Team Gen 6 Muncul Setelah FCAS Runtuh, Jerman Cari Jalan Baru untuk Jet Tempur

Jerman kini bergerak cepat mencari jalur baru untuk jet tempur generasi berikutnya setelah proyek FCAS Franco-Jerman dibatalkan. Konsorsium baru bernama Team Gen 6 disiapkan di Berlin pada Kamis, dengan mayoritas anggotanya berasal dari industri pertahanan Jerman.

Langkah itu langsung menarik perhatian karena datang tidak lama setelah pembubaran FCAS oleh Berlin dan Paris pada Senin. Bagi Jerman, ini menjadi sinyal bahwa kebutuhan memperkuat pertahanan Eropa tetap dikejar melalui skema yang berbeda.

Delapan perusahaan di balik Team Gen 6

Konsorsium tersebut berisi Airbus, MBDA, Hensoldt, Diehl Defence, MTU Aero Engines, Liebherr, Autoflug, dan Rohde & Schwarz. Airbus memegang peran penting dalam susunan ini melalui divisi pertahanannya.

Kepala divisi pertahanan Airbus, Michael Schoellhorn, mengatakan perusahaan-perusahaan itu siap memikul tanggung jawab. Ia menegaskan bahwa mereka memiliki keahlian, teknologi, kapasitas, dan tekad untuk membangun jet tempur generasi keenam.

FCAS gagal mempertahankan kerja sama lama

FCAS sebelumnya digadang-gadang sebagai proyek andalan kerja sama pertahanan Eropa. Program ini melibatkan Prancis, Jerman, dan Spanyol, serta dirancang untuk menggantikan Rafale milik Prancis dan Eurofighter yang digunakan Jerman dan Spanyol.

Rencana awalnya menargetkan pesawat pertama masuk layanan sekitar 2040, dengan sistem digital terpadu yang menghubungkan jet tempur, drone, sensor, dan teknologi lain. Namun, ketegangan antara dua kontraktor utama, Airbus dan Dassault, terus membesar selama berbulan-bulan.

Situasi itu memuncak pada pertengahan 2025 ketika Dassault mendorong kontrol yang lebih besar atas program. Di Berlin, langkah tersebut memicu kekhawatiran bahwa Airbus akan tersisih dari kontrak, sementara perbedaan kebutuhan militer Prancis dan Jerman ikut memperumit proyek sejak awal.

Berlin belum mengunci pilihan pengganti

Meski Team Gen 6 mulai bergerak, pemerintah Jerman belum berkomitmen pada proyek pengganti FCAS. Juru bicara pemerintah pada Rabu hanya menyampaikan bahwa ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka.

Kanselir Friedrich Merz menilai pembatalan FCAS menghapus hambatan lama dan membuka peluang baru bagi industri. Ia juga mengatakan beberapa aspek inti dari FCAS tetap akan dilanjutkan, termasuk sistem digital terintegrasi yang menjadi salah satu fondasi teknis program itu.

Masih ada opsi lain di meja pertahanan Jerman

Schoellhorn menolak anggapan bahwa dukungan terhadap proposal Airbus berarti Jerman menjauh dari kerja sama Eropa. Ia menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan itu tidak mendorong Jerman berjalan sendiri.

“Kami berpikir dalam kerangka Eropa, tetapi kami ingin industri Jerman memainkan peran yang signifikan dan bertanggung jawab,” ujarnya. Posisi itu menempatkan Team Gen 6 sebagai alternatif yang masih tetap berada dalam konteks Eropa.

Kedelapan perusahaan itu telah mengirimkan dokumen posisi kepada Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius. Dokumen tersebut memaparkan visi mereka untuk jet baru dan meminta Berlin memastikan pemberian kontrak secara lengkap dan tepat waktu pada paruh kedua 2026.

Pistorius pada Selasa menyebut proyek delapan perusahaan itu “masuk akal dan merupakan salah satu kemungkinan”. Ia juga menegaskan bahwa Jerman masih menimbang opsi lain, termasuk membeli lebih banyak jet tempur F-35 buatan Amerika Serikat atau bergabung dengan proyek pengembangan pesawat lain yang masih berjalan.

Secara teori, calon mitra lain bisa mencakup Swedia melalui Saab atau kelompok perusahaan dari Britania Raya, Italia, dan Jepang. Dengan banyaknya opsi yang masih terbuka, arah program pesawat tempur Jerman belum diputuskan sepenuhnya.

Berita Terkait