Belgia memasuki laga hidup-mati melawan Senegal dengan kondisi skuad yang lebih lengkap. Kembalinya Jeremy Doku memberi tambahan tenaga di lini serang, sementara Zeno Debast juga sudah pulih dari cedera kaki dan menambah kedalaman pilihan Rudy Garcia.
Situasi itu membuat The Red Devils menatap babak 32 besar Piala Dunia 2026 dengan rasa percaya diri yang lebih besar. Namun, Garcia tetap menuntut kewaspadaan penuh karena fase gugur tidak memberi ruang bagi tim yang lengah sedikit saja.
Doku Bawa Variasi di Sisi Sayap
Kehadiran Doku menjadi kabar penting bagi Belgia karena winger Manchester City itu menawarkan variasi serangan dari sisi lapangan. Ia sempat absen karena mendampingi kelahiran putranya dan mengalami gangguan kesehatan ringan.
Dengan Doku kembali, Belgia punya opsi untuk menjaga intensitas serangan saat pertandingan berjalan ketat. Hal ini dinilai penting setelah performa mereka pada awal fase grup sempat kurang meyakinkan sebelum kemudian memasuki duel melawan Senegal dengan kondisi yang lebih stabil.
Pertahanan Belgia Masih Jadi Fondasi
Garcia menegaskan bahwa kekuatan Belgia tidak hanya bertumpu pada para pemain depan. Ia menilai organisasi permainan yang rapi, khususnya di lini belakang, menjadi dasar utama yang bisa diandalkan untuk menghadapi tekanan di fase gugur.
Dalam tiga laga penyisihan, Belgia hanya kebobolan dua gol. Catatan itu tercipta saat melawan Mesir dan Selandia Baru, dan dianggap sebagai bukti bahwa struktur pertahanan mereka cukup disiplin untuk melanjutkan perjalanan turnamen.
| Aspek | Catatan Belgia | Arti bagi laga |
|---|---|---|
| Gol kebobolan | 2 gol dalam 3 pertandingan | Menunjukkan pertahanan yang cukup kuat |
| Pemain sayap | Jeremy Doku kembali bergabung | Memberi variasi serangan dari sisi lapangan |
| Lini belakang | Zeno Debast pulih dari cedera kaki | Menambah opsi susunan tim |
Debast Belum Dipaksakan Tampil Penuh
Meski sudah pulih, Debast belum diproyeksikan langsung menjadi starter. Garcia memilih berhati-hati dan menyebut sang bek muda masih membutuhkan waktu untuk kembali ke kapasitas terbaiknya.
“Dia akan membutuhkan waktu untuk kembali ke 100 persen kapasitas dan potensinya,” kata Rudy Garcia. Sikap itu memperlihatkan Belgia tidak ingin mengambil risiko berlebihan terhadap pemain yang baru pulih dari cedera.
Garcia juga menilai kekuatan tim tidak boleh bergantung pada sebelas pemain inti saja. Bagi Belgia, kedalaman skuad menjadi faktor penting agar kualitas permainan tetap terjaga sepanjang turnamen.
Garcia Waspada Terhadap Senegal
Meski berstatus unggulan, Belgia tidak ingin terpeleset di babak gugur. Garcia mengingatkan bahwa kejutan bisa terjadi kapan saja, dengan menyinggung tersingkirnya Jerman dan Belanda sebagai contoh bahwa nama besar tidak selalu berakhir dengan kemenangan.
Pesan itu relevan karena Senegal memiliki karakter permainan yang bisa menyulitkan bila Belgia kehilangan fokus. Garcia menilai tidak ada lawan yang layak dipandang ringan pada tahap ini.
Romelu Lukaku tetap diperkirakan menjadi tumpuan utama di lini depan saat Belgia membutuhkan penyelesaian akhir yang efektif. Garcia juga berharap cuaca sejuk di Seattle dapat membantu timnya bermain lebih agresif dan menjaga ritme serangan sepanjang laga.
Pertemuan Khusus dengan Pape Thiaw
Laga ini juga menyimpan sisi personal bagi Rudy Garcia karena ia akan berhadapan dengan Pape Thiaw, pelatih Senegal yang pernah menjadi anak asuhnya di Saint-Etienne. Garcia menyebut Thiaw sebagai sosok yang luar biasa, baik ketika masih bermain maupun setelah masuk ke dunia kepelatihan.
Meski ada hubungan lama di antara keduanya, urusan itu akan dikesampingkan begitu pertandingan dimulai. Fokus Belgia tetap satu, yakni memastikan tiket ke babak 16 besar dan menjaga ambisi mereka di Piala Dunia 2026.
Dengan Doku kembali, Debast pulih, dan opsi tim yang lebih beragam, Belgia kini punya modal yang lebih baik untuk menghadapi Senegal. Tantangannya tetap besar, tetapi kondisi skuad yang membaik memberi The Red Devils landasan yang lebih kokoh untuk melangkah lebih jauh.
Source: www.suara.com






