Harga Bitcoin tetap bertahan di sekitar $77,000 ketika pasar menunggu sinyal terakhir dari Jerome Powell sebagai ketua Federal Reserve. Pada saat yang sama, sentimen di pasar kripto terlihat membaik karena tekanan jual dinilai mulai mereda dan ruang bagi risiko besar dari sisi makro semakin sempit.
Pergerakan ini membuat sebagian pelaku pasar menilai Bitcoin sedang memasuki fase yang lebih kuat. Arah harga yang relatif tenang juga dianggap memberi tanda bahwa aset kripto terbesar itu mulai menemukan area dukungan yang lebih stabil.
Tekanan jual mulai kehilangan tenaga
Zaheer Ebtikar, pendiri Split Research, menilai gelombang penjual yang sebelumnya cemas terhadap perubahan makro dan isu quantum sudah lebih dulu keluar dari pasar. Dalam catatannya kepada DL News, ia menyebut Bitcoin telah menemukan “lantai yang stabil” dan tidak lagi terlalu bergantung pada drama berbasis headline.
Pandangan itu sejalan dengan membaiknya minat risiko di pasar kripto secara lebih luas. Dalam sebulan terakhir, Bitcoin tercatat menguat hampir 15%, sementara total kapitalisasi industri kripto naik sekitar $400 miliar sejak Februari menurut data CoinGecko.
Meski begitu, pemulihan tersebut belum menutup seluruh tekanan yang masih ada. Bitcoin masih turun hampir 40% dari puncaknya pada Oktober, walaupun indeks S&P 500 sempat mencetak rekor baru pada April dan aset seperti emas serta minyak juga bergerak mendekati level tertinggi.
Dukungan datang dari investor institusional
Salah satu penopang utama lain datang dari aliran dana ke produk institusional. Data DefiLlama menunjukkan ETF spot Bitcoin di AS mencatat lebih dari $2 miliar arus masuk bersih pada April setelah juga membukukan inflow positif pada bulan sebelumnya.
Aliran dana seperti ini kerap dibaca sebagai tanda bahwa minat investor besar belum surut. Bagi pasar, arus masuk yang tetap positif membantu memberi dukungan tambahan bagi harga dan dapat memperkuat posisi Bitcoin di area yang lebih kokoh.
Kedalaman pasar juga ikut terbantu saat permintaan institusional tetap ada. Dalam kondisi seperti ini, volatilitas bisa lebih terkendali ketika sentimen global bergerak cepat mengikuti kabar makroekonomi.
Pasar menunggu arah dari Powell
Fokus berikutnya kini tertuju ke Washington, tempat Powell diperkirakan mempertahankan suku bunga tetap dalam konferensi pers terakhirnya sebagai ketua bank sentral. Ekonom Ed Yardeni bahkan menyebut momen itu sebagai “swan song” dan menilai Powell kemungkinan akan menekankan risiko inflasi yang meningkat.
Yardeni mengaitkan sikap itu dengan harga Brent yang kembali di atas $100 per barel ketika pembicaraan damai AS-Iran tertunda. Situasi tersebut membuat peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat menjadi lebih rumit, terutama karena pasar masih sensitif terhadap arah kebijakan moneter.
Bagi Bitcoin, kebijakan The Fed tetap menjadi faktor penting. Suku bunga yang lebih rendah biasanya lebih mendukung aset berisiko karena imbal hasil obligasi yang menurun dapat mengurangi daya tarik instrumen pendapatan tetap.
Transisi kepemimpinan The Fed ikut jadi sorotan
Masa jabatan Powell sebagai ketua akan berakhir pada 15 Mei, meski ia masih akan tetap menjadi gubernur Fed hingga Januari 2028. Di sisi lain, Komite Perbankan Senat dijadwalkan mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai penggantinya pada Rabu, dengan pemungutan suara akhir berpotensi menyusul tak lama kemudian.
Warsh dikenal terbuka pada penurunan suku bunga yang lebih cepat, tetapi ia juga menegaskan komitmen pada independensi dari tekanan politik. Presiden Donald Trump sendiri berulang kali mendorong pemangkasan yang lebih agresif dan sempat berselisih dengan Powell soal kebijakan moneter serta proyek renovasi The Fed.
Di tengah seluruh dinamika itu, Bitcoin bergerak relatif stabil pada perdagangan terakhir. Harga Bitcoin naik 0,5% dalam 24 jam menjadi $77,031, sementara Ethereum menguat 2,1% dalam beberapa jam ke $2,323.
