Ben Gvir Ditegur Netanyahu Usai Video Gaza Picu Kecaman Baru, Pengaruhnya Kian Besar

Author: Redaksi Android62

Sikap Itamar Ben Gvir kembali menjadi sorotan setelah ia mengunggah video yang menampilkan puluhan aktivis armada bantuan ke Jalur Gaza dalam posisi berlutut, dengan tangan terikat dan dahi menempel ke tanah. Rekaman itu memicu kecaman dari Italia dan Spanyol, yang mendesak Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap menteri keamanan nasional Israel tersebut.

Ben Gvir sendiri tidak menunjukkan penyesalan. Ia justru menyebut gambar-gambar itu sebagai sumber kebanggaan besar, dan respons itu kembali menegaskan gaya politiknya yang keras serta terbuka menantang kritik dari dalam maupun luar negeri.

Di Israel, Ben Gvir kini berada di pusat kekuasaan dan punya pengaruh yang jauh melampaui sekadar jabatan kabinet biasa. Sebagai Menteri Keamanan Nasional, ia menjadi simbol menguatnya arus politik kanan ekstrem yang terus memicu perdebatan panas, terutama karena kebijakannya terhadap Palestina kerap dianggap memperuncing ketegangan.

Kedudukannya tidak muncul dari kompromi politik. Ben Gvir dibentuk oleh pandangan sayap kanan ekstrem yang sejak awal mewarnai langkah dan pernyataannya, lalu membawanya dari sosok provokatif di pinggiran ke posisi yang memengaruhi arah kebijakan negara.

Dari pinggiran ke kursi menteri

Ben Gvir masuk Knesset pada 2021 sebagai ketua partai Jewish Power. Setahun kemudian, ia naik menjadi menteri setelah beraliansi dengan partai Zionisme Religius yang dipimpin Bezalel Smotrich.

Perjalanan itu menempatkannya di jantung pemerintahan Israel, meski latar politiknya tetap lekat dengan gagasan aneksasi Tepi Barat dan dukungan terhadap pemindahan paksa penduduk Arab ke negara tetangga. Dari posisi itu, ia terus mendorong garis kebijakan yang keras terhadap Palestina.

Ia juga tinggal di permukiman radikal di Tepi Barat yang diduduki. Wilayah itu menjadi rumah bagi sekitar tiga juta warga Palestina, dan dari sana Ben Gvir konsisten mendukung penguatan kendali Israel atas wilayah pendudukan.

Aksi dan pernyataan yang terus memicu kecaman

Nama Ben Gvir berulang kali muncul karena tindakan yang dianggap provokatif. Ia pernah merayakan pengesahan undang-undang hukuman mati bagi warga Palestina dengan sebotol sampanye, dan pernah merayakan ulang tahun dengan kue berhias simbol tiang gantungan.

Ia juga kerap tampil di lokasi-lokasi yang sangat sensitif secara politik dan keagamaan. Di kompleks Al-Aqsa, yang oleh umat Yahudi disebut Temple Mount, ia beberapa kali bersuara keras dan meneriakkan slogan “Hidup rakyat Israel!”.

Kritik terhadapnya tidak hanya datang dari lawan politik di dalam negeri. Sejumlah pengamat menilai ia ikut memperbesar ketegangan dengan memanfaatkan jabatan untuk menekan kepolisian dan menajamkan konflik di titik-titik rawan.

Makin keras setelah perang Gaza pecah

Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang di Gaza pecah, nada politik Ben Gvir semakin keras. Ia mendorong warga sipil untuk dipersenjatai, menyerukan emigrasi penduduk Gaza, dan mengusulkan pembangunan kembali permukiman Israel di wilayah kantong itu.

Sikap keras itu juga terlihat dalam pernyataan publik lain. Pada November lalu, ia menyatakan dukungan penuh kepada pasukan Israel yang menembak mati dua warga Palestina dari jarak dekat setelah mereka menyerah di Jenin, Tepi Barat.

Di platform X, Ben Gvir menulis, “Teroris harus mati!”. Ucapan itu kembali memperkuat citranya sebagai politisi yang memakai bahasa ekstrem di tengah konflik yang sudah sangat sensitif.

Akar ideologi yang panjang

Retorika Ben Gvir banyak dikaitkan dengan pengaruh rabi ekstremis Meir Kahane. Ia juga pernah mendukung gerakan Kach, yang kemudian dilarang di Israel setelah simpatisannya, Baruch Goldstein, membunuh 29 jemaah Palestina di sebuah masjid di Hebron pada 1994.

Ben Gvir pernah memajang potret Goldstein di ruang tamunya sebelum menurunkannya ketika mulai masuk ke politik arus utama. Ia juga memiliki riwayat panjang berhadapan dengan hukum, termasuk didakwa lebih dari 50 kali atas tuduhan penghasutan kekerasan atau ujaran kebencian saat muda.

Ia mengklaim bebas dari 46 dakwaan dan kemudian mempelajari hukum untuk membela dirinya sendiri. Kepada AFP pada 2022, ia mengatakan dirinya telah berubah, meski tidak sepenuhnya meninggalkan pandangan lama, dan mengakui pernah ingin mengusir semua orang Arab tanpa meminta maaf atas ucapannya itu.

Kombinasi jabatan tinggi, ideologi keras, dan kemampuan memancing perhatian publik membuat Ben Gvir tetap menjadi figur yang sulit diabaikan. Di saat banyak tokoh memilih meredam tensi, ia justru menjadikan konfrontasi sebagai bagian dari identitas politiknya.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru