Biaya dan Perawatan Kini Menentukan, Diesel Masih Sulit Tergeser di Indonesia

Mesin diesel belum kehilangan tempat di pasar otomotif Indonesia, tetapi penentunya kini bergeser. Daya tahan dan efisiensi tetap kuat, namun biaya bahan bakar serta perawatan menjadi faktor yang semakin menentukan pilihan konsumen.

Di tengah harga bahan bakar yang terus naik, diesel masih dipandang sebagai teknologi yang menawarkan tenaga besar, konsumsi irit, dan nilai jual kembali yang relatif kuat. Karena itu, banyak pemilik kendaraan tetap bertahan pada mesin diesel meski tekanan dari teknologi lain terus meningkat.

Bahan bakar yang tepat jadi kunci utama

Dr. Tri Yuswidjajanto Zaenuri dari ITB menjelaskan bahwa diesel sejak awal dirancang untuk menghasilkan tenaga besar dengan konsumsi BBM rendah dan emisi yang terkendali. Menurut dia, angka Cetane Number atau CN harus sesuai dengan spesifikasi mesin agar karakter itu tetap terjaga.

Untuk diesel generasi terbaru common-rail, bahan bakar CN53 seperti Pertamina Dex direkomendasikan. Jenis bahan bakar ini juga dilengkapi aditif deterjen, dispersan, demulsifier, anti-oksidan, dan anti-korosi yang membantu menjaga filter bahan bakar serta injektor tetap bersih.

Penggunaan bahan bakar yang sesuai tidak hanya berdampak pada kebersihan mesin, tetapi juga pada umur komponen dan kestabilan performa. Sebaliknya, penggunaan Bio Solar CN51 pada mesin modern disebut dapat mempercepat timbunan kotoran dan mempersingkat interval ganti oli.

Oli dan jelaga tidak boleh diabaikan

Dari sisi pelumasan, Mulianto dari Pertamina Lubricants menegaskan bahwa jelaga atau soot adalah musuh utama mesin diesel. Oli berfungsi mengikat jelaga agar tidak menempel di dinding mesin dan mengganggu kerja komponen.

Ia menjelaskan bahwa oli mineral cocok untuk mesin konvensional non-turbo dengan interval hingga 5.000 km. Sementara itu, oli sintetis lebih dianjurkan untuk mesin turbo dan generasi baru karena mampu bertahan hingga 7.500–10.000 km serta lebih baik menahan panas ekstrem.

Pasar masih memberi ruang besar

Bagus Susanto, CEO Inchcape GWM Indonesia, menyebut pengembangan mesin diesel bukan reaksi sesaat terhadap pasar. Menurut dia, itu adalah strategi jangka panjang yang masih melihat diesel sebagai teknologi penting.

Data penjualan Januari–Mei 2026 menunjukkan mesin diesel masih mendominasi dengan pangsa 67 persen. Pada periode yang sama, varian diesel tumbuh 1,2 persen year on year, sementara mobil bensin justru mengalami penurunan.

Yagimin dari Auto2000 menambahkan bahwa pangsa pasar diesel stabil di kisaran 19–20 persen setiap tahun. Di luar Jawa, permintaannya bahkan cenderung lebih tinggi karena kebutuhan tenaga besar, daya angkut, dan efisiensi untuk jarak jauh.

Citra tangguh masih melekat kuat

Menurut Yagimin, citra diesel sebagai mesin tangguh, mudah dirawat, dan punya resale value bagus masih sangat kuat di benak konsumen. Ia juga menilai teknologi diesel yang lebih bersih perlu terus berkembang agar mesin lama bisa tergantikan secara bertahap.

Di sisi pengguna, David Angga dari komunitas Innova mengaku merasakan efisiensi nyata saat memakai Pertamina Dex. Ia menyebut konsumsi bahan bakarnya bisa mencapai 1 liter untuk 14 km, jauh lebih irit dibanding bensin.

David juga memandang mobil diesel seperti investasi emas karena nilai jual kembalinya kuat. Pandangan itu sejalan dengan banyak pemilik yang masih menilai diesel sebagai pilihan rasional untuk pemakaian jangka panjang.

Pasar bekas tetap hidup, meski premium mulai tertekan

Ricky Prawiro dari AMBI mengatakan minat di segmen diesel premium di atas Rp500 juta memang menurun. Ia menyebut depresiasi Fortuner mencapai 26 persen dan Pajero 33 persen, tetapi pasar diesel bekas secara keseluruhan masih cukup bagus.

Di lapangan, sebagian komunitas mengaku terpaksa beralih ke Bio Solar atau memakai aditif karena selisih harga bahan bakar yang cukup lebar. Bengkel binaan Astra juga memberi catatan agar lebih berhati-hati jika melakukan remapping ECU untuk menyesuaikan mesin dengan BBM subsidi.

Ada pula alasan praktis yang membuat diesel tetap dipilih. Sri Setyowati, pemilik Fortuner 2023, menyebut mobil diesel lebih cocok untuk jalur yang sering rusak, sementara mobil listrik dinilai masih punya tantangan pada antrean charging.

Situasi itu membuat diesel belum kehilangan daya tariknya di tengah perubahan pasar yang terus bergerak. Bagi banyak pengguna, biaya perawatan, pilihan bahan bakar, dan kebutuhan medan masih cukup kuat untuk menjaga mesin diesel tetap relevan.

Source: www.oto.com

Berita Terkait