Biaya Mobil Listrik 2026 Ternyata Jauh Lebih Ringan, Selisihnya Bisa Ubah Pilihan

Author: Redaksi Android62

Simulasi penggunaan harian pada 2026 menunjukkan selisih biaya energi antara mobil listrik dan mobil bensin bisa sangat besar. Untuk pemakaian sekitar 1.500 kilometer per bulan, mobil bensin dengan konsumsi rata-rata 14 kilometer per liter membutuhkan biaya bahan bakar sekitar Rp1 jutaan per bulan.

Dalam skenario yang sama, mobil listrik dengan konsumsi energi sekitar 15 kWh per 100 kilometer hanya memerlukan sekitar Rp380 ribuan bila sebagian besar pengisian dilakukan di rumah. Perbedaan ini membuat biaya operasional menjadi faktor yang semakin menentukan dalam memilih kendaraan baru.

Selisih bulanan yang terus terasa

Bila dihitung dalam setahun, penghematan dari sisi energi dapat mencapai sekitar Rp8 juta hingga lebih dari Rp13 juta. Besarnya selisih itu bergantung pada jarak tempuh, tarif listrik, serta harga bahan bakar yang digunakan.

Semakin sering mobil dipakai, semakin besar pula peluang penghematan yang bisa diraih mobil listrik. Karena itu, banyak calon pembeli mulai melihat total biaya kepemilikan, bukan hanya harga di dealer.

Servis rutin juga memberi keuntungan

Selain energi, perawatan berkala ikut membedakan kedua jenis mobil tersebut. Mobil bensin membutuhkan penggantian oli mesin, filter oli, filter udara, busi, cairan pendingin, serta pemeriksaan sistem pembakaran secara rutin.

Mobil listrik memiliki konstruksi yang lebih sederhana karena tidak memakai oli mesin, tidak membutuhkan busi, tidak memiliki sistem knalpot, dan jumlah komponen bergeraknya jauh lebih sedikit. Dalam berbagai simulasi biaya kepemilikan, biaya servis mobil listrik bisa lebih rendah sekitar 30 hingga 50 persen dibanding mobil bensin untuk penggunaan yang setara.

Aspek Mobil Bensin Mobil Listrik
Biaya energi per bulan Sekitar Rp1 jutaan Sekitar Rp380 ribuan
Biaya servis Lebih banyak komponen rutin 30 hingga 50 persen lebih rendah
Perjalanan jarak jauh SPBU luas dan isi cepat Perlu dukungan pengisian daya

Meski begitu, ada komponen mahal pada mobil listrik yang tidak bisa diabaikan, yakni baterai traksi. Nilainya tinggi jika harus diganti, walau risikonya pada masa awal kepemilikan dinilai relatif kecil karena banyak produsen memberi garansi baterai hingga delapan tahun atau sekitar 160.000 kilometer.

Harga awal, pajak, dan nilai jual kembali

Mobil bensin masih unggul pada harga pembelian awal. Secara umum, harga mobil listrik masih sedikit lebih tinggi dibanding mobil bensin di kelas yang sama, meski selisihnya disebut terus mengecil.

Produksi lokal yang meningkat, pilihan model yang semakin banyak, serta insentif pemerintah membuat kendaraan listrik menjadi lebih kompetitif. Di sejumlah daerah, ada pula insentif khusus pajak kendaraan untuk mobil listrik, meski besarannya berbeda-beda sesuai aturan wilayah.

Di sisi lain, depresiasi tetap menjadi pertimbangan penting. Pasar mobil bensin bekas sudah terbentuk lama sehingga harga jualnya relatif lebih mudah diprediksi, sedangkan pasar mobil listrik bekas masih berkembang dan sangat dipengaruhi kondisi baterai, sisa masa garansi, serta perkembangan teknologi.

Karakter penggunaan ikut menentukan pilihan

Mobil listrik menawarkan torsi instan, kabin lebih senyap, dan regenerative braking yang membantu mengubah sebagian energi pengereman menjadi listrik untuk baterai. Karakter ini membuatnya menarik untuk mobilitas harian di kawasan perkotaan.

Namun mobil bensin tetap unggul untuk perjalanan jarak jauh karena jaringan SPBU tersebar luas dan pengisian bahan bakarnya hanya memakan waktu beberapa menit. Bagi pengguna yang sering bepergian ke daerah dengan SPKLU terbatas, mobil bensin masih terasa lebih praktis.

Pada akhirnya, pilihan antara mobil listrik dan mobil bensin tidak cukup ditentukan oleh harga katalog atau cicilan bulanan. Calon pembeli perlu menghitung energi, servis, pajak, asuransi, depresiasi, dan pola pemakaian harian agar keputusan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan.

Berita Terbaru