

Berita Terkait