Lima orang dilaporkan tewas dalam serangan Israel di Lebanon ketika gencatan senjata yang sedang diuji di lapangan belum juga menemukan kepastian baru. Di saat korban kembali berjatuhan, Beirut justru bergerak ke Washington untuk meminta dukungan atas perpanjangan jeda konflik.
Di antara korban itu terdapat seorang jurnalis, sementara jurnalis lain terluka dalam serangan yang juga menyasar wilayah selatan dan timur Lebanon. Perkembangan ini menambah tekanan pada pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat, karena pelanggaran gencatan senjata masih terus dilaporkan dari medan konflik.
Beirut ajukan satu bulan tambahan
Seorang pejabat Lebanon mengatakan kepada AFP bahwa pemerintah akan meminta perpanjangan gencatan senjata selama satu bulan. Permintaan itu juga mencakup penghentian pemboman Israel, penghentian penghancuran di wilayah yang masih diduduki, serta kepatuhan penuh terhadap isi kesepakatan.
Gencatan senjata yang sedang berlaku disebut baru berjalan 10 hari dan dijadwalkan berakhir pada Minggu. Presiden Lebanon Joseph Aoun menyebut komunikasi masih berlangsung untuk memperpanjang masa jeda tersebut, sehingga jalur diplomasi belum benar-benar tertutup meski situasi di perbatasan tetap rapuh.
Korban sipil dan pekerja media kembali jatuh
Di lapangan, serangan Israel tetap memakan korban saat pembicaraan terus berlangsung. Media lokal dan tim penyelamat melaporkan jurnalis Amal Khalil tewas dalam salah satu serangan, sedangkan jurnalis Zeinab Faraj terluka dan dibawa ke rumah sakit.
Menteri Informasi Lebanon Paul Morcos mengatakan Khalil “menjadi sasaran tentara Israel saat menjalankan tugas profesinya”. Pernyataan itu mempertegas risiko besar yang dihadapi pekerja media saat meliput konflik di wilayah yang masih dilanda serangan.
Media negara Lebanon sebelumnya juga melaporkan empat orang tewas dalam serangan di wilayah selatan dan timur negara itu. Dengan demikian, serangan terbaru yang dilaporkan kembali menambah daftar korban di tengah upaya menahan eskalasi.
Israel dan Lebanon saling lempar tuduhan
Militer Israel mengatakan telah mengidentifikasi dua kendaraan di Lebanon selatan yang keluar dari sebuah struktur militer yang digunakan Hezbollah. Dalam penjelasannya, Israel menyebut kendaraan tersebut melanggar pemahaman gencatan senjata dan dianggap menimbulkan ancaman langsung.
Di sisi lain, pejabat Israel tetap menekan Lebanon agar lebih tegas menghadapi Hezbollah. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengatakan tidak ada “perbedaan serius” antara kedua negara, tetapi ia kembali menyebut Lebanon sebagai “negara gagal” yang berada di bawah pengaruh Iran melalui Hezbollah.
Hezbollah menolak negosiasi langsung dengan Israel. Seorang anggota parlemen Hezbollah mengatakan kepada AFP pada Senin bahwa kelompok itu masih mungkin menerima pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Amerika Serikat, sehingga masih ada ruang terbatas untuk jalur diplomasi.
Pada saat yang sama, Hezbollah mengeluarkan empat pernyataan pada Rabu yang menyebut pihaknya menyerang target Israel di Lebanon selatan sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata. Situasi ini menunjukkan kedua pihak masih saling menuduh sebagai pemicu memburuknya keadaan.
Dampak perang belum mereda
Skala kerusakan perang di Lebanon tetap besar di tengah semua pembicaraan politik itu. Menurut otoritas Lebanon, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan sedikitnya 2.454 orang sejak perang dimulai, sementara Dewan penelitian ilmiah negara itu memperkirakan lebih dari 50.000 unit rumah rusak atau hancur.
Pasukan Israel juga masih berada di puluhan desa di Lebanon selatan, di belakang garis yang disebut militer sebagai “Yellow Line”. Israel menggambarkan wilayah itu sebagai zona keamanan sedalam 10 kilometer di sepanjang perbatasan selatan Lebanon.
Ketegangan itu turut diperumit oleh kabar dari Prancis, setelah Presiden Emmanuel Macron mengatakan pada Rabu bahwa seorang tentara Prancis kedua meninggal akibat luka yang dideritanya dalam penyergapan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon pada akhir pekan. Serangan itu disebut pihak Prancis terkait Hezbollah, meski kelompok tersebut membantah bertanggung jawab.







