Jawa Tengah mempertemukan 111 produsen dan 99 offtaker bahan pokok penting dalam forum temu bisnis untuk mempercepat distribusi pangan antardaerah. Langkah itu ditujukan agar pasokan tetap lancar, harga lebih terjaga, dan inflasi tetap terkendali.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai provinsi ini sebagai salah satu lumbung pangan nasional yang harus mengutamakan kebutuhan masyarakat sendiri terlebih dahulu. Setelah kebutuhan daerah terpenuhi, pasokan kemudian diarahkan untuk menopang wilayah lain melalui skema aglomerasi dan kerja sama antardaerah.
Inflasi dijaga lewat distribusi yang lebih efisien
Forum yang digelar TPID Jawa Tengah di Semarang itu juga menjadi bagian dari Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera atau GPIPS. Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Nur Nugroho, fokus utama kegiatan ini adalah memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga.
Nur Nugroho menilai efisiensi distribusi masih menjadi tantangan utama dalam pengendalian inflasi. Karena itu, mempertemukan produsen dan offtaker secara langsung dipandang sebagai cara konkret untuk memperpendek rantai pasok dan memperlancar arus distribusi pangan.
Komoditas yang paling diburu
Dalam temu bisnis tersebut, komoditas beras menjadi yang paling banyak diminati dengan 30 calon pembeli. Cabai menyusul dengan 25 peminat, kemudian minyak goreng 24, bawang merah 13, jagung empat, dan telur tiga.
Di sisi produsen, cabai justru mendominasi dengan 33 produsen. Beras berada di urutan berikutnya dengan 28 produsen, lalu jagung 25, bawang merah 20, telur ayam empat, dan minyak goreng dua.
Peta peluang kerja sama antardaerah
Secara kewilayahan, Kabupaten Klaten dan Kota Semarang tercatat memiliki potensi kebutuhan kerja sama terbesar dari sisi offtaker, masing-masing 11 potensi kerja sama. Setelah itu, Banjarnegara, Banyumas, Kendal, dan Wonosobo masing-masing memiliki tujuh potensi kerja sama.
Dari sisi produsen, Kabupaten Demak dan Grobogan menjadi daerah dengan potensi kerja sama tertinggi, masing-masing sembilan potensi kerja sama. Kabupaten Batang dan Brebes menyusul dengan masing-masing tujuh potensi kerja sama.
Kerja sama mulai ditandatangani
Sejumlah kerja sama juga sudah diteken dalam forum tersebut. Salah satunya antara Badan Usaha Milik Petani atau BUMP PT Kalingga Makmur Sejahtera Kabupaten Jepara dan Gapoktan Karya Manunggal Kabupaten Rembang untuk komoditas beras.
Selain itu, kerja sama antardaerah di kawasan Banyumas Raya juga ditandatangani untuk komoditas cabai, beras, jagung, bawang merah, dan minyak goreng. Bank Indonesia Jawa Tengah berharap forum seperti ini tidak berhenti pada transaksi jangka pendek.
Nur Nugroho menyebut database juga disiapkan agar koordinasi dengan TPID bisa lebih optimal dan kerja sama perdagangan antardaerah dapat berjalan lebih berkelanjutan. Dengan pola itu, pasokan dari lumbung pangan di Jawa Tengah diharapkan mengalir lebih lancar ke daerah yang membutuhkan.
Source: timesindonesia.co.id






