BI Perketat Aturan Dolar, Pemerintah Siapkan Panda Bond untuk Redam Tekanan Rupiah

Bank Indonesia mengambil langkah lebih ketat untuk meredam tekanan pada Rupiah dengan membatasi pembelian dolar AS yang tidak disertai dokumen pendukung. Aturan ini berjalan beriringan dengan intervensi di pasar domestik dan luar negeri, setelah Rupiah sempat tertekan di pasar valas.

Perry Warjiyo menyebut batas pembelian dolar tanpa underlying document sedang disiapkan turun menjadi US$25.000 per orang per bulan. Sebelumnya, batas itu sudah dipangkas dari US$100.000 menjadi US$50.000 per bulan.

Kebijakan ini muncul ketika Rupiah melemah ke level Rp17.445 per Dolar AS pada Selasa, 5 Mei 2026. Pada penutupan perdagangan hari itu, Rupiah berada di posisi Rp17.424 per Dolar AS, turun 30 poin atau sekitar 0,17 persen dari posisi sebelumnya.

BI menilai pembelian dolar yang tidak didorong kebutuhan riil dapat menambah tekanan di pasar. Karena itu, dokumen underlying dipakai untuk memastikan transaksi valas benar-benar terkait aktivitas ekonomi, seperti invoice impor atau pembayaran jasa luar negeri.

Pengawasan terhadap korporasi dan perbankan juga ikut diperkuat agar aturan baru berjalan efektif. BI menjalankan pemantauan itu bersama Otoritas Jasa Keuangan demi menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah tekanan global.

Di sisi pemerintah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan jalur pembiayaan baru lewat pasar China. Pemerintah berencana menerbitkan obligasi berdenominasi yuan atau Panda Bond agar pembiayaan negara tidak terlalu bergantung pada dolar AS.

Panda Bond adalah surat utang yang diterbitkan di pasar China dalam mata uang setempat. Purbaya menempatkan instrumen ini sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai tukar Rupiah dari sisi struktur pembiayaan negara.

Pemerintah ingin mengurangi dominasi dolar AS dalam transaksi dan pembiayaan internasional. Dengan sumber dana yang lebih beragam, risiko tekanan dari satu mata uang juga diharapkan lebih terkendali.

Purbaya menilai penerbitan Panda Bond dapat membawa dua manfaat sekaligus. Instrumen itu berpotensi menawarkan bunga yang lebih rendah sekaligus memperluas diversifikasi mata uang.

Ia juga menyampaikan bahwa prospek ekonomi Indonesia saat ini membaik. Karena itu, publik diminta tidak panik menghadapi gejolak global yang masih memengaruhi pasar keuangan.

Sikap pemerintah dan bank sentral menunjukkan arah kebijakan yang sejalan dalam menjaga stabilitas Rupiah. Pemerintah memilih memperluas sumber pembiayaan, sementara BI menahan permintaan dolar yang berpotensi spekulatif.

Purbaya turut mengutip pesan Presiden Prabowo Subianto agar masyarakat tidak khawatir terhadap kondisi saat ini. Ia menyebut pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menjaga kepercayaan, sambil memastikan penguatan Rupiah terus didorong dari sisi kebijakan fiskal dan moneter.

Source: www.suara.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer