Gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon langsung memunculkan suasana campuran di Beirut: meriah, lega, tetapi juga penuh kewaspadaan. Warga menyambut kabar itu dengan turun ke jalan, menyalakan kembang api, dan di beberapa titik terdengar tembakan perayaan setelah tengah malam.
Meski begitu, euforia itu tidak menghapus kenyataan bahwa situasi di perbatasan selatan Lebanon masih sangat rapuh. Banyak keluarga yang sebelumnya mengungsi mulai bergerak kembali ke arah Lebanon selatan dan pinggiran selatan Beirut, namun pejabat setempat mengingatkan agar kepulangan tidak dilakukan secara tergesa-gesa.
Harapan Pulang yang Muncul Cepat
Bagi warga yang lama hidup dalam ketakutan serangan, jeda tempur ini segera dibaca sebagai peluang untuk kembali ke rumah. Suasana di sejumlah kawasan, terutama Beirut, berubah lebih hidup ketika kabar gencatan senjata menyebar dan orang-orang mulai memikirkan langkah pulang.
Namun, dorongan untuk kembali itu tidak dibarengi kepastian penuh. Aparat dan pejabat lokal menilai keadaan di lapangan masih bisa berubah dalam hitungan jam, sehingga warga diminta menunggu sampai kondisi benar-benar aman sebelum kembali sepenuhnya.
Tuduhan Pelanggaran di Jam-Jam Awal
Belum lama gencatan senjata berlaku, Tentara Lebanon menuduh Israel sudah melanggar kesepakatan. Dalam pernyataannya, militer Lebanon menyebut ada penembakan artileri secara berselang di sejumlah desa di Lebanon selatan.
Hingga tuduhan itu disampaikan, pihak militer Israel belum memberi komentar. Situasi tersebut membuat masa tenang yang baru dimulai langsung terlihat rentan, terutama karena harapan publik untuk pulang harus berhadapan dengan laporan soal tembakan di wilayah selatan.
Posisi Para Pihak yang Terlibat
Benjamin Netanyahu mengatakan Israel menyetujui gencatan senjata sebagai bagian dari dorongan menuju perdamaian dengan Lebanon. Namun, ia juga menegaskan tentara Israel tidak akan mundur dari apa yang disebut sebagai “zona keamanan” di dalam wilayah Lebanon.
Dari pihak Hizbullah, kelompok bersenjata yang didukung Iran itu mengeluarkan pernyataan panjang mengenai operasi militernya terhadap Israel sepanjang Kamis. Mereka menyebut serangan terakhir diluncurkan pukul 23.50 waktu setempat, hanya 10 menit sebelum gencatan senjata mulai berjalan.
Donald Trump kemudian menulis di Truth Social dan meminta Hizbullah menghormati kesepakatan tersebut. Ia menegaskan harapannya agar kelompok itu menjaga masa penting ini, dengan pesan bahwa tidak boleh ada lagi pembunuhan dan perdamaian harus tercapai.
Latar Konflik yang Membuat Kesepakatan Ini Penting
Pertempuran Israel dan Hizbullah kembali membesar setelah kelompok Lebanon itu ikut terlibat dalam konflik untuk mendukung Teheran. Langkah tersebut memicu ofensif Israel di Lebanon, sekitar 15 bulan setelah bentrokan besar terakhir antara kedua negara tetangga itu.
Latar itu membuat gencatan senjata terbaru dipandang sebagai salah satu upaya paling penting untuk meredakan ketegangan regional. Kesepakatan ini juga muncul pada saat kekhawatiran terhadap meluasnya konflik ke wilayah yang lebih luas masih tinggi.
Dukungan Regional dan Jalur Diplomasi
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyambut pengumuman itu dan menyebutnya sebagai tuntutan utama Lebanon sejak hari pertama perang. Ia juga mengatakan gencatan senjata menjadi tujuan utama pertemuan pejabat Lebanon dan Israel di Amerika Serikat pada Selasa.
Trump turut mengundang para pemimpin Israel dan Lebanon ke Gedung Putih untuk pembicaraan yang ia sebut sebagai “the first meaningful talks” antara kedua negara sejak 1983. Jika terlaksana, langkah itu dapat membuka ruang diplomasi yang selama ini hampir tertutup.
Iran melalui Kementerian Luar Negeri juga menyambut gencatan senjata dan menyebutnya bagian dari kesepakatan yang lebih luas dengan Amerika Serikat untuk menghentikan perang regional. Qatar, Jordan, dan Bahrain ikut mengeluarkan pernyataan yang mendukung penghentian permusuhan antara Israel dan Lebanon.
- Gencatan senjata berlaku selama 10 hari dan disambut perayaan di Beirut.
- Tentara Lebanon menuduh Israel melanggar kesepakatan lewat penembakan artileri di Lebanon selatan.
- Israel menyetujui gencatan senjata, tetapi tetap mempertahankan klaim atas “zona keamanan”.
- Hizbullah menyebut serangan terakhir mereka terjadi 10 menit sebelum jeda tempur dimulai.
- Sejumlah negara kawasan menyambut penghentian permusuhan sebagai langkah awal meredakan konflik.
Di tengah perayaan dan kekhawatiran yang berjalan bersamaan, gencatan senjata ini memperlihatkan betapa tipisnya batas antara harapan dan ancaman di Lebanon selatan. Nasib kesepakatan kini sangat bergantung pada kepatuhan semua pihak dalam menjaga ketenangan di wilayah yang masih menjadi titik paling sensitif dalam konflik tersebut.
