Bennett Dan Lapid Gabungkan Kekuatan, Netanyahu Kini Hadapi Ujian Baru Dari Oposisi Terpecah

Author: Redaksi Android62

Naftali Bennett dan Yair Lapid kembali tampil sebagai pasangan politik yang berupaya mengubah arah persaingan di Israel. Dua mantan perdana menteri itu memilih menyatukan kekuatan untuk menghadapi Benjamin Netanyahu, sosok yang masih menjadi pusat gravitasi politik dalam peta oposisi maupun pemerintahan.

Langkah itu lahir ketika kubu anti-Netanyahu masih menghadapi masalah lama, yakni perpecahan di antara partai-partai lawan. Dengan membentuk aliansi baru, Bennett dan Lapid mencoba mengisi ruang yang selama ini membuat oposisi sulit tampil sebagai blok yang benar-benar kompak.

Upaya menyatukan oposisi yang tercerai-berai

Dalam langkah terbarunya, partai Bennett 2026 dan There is a Future digabung menjadi Together. Penggabungan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai kerja sama teknis, tetapi juga sebagai sinyal bahwa oposisi ingin tampil dengan wajah yang lebih terorganisasi.

Bennett menyebut keputusan itu sebagai langkah yang paling Zionis dan paling patriotik bagi Israel. Lapid menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah menyatukan blok oposisi, menghentikan pertikaian internal, dan memusatkan energi untuk memenangkan pemilu mendatang.

Aliansi ini juga mencerminkan realitas politik Israel yang terpecah. Banyak partai oposisi memang memiliki satu titik temu, yaitu penolakan terhadap Netanyahu, tetapi kesamaan itu selama ini belum cukup untuk melahirkan kekuatan bersama yang stabil.

Tekanan terhadap Netanyahu belum mereda

Dorongan baru dari Bennett dan Lapid muncul di tengah tekanan yang masih membayangi Netanyahu setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 memicu perang besar di Gaza. Sejak saat itu, persoalan keamanan menjadi salah satu titik paling sensitif bagi citra Netanyahu di mata publik.

Sejumlah survei juga menunjukkan bahwa peluang Netanyahu untuk kalah dalam pemilu berikutnya masih terbuka. Situasi itu membuat manuver politik Bennett dan Lapid mendapat perhatian besar, karena keduanya dipandang sebagai figur yang mampu menawarkan alternatif yang lebih rapi bagi pemilih oposisi.

Kritik terhadap Netanyahu pun datang dari tokoh yang pernah berada dekat pusat kekuasaan. Lapid, misalnya, menyebut gencatan senjata dua minggu dengan Iran sebagai “bencana politik”, yang memperlihatkan kerasnya serangan politik terhadap cara Netanyahu menangani konflik.

Pernah berhasil menyingkirkan Netanyahu

Kerja sama Bennett dan Lapid bukan cerita baru dalam politik Israel. Pada pemilu 2021, keduanya pernah bergabung dan berhasil mengakhiri masa kekuasaan Netanyahu yang berlangsung selama 12 tahun berturut-turut.

Koalisi itu memang tidak bertahan lama dan runtuh setelah sekitar 18 bulan. Meski begitu, pengalaman tersebut tetap menjadi bukti bahwa keduanya pernah mampu membentuk jalan keluar dari dominasi politik Netanyahu.

Keduanya juga pernah berada dalam pemerintahan koalisi Netanyahu pada 2013. Saat itu, masuknya Bennett dan Lapid membuat sekutu tradisional Netanyahu dari kelompok ultra-Ortodoks tersisih dari pengaruh pemerintahan.

Peta kekuatan belum otomatis berubah

Meski aliansi baru ini menarik perhatian, hasil jajak pendapat menunjukkan medan politik belum sepenuhnya bergeser. Survei N12 News Israel pada 23 April menempatkan Bennett pada 21 kursi di Knesset yang beranggotakan 120 kursi, sedangkan Likud milik Netanyahu meraih 25 kursi.

Survei yang sama juga mencatat partai Lapid hanya memperoleh tujuh kursi, turun jauh dari 24 kursi yang saat ini dimilikinya. Angka itu memperlihatkan bahwa jalan menuju pemilu masih berat bagi oposisi, meski Bennett disebut sebagai penantang utama dalam sejumlah survei akademik dan media Israel lainnya.

Dua tokoh dengan basis pemilih yang berbeda

Kekuatan aliansi ini juga datang dari perbedaan latar belakang keduanya. Bennett dikenal sebagai mantan komando militer yang kemudian sukses menjadi pebisnis di sektor teknologi, sedangkan Lapid adalah mantan pembawa berita televisi yang mewakili kelas menengah sekuler Israel.

Perbedaan basis sosial itu turut membentuk peran masing-masing di dalam oposisi. Pendukung Lapid disebut semakin kecewa terhadap beban pajak dan kewajiban militer yang mereka anggap tidak adil, sehingga kerja sama dengan Bennett dinilai strategis untuk menjembatani pemilih yang terpecah.

Dengan pemilu yang diperkirakan berlangsung pada akhir tahun, perhatian kini tertuju pada apakah Bennett dan Lapid benar-benar bisa mengubah gelombang penolakan terhadap Netanyahu menjadi dukungan suara yang nyata. Koalisi Together akan menjadi ujian penting bagi oposisi Israel yang ingin mengulang keberhasilan lama dan kembali merebut kursi kekuasaan.

Source: www.viva.co.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru