Pukulan di Second Thomas Shoal Memicu Kecaman AS dan Australia kepada China

Amerika Serikat dan Australia mengecam tindakan China setelah bentrokan antara personel Filipina dan China di Second Thomas Shoal. Insiden tersebut memperbesar kekhawatiran mengenai stabilitas Laut China Selatan ketika para menteri luar negeri ASEAN berkumpul di Manila.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan tindakan China terhadap personel angkatan laut Filipina bersifat berbahaya dan mengganggu stabilitas kawasan. Juru bicara Tommy Pigott menilai pola provokasi terhadap operasi maritim Filipina yang sah merusak perdamaian serta bertentangan dengan komitmen penyelesaian sengketa secara damai.

Australia menyampaikan sikap serupa melalui Menteri Luar Negeri Penny Wong. Ia menyebut tindakan China sebagai perilaku yang membahayakan dan mengganggu stabilitas kawasan.

PihakSikapPernyataan Utama
Amerika SerikatMengecam ChinaMenilai tindakan terhadap personel Filipina berbahaya dan agresif.
AustraliaMengecam ChinaMenilai tindakan tersebut membahayakan stabilitas kawasan.
FilipinaMenempuh diplomasiMenyatakan kekerasan terhadap personelnya tidak dapat diterima.

Personel Filipina Dilaporkan Terluka

Militer Filipina menyatakan seorang awak angkatan laut terkena pukulan tongkat kayu di kepala dalam insiden tersebut. Bentrokan terjadi saat kapal China mendekati BRP Sierra Madre, kapal perang Filipina yang telah lama dikandaskan dan digunakan sebagai pos militer.

Menurut Angkatan Bersenjata Filipina, sebuah kapal Penjaga Pantai China dengan delapan personel datang untuk mengambil foto dan merekam video. Ketegangan kemudian meningkat ketika dua kapal karet Filipina berusaha mengusir kapal itu dari sekitar BRP Sierra Madre.

Manila menilai tindakan di perairan tersebut sebagai tindakan ilegal, koersif, agresif, dan menyesatkan. Filipina juga mendesak Beijing mematuhi Putusan Arbitrase 2016 yang, menurut Manila, menegaskan hak maritim sahnya berdasarkan hukum internasional.

China membantah tuduhan Filipina dan menyebut kapal Filipina mengabaikan peringatan. Beijing juga menuduh personel Filipina lebih dulu menggunakan dayung, tongkat kayu, serta peralatan lain untuk menyerang petugas penegak hukum China.

Pada Selasa, 21 Juli, Kementerian Luar Negeri China menyatakan telah memanggil Duta Besar Filipina untuk menyampaikan protes resmi. Beijing menyebut tindakan Manila di Ren’ai Reef, nama yang digunakan China untuk Second Thomas Shoal, sebagai provokasi dan serangan yang disengaja.

Klaim Maritim yang Saling Bertentangan

Filipina memasukkan Second Thomas Shoal ke dalam zona ekonomi eksklusifnya yang membentang hingga 200 mil laut. China tetap mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan, meski putusan arbitrase internasional disebut menyatakan klaim itu tidak memiliki dasar hukum.

Perselisihan di titik karang tersebut memiliki arti penting bagi Filipina karena BRP Sierra Madre menjadi penanda kehadiran militernya. Keberadaan kapal perang yang dikandaskan itu terus menjadi sumber ketegangan dalam sengketa maritim kedua negara.

Tekanan Tambahan bagi Diplomasi ASEAN

Bentrokan ini berlangsung ketika para menteri luar negeri ASEAN bertemu di Manila bersama Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio. Sebelum berangkat, Rubio menyatakan terbuka untuk bertemu Wang Yi di sela forum tersebut.

Dalam artikel opini di media Filipina, Rubio menekankan bahwa kebebasan navigasi di Asia Tenggara tidak dapat dianggap terjamin. Ia memperingatkan bahwa kendali perairan oleh kekuatan yang menggunakan perdagangan sebagai senjata geopolitik dapat mengancam kedaulatan, keamanan, serta masa depan ekonomi Amerika Serikat dan negara ASEAN.

Situasi di Second Thomas Shoal juga memunculkan keraguan atas harapan tercapainya Code of Conduct antara ASEAN dan China di Laut China Selatan. Perundingan aturan perilaku itu dipandang penting karena sengketa perairan melibatkan jalur perdagangan, keamanan, dan kedaulatan sejumlah negara.

Forum ASEAN juga tetap dibebani persoalan Myanmar yang belum terselesaikan. Thailand mendorong keterlibatan penuh Myanmar, sedangkan Malaysia masih menolak normalisasi hubungan tingkat tinggi selama penindasan di negara itu berlanjut.

Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan, “Yang terbaik adalah membawa Myanmar kembali ke dalam keluarga ASEAN.” Perbedaan pandangan mengenai Myanmar dan ketegangan di Second Thomas Shoal memperlihatkan beratnya agenda diplomasi kawasan di Manila.

Source: www.kompas.com
Berita Terkait