Di tengah Oasis Siwa, Mesir barat laut, Benteng Shali pernah berdiri sebagai pertahanan yang menyatu dengan gurun, tetapi justru runtuh ketika hujan turun terus-menerus selama tiga hari. Bangunan yang sanggup menahan panas ekstrem Sahara itu tidak siap menghadapi air, karena material utamanya larut saat basah.
Peristiwa pada 1926 itu menjadi titik balik bagi kompleks benteng kuno tersebut. Air hujan melunakkan dinding hingga struktur yang telah bertahan ratusan tahun perlahan meleleh, sementara banyak rumah di dalam area benteng ikut rusak dan membuat kawasan itu tidak lagi aman untuk dihuni.
Material garam yang menguatkan sekaligus melemahkan
Daya tarik utama Benteng Shali terletak pada karsheef, material bangunan lokal yang dibuat dari lumpur, pasir halus, tanah liat, dan bongkahan garam alami dari tepi danau garam setempat. Campuran itu diperkuat dengan batang serta pelepah pohon kurma agar dinding lebih kokoh.
Saat mengering di bawah terik matahari, karsheef mengeras seperti batu semen dan membentuk dinding tebal yang kuat. Namun, kandungan garam di dalamnya juga menjadi kelemahan besar ketika air hujan datang dan melarutkan perekat utama bangunan.
Rancang bangun yang mengikuti kondisi oasis
Komunitas Berber setempat membangun benteng ini sebagai tempat perlindungan dari serangan suku nomaden gurun. Pilihan material lokal membuatnya tampak seolah tumbuh langsung dari lanskap pasir dan garam yang mengelilingi oasis.
Selain kuat secara struktural, dinding tebal karsheef juga berfungsi sebagai pengatur suhu alami. Di siang hari yang sangat panas, bagian dalam benteng tetap sejuk, lalu panas yang terserap dinding dilepaskan kembali saat malam menjadi lebih dingin.
Masjid kuno di dalam kompleks
Di antara lorong-lorong dinding yang berliku, berdiri Masjid Kuno Shali yang selesai dibangun bersama benteng pada 1203 Masehi. Bangunan ini dikenal sebagai masjid tertua di dunia yang seluruh strukturnya terbuat dari karsheef.
Masjid tersebut ditempatkan di atas bukit kecil di dalam kompleks pertahanan agar suara azan dapat menjangkau seluruh permukiman. Pada dindingnya yang kasar, masih tampak bekas cetakan telapak tangan para pembangun awal.
Setelah kerusakan besar akibat hujan, warga akhirnya meninggalkan Shali Fortress dan membangun permukiman modern di luar area benteng kuno. Kini, reruntuhannya tetap menjadi pengingat bagaimana masyarakat oasis merancang bangunan yang tahan panas, tetapi rapuh terhadap air.
Kondisi itu membuat Shali Fortress menempati posisi yang unik di antara benteng bersejarah lain. Ia bukan hanya peninggalan abad ke-13, melainkan juga contoh arsitektur lokal yang sangat cerdas sekaligus sangat bergantung pada iklim kering gurun.
Source: www.idntimes.com






