Bayer masih berada dalam tekanan besar karena sengketa glyphosat belum benar-benar mereda dan pasar kini menunggu arah putusan Mahkamah Agung AS yang diperkirakan keluar pada akhir Juni. Di saat perusahaan berusaha meyakinkan investor bahwa restrukturisasi internal berjalan sesuai jalur, beban hukum dari Monsanto terus membayangi kinerja dan valuasi sahamnya.
Situasi ini membuat Bayer harus bergerak di dua medan sekaligus. Di satu sisi, manajemen perlu menjaga stabilitas keuangan dan mempertahankan kepercayaan pemegang saham, sementara di sisi lain perusahaan masih bergelut dengan ribuan tuntutan hukum yang belum tuntas.
Biaya perkara masih menjadi beban utama
Masalah terbesar Bayer tetap datang dari glyphosat, bahan aktif pada produk Monsanto yang memicu gelombang gugatan di Amerika Serikat. Perusahaan telah menawarkan penyelesaian senilai 7,25 miliar dolar AS kepada sekitar 67.000 penggugat yang masih tersisa, tetapi langkah itu belum menghapus ketidakpastian yang menekan sentimen pasar.
Sebagian investor menilai tawaran tersebut bukan sekadar upaya damai. Janne Werning dari Union Investment bahkan menyebut program itu sebagai “taktische Ultimatum”, atau ultimatum taktis, karena dianggap dapat mendorong para penggugat mengambil keputusan sebelum putusan pengadilan tertinggi turun.
Bill Anderson juga menegaskan bahwa Bayer bergerak selangkah demi selangkah dan tetap waspada terhadap perubahan situasi hukum. Nada hati-hati itu menunjukkan bahwa perusahaan masih menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan yang muncul dari proses litigasi yang dinamis.
Kinerja keuangan belum lepas dari tekanan
Laporan operasional Bayer untuk 2025 memberi gambaran yang campuran. Pendapatan perusahaan tercatat 45,6 miliar Euro, tetapi Bayer masih membukukan rugi bersih 3,6 miliar Euro.
Penyebab utama tekanan itu berasal dari biaya sengketa hukum yang mencapai 6,2 miliar Euro. Pada saat yang sama, utang bersih Bayer masih berada di level 29,8 miliar Euro, sehingga ruang gerak keuangan perusahaan tetap ketat dan terus diawasi investor.
Kondisi tersebut membuat manajemen fokus pada arus kas dan penurunan utang. Dewan direksi juga mengusulkan dividen minimum 0,11 Euro per saham untuk tahun buku 2025 sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan keuangan jangka panjang.
Restrukturisasi menjadi tumpuan harapan
Di tengah beban litigasi, Bayer terus menonjolkan hasil restrukturisasi internal sebagai sumber perbaikan. Dalam rapat umum pemegang saham di Leverkusen, Bill Anderson menyampaikan bahwa perusahaan kini lebih ramping dan lebih cepat, meski pekerjaan pembenahan belum selesai.
Ia juga menyoroti perbaikan di lini obat resep. Pertumbuhan Nubeqa dan Kerendia disebut mencapai 68 persen, sementara portofolio dan jalur pengembangan Pharmaceuticals dinilai semakin menjanjikan.
Divisi Crop Science pun tetap diposisikan penting dalam strategi perusahaan. Anderson menyebut lini tersebut menjalankan rencana untuk meningkatkan profitabilitas, sejalan dengan upaya Bayer memperkuat daya saing di tengah tekanan global.
Investor masih menuntut langkah yang lebih tegas
Meski manajemen menunjukkan kemajuan internal, sebagian pemegang saham masih belum lepas dari keraguan terhadap dampak akuisisi Monsanto yang dilakukan satu dekade lalu. Ingo Speich dari Deka menilai periode tersebut menjadi masa kemunduran bagi nilai saham Bayer dibandingkan indeks DAX.
Speich meminta manajemen tidak menutup kemungkinan menjual unit bisnis tertentu jika langkah itu bisa menciptakan nilai. Menurut pandangan ini, strategi yang lebih fleksibel baru dianggap berarti bila diikuti tindakan nyata yang memberi dampak finansial.
Nada yang lebih keras datang dari Hendrik Schmidt dari DWS. Ia tidak mendukung pendekatan pemisahan unit secara bertahap dan meminta keterbukaan penuh jika Bayer benar-benar memutuskan membuat unit bisnis tertentu berdiri sendiri agar pasar bisa menilai arah langkah perusahaan dengan jelas.
Di sisi lain, Ketua Dewan Pengawas Norbert Winkeljohann menyatakan Bayer akan tetap mengikuti arah strategis yang sudah ditetapkan. Ia juga mengapresiasi karyawan yang menjaga operasi perusahaan tetap berjalan di tengah masa transisi yang sulit.
Pasar kini memperhatikan perkembangan berikutnya, termasuk laporan keuangan kuartal pertama 2026 pada 12 Mei yang diperkirakan memberi petunjuk awal soal dampak tekanan hukum dan restrukturisasi. Dengan putusan prinsip Mahkamah Agung AS yang dinanti pada akhir Juni, arah Bayer masih akan sangat ditentukan oleh hasil di ruang sidang dan kemampuan perusahaan meredakan beban Monsanto.







