Bank Indonesia memilih menahan gejolak rupiah tanpa mengambil langkah yang terlalu agresif di pasar. Pilihan itu lahir dari pelajaran panjang setelah krisis 1997-1998 dan krisis global 2008, ketika intervensi besar justru berisiko menyedot likuiditas pasar.
Gubernur BI Perry Warjiyo menekankan bahwa stabilitas nilai tukar tidak bisa dijaga hanya dengan satu instrumen. Karena itu, BI kini memakai kombinasi kebijakan agar rupiah tetap terjaga, sementara dana di pasar keuangan tetap cukup untuk mendukung aktivitas ekonomi.
Menjaga rupiah tanpa membuat pasar kering
Pendekatan BI saat ini lebih terukur dibanding pola intervensi besar pada masa krisis. Fokusnya bukan hanya menahan pelemahan rupiah, tetapi juga memastikan pasar tidak kehilangan likuiditas yang dibutuhkan untuk terus bergerak.
Perry menyebut pengalaman dua krisis besar itu memberi pelajaran penting bagi bank sentral. Intervensi agresif memang dapat menahan tekanan pada rupiah, namun langkah seperti itu dapat membuat likuiditas mengering dan menimbulkan masalah baru di pasar keuangan.
Tidak hanya mengandalkan pasar spot
Dalam menjaga stabilitas nilai tukar, BI tidak sekadar masuk ke pasar spot. Bank sentral juga menggunakan instrumen lain, termasuk pembelian Surat Berharga Negara atau SBN di pasar sekunder.
Perry mengatakan BI telah membeli SBN di pasar sekunder senilai Rp 133 triliun secara year to date. Langkah ini dipakai untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan menahan kenaikan yield SBN agar tidak terlalu tinggi.
SBN jadi alat tambahan untuk meredam tekanan
BI juga memegang sekitar Rp 1.700 triliun SBN yang dapat dikelola untuk mendukung arus modal masuk. Menurut Perry, BI bisa menjual SBN jangka pendek untuk menciptakan inflow, lalu membeli SBN jangka panjang guna membantu menahan kenaikan yield.
Strategi ini membuat BI tidak harus terlalu sering mengandalkan cadangan devisa. Di sisi lain, tekanan di pasar obligasi juga dapat diredam karena yield yang terlalu tinggi berisiko mendorong dana keluar.
Likuiditas tetap dijaga dari beberapa sisi
Selain melalui SBN, BI tetap menjaga likuiditas dengan mendorong uang primer tumbuh dua digit. BI juga membatasi pembelian dolar AS maksimal US$ 25.000 per orang per bulan agar permintaan dolar lebih terukur.
Rangkaian kebijakan itu menunjukkan stabilisasi rupiah kini ditempuh lewat kombinasi instrumen. BI berupaya menahan gejolak kurs tanpa membuat pasar kehilangan ruang likuiditas yang memadai.
Volatilitas ikut diperhitungkan
Bagi Perry, stabilitas rupiah tidak cukup dinilai dari posisi kurs harian. Yang juga penting adalah volatilitas, atau besar kecilnya perubahan nilai tukar dari waktu ke waktu.
Menurut perhitungan BI, volatilitas rupiah secara year to date berada di level 5,4% dan masih dinilai relatif stabil. Perry menegaskan mandat undang-undang adalah menjaga stabilitas nilai tukar, sehingga ukuran stabilitas tidak hanya soal level, tetapi juga pergerakannya.
Prospek rupiah masih dijaga BI
Di tengah tekanan global, Perry tetap melihat peluang rupiah bergerak lebih stabil. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan prospek ekonomi nasional tetap baik.
Perry juga menyebut tekanan terhadap rupiah biasanya meningkat pada April, Mei, dan Juni karena permintaan dolar AS tinggi. Namun, ia memperkirakan kondisi dapat membaik pada Juli dan Agustus.
Dengan asumsi itu, BI masih meyakini nilai tukar akan berada dalam kisaran Rp 16.200-Rp 16.800 sepanjang tahun. Saat ini rupiah berada di sekitar Rp 16.900 year to date, sementara BI terus berupaya menjaga stabilitas kurs tanpa menguras likuiditas dan cadangan devisa.
Source: www.beritasatu.com






