Biaya Jantung Capai Rp11,83 Triliun, BPJS Kesehatan Perluas Layanan Cathlab

Author: Redaksi Android62

Lonjakan pembiayaan penyakit jantung membuat BPJS Kesehatan harus menambah perhatian pada layanan yang bisa bergerak cepat. Sepanjang 2025, biaya penanganan penyakit ini tercatat mencapai Rp11,83 triliun dan menjadi beban terbesar dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional.

Di tengah tekanan itu, layanan kateterisasi jantung atau cathlab ikut melonjak tajam. BPJS Kesehatan mencatat pembiayaan cathlab pada 2025 sudah lebih dari Rp3,5 triliun dengan jumlah kasus melampaui 138 ribu, dan angka itu disebut sudah naik dua kali lipat dibandingkan 2021.

Akses layanan jadi titik penting

Kenaikan pembiayaan tidak hanya menunjukkan tingginya kasus, tetapi juga besarnya kebutuhan layanan spesialistik yang cepat dan tepat. Untuk penyakit jantung, keterlambatan penanganan bisa berdampak langsung pada keselamatan pasien.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito menegaskan perluasan layanan jantung harus terus dilakukan agar peserta JKN tidak terkendala akses maupun biaya. Karena itu, BPJS Kesehatan mendorong layanan canggih agar pasien bisa mendapat pelayanan yang lebih dekat, cepat, dan merata.

“Perluasan layanan cathlab merupakan komitmen BPJS Kesehatan dalam menghadirkan kemudahan layanan bagi peserta JKN, sehingga peluang keselamatan peserta juga semakin besar,” ujarnya di Universitas Padjadjaran, Rabu (20/5/2026).

Tekanan pada sistem jaminan kesehatan

Beban penyakit jantung menjadi perhatian besar karena skala peserta JKN sangat luas. BPJS Kesehatan mencatat jumlah peserta kini sudah lebih dari 285 juta jiwa, atau sekitar 98% penduduk Indonesia.

Cakupan sebesar itu membuat layanan berbiaya tinggi seperti penyakit jantung ikut menjadi sorotan utama. Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa pengendalian penyakit kronis tidak cukup hanya mengandalkan tindakan medis saat pasien sudah sakit.

Jika laju kasus baru tidak ditekan, pembiayaan kesehatan berpotensi terus terdorong naik dari tahun ke tahun. Karena itu, pencegahan menjadi bagian penting agar sistem jaminan kesehatan tetap terkendali.

Pencegahan ikut diperkuat

BPJS Kesehatan mulai memperkuat langkah promotif dan preventif untuk menekan risiko penyakit kronis. Salah satu jalurnya adalah Program Pengelolaan Penyakit Kronis atau Prolanis Muda yang menyasar kelompok usia produktif.

Prihati menekankan bahwa pola hidup sehat memegang peran besar dalam mencegah risiko penyakit kronis. “Dengan menerapkan pola hidup sehat, risiko penyakit kronis dapat dicegah sehingga masyarakat tetap sehat dan produktif,” kata dia.

Upaya ini penting karena penyakit kronis sering berkembang perlahan sebelum memicu gangguan jantung atau stroke. Bila pencegahan berjalan lebih baik, tekanan pada layanan spesialistik dan pembiayaan bisa ikut berkurang.

Efisiensi dan tata kelola ikut diuji

Di sisi lain, keberlanjutan pembiayaan JKN juga bergantung pada tata kelola yang kuat. Sepanjang 2025, efisiensi dari pencegahan fraud tercatat mencapai Rp6,5 triliun atau sekitar 3,4% dari total biaya pelayanan kesehatan.

Wakil Menteri Kesehatan Benyamin Paulus Octavianus menilai penguatan layanan kesehatan tidak bisa hanya bertumpu pada teknologi medis. Menurut dia, ketepatan diagnosis dan efektivitas tindakan medis sama pentingnya agar pelayanan benar-benar tepat sasaran.

“Keberhasilan pelayanan kesehatan bukan tentang semakin banyak tindakan medis yang dilakukan, melainkan bagaimana memberikan tindakan yang tepat kepada pasien yang tepat pada waktu yang tepat,” ujarnya.

Dengan biaya penyakit jantung yang terus mendominasi pembiayaan JKN, perluasan layanan cathlab, penguatan pencegahan penyakit kronis, dan tata kelola yang efisien menjadi tiga hal yang saling berkaitan. Tiga langkah itu dibutuhkan agar peserta tetap bisa mendapatkan layanan cepat, sementara keberlanjutan program JKN tetap terjaga di tengah tingginya kebutuhan layanan jantung.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru