Banyak miliarder dunia ternyata tidak datang dari jalur bisnis murni. Jejak pendidikan mereka justru sering berawal dari jurusan yang melatih logika, analisis, dan kemampuan membaca peluang, seperti teknik, ilmu komputer, ekonomi, keuangan, bisnis, hukum, dan matematika.
Pola itu membuat pilihan jurusan kuliah tetap relevan bagi calon mahasiswa yang ingin membangun fondasi karier kuat. Di Jakarta, sejumlah kampus swasta juga masuk sorotan karena berada di daftar teratas pemeringkatan EduRank dan banyak dilirik sebagai tempat menempuh pendidikan tinggi.
Teknik dan ilmu komputer jadi dua jalur yang paling sering muncul
Di antara jurusan yang sering dikaitkan dengan miliarder, teknik menempati posisi penting. Elon Musk berada dalam kelompok ini, begitu juga Jeff Bezos yang meraih gelar teknik elektro dan ilmu komputer dari Princeton University.
Mukesh Ambani juga menempuh teknik kimia sebelum memimpin Reliance Industries. Bidang teknik dinilai menuntut cara berpikir sistematis dan mendorong kemampuan menciptakan inovasi baru dalam persaingan bisnis modern.
Ilmu komputer pun punya peran besar di era digital. Jurusan ini tidak hanya berkaitan dengan pengodean, tetapi juga pengembangan kecerdasan buatan dan fondasi berbagai produk teknologi yang dipakai miliaran orang.
Mark Zuckerberg dan Sergey Brin sama-sama berasal dari bidang ini. Reed Hastings, pendiri Netflix, juga mengawali perjalanan akademiknya dari ilmu komputer.
Ekonomi, keuangan, bisnis, hukum, dan matematika ikut melahirkan nama besar
Ekonomi dan keuangan menjadi jalur kuat bagi calon pebisnis besar karena erat dengan manajemen aset, penyusunan portofolio investasi, dan pengelolaan korporasi skala global. Warren Buffett menjadi figur ikonik dari bidang ini, disusul Ray Dalio sebagai pendiri Bridgewater Associates dan Jorge Paulo Lemann.
Bidang bisnis dan manajemen juga sering melahirkan tokoh besar. Michael Bloomberg memanfaatkan studi MBA untuk membangun Bloomberg LP, sementara Phil Knight dan Mark Cuban juga menempuh jalur akademik yang sama.
Hukum memberi keunggulan penting dalam negosiasi, penyusunan kontrak, dan kepatuhan regulasi. Charlie Munger, partner dekat Warren Buffett di Berkshire Hathaway, punya latar hukum, begitu pula Rob Walton yang memanfaatkan keahlian legalnya dalam ekspansi Walmart.
Matematika tidak kalah relevan untuk keputusan bisnis berskala besar. James Simons menerapkan pendekatan matematika dalam sistem perdagangan kuantitatif, sedangkan Steve Ballmer, mantan CEO Microsoft, merupakan lulusan matematika murni dari Harvard University.
Kampus swasta Jakarta yang banyak dilirik calon mahasiswa
Di Jakarta, BINUS menempati posisi pertama dalam daftar universitas swasta terbaik versi EduRank. Kampus ini berada di peringkat ke-15 nasional dan ke-320 di Asia.
Trisakti menyusul di posisi kedua, lalu UKI di urutan ketiga dan Unika Atma Jaya di posisi keempat. Setelah itu ada Mercu Buana di peringkat kelima, Esa Unggul di posisi keenam, Universitas Nasional di urutan ketujuh, Universitas Bakrie di posisi kedelapan, YARSI di peringkat kesembilan, serta Universitas Persada Indonesia Y.A.I yang menutup daftar sepuluh besar.
Jika dilihat lebih rinci, Trisakti berada di peringkat ke-46 nasional dan ke-669 Asia. UKI tercatat di posisi ke-49 nasional dan ke-792 Asia, sedangkan Atma Jaya berada di peringkat ke-52 nasional dan ke-844 Asia.
Mercu Buana menempati peringkat ke-53 nasional dan ke-853 Asia. Esa Unggul berada di posisi ke-62 nasional dan ke-1151 Asia, sementara Universitas Nasional mencatat peringkat ke-64 nasional dan ke-1211 Asia.
Universitas Bakrie berada di peringkat ke-70 nasional dan ke-1542 Asia. YARSI menempati posisi ke-76 nasional dan ke-1796 Asia, sedangkan Universitas Persada Indonesia Y.A.I berada di peringkat ke-84 nasional dan ke-2393 Asia.
Kombinasi jurusan yang melatih kemampuan analitis dan kampus yang punya reputasi kuat tetap menjadi pertimbangan utama bagi banyak calon mahasiswa. Data pemeringkatan ini memberi gambaran awal tentang kampus swasta Jakarta yang paling banyak masuk radar.
Source: www.cnbcindonesia.com






